Para Bule pun Ngaji dan Menjadi “Kiai”

bule kiai

Nampaknya sangat perlu ditekankan pada pengguna Facebook ataupun media sosial lainnya agar menyempatkan diri untuk membaca buku. Bukan buku dalam arti online ataupun softcopy, namun buku dalam arti fisik. Banyak buku bagus yang semestinya jadi bacaan. Ketimbang mengandalkan sumber URL online dengan berbagai berita yang tidak jelas jeluntrungannya. Jangankan URL online, membaca buku pun sudah seharusnya dipilih sumber dan penulisnya. Dan buku yang akan saya bahas kali ini masuk dalam kategori yang bagus.

Buku bertajuk “Berguru ke Kiai Bule” ini merupakan kumpulan tulisan dari para Nahdliyin yang tengah dan rihlah (menempuh studi) S2 atau S3 di negara-negara Barat. Negara-negara Barat yang dimaksud adalah negara Amerika Serikat, Kanada, dan belahan Eropa yang terkenal sekuler-nya itu. Dengan penulisnya yang berasal dari berbagai bidang keilmuan dan tersebar di beberapa kota di Barat, kisah dalam buku ini menarik untuk diikuti.

Salah satu hal yang menarik adalah disamping para penulisnya menghadapi tantangan dalam berislam di negara sekuler, mereka juga masih sempat menjalankan amalan Ke-NU-an! Sebut saja membaca Diba’ saat memperingati Maulid Nabi beserta irama rancak dari pukulan rebana yang menyertai, hingga khatam ngaji kitab kuning.

Jangan dikira para Nahdliyin yang tengah rihlah (baca: menimba ilmu) ini ngaji kitab kuning dengan seorang Kiai asal pesantren di Jawa. Alih-alih mereka malah khatam ngaji kitab kuning dengan dipimpin oleh para profesor yang bule itu. Dan lagi, sebagian dari mereka adalah Non-Muslim! Betapa kita tidak boleh membatasi diri dalam belajar. Sebagaimana penuturan salah satu penulis yang mengungkapkan bahwa penguasaan keilmuan islam sang profesor malah melebihi dirinya yang justru dari kalangan Nahdlatul Ulama. Hal ini pula yang membuat sang penulis merasa bersyukur dapat menjalankan Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah ditengah-tengah sekularisme yang melingkupi masa studinya.

Buku terbitan Noura Books (Mizan Group) ini menyajikan kisah betapa tradisi belajar di Luar Negeri sejatinya adalah amalan yang juga pernah ditempuh oleh para ilmuwan Islam di masa silam. Sebut saja kisah para ilmuwan dari masa Abbasiyah, Umayyah, hingga Al-Andalus yang bertualang mencari ilmu. Tradisi rihlah (baca: menimba ilmu) inilah yang para penulisnya yakini sebagai warisan keilmuan dari para ulama pendahulu yang perlu untuk diteruskan.

Buku ini saya sarankan untuk dibaca. Bukan sekedar kisahnya, namun sebagai warga Indonesia secara umum, akan merasakan betapa Islam seharusnya rohmatan lil alamin. Bukan sebagaimana hasutan miring dari sebagian media Barat. Pun juga bukan seenak perut mengkafirkan orang yang berbeda paham. Terakhir, kisah-kisah pelajar Nahdliyin ini yang belum (dan tidak) banyak diekspos oleh tulisan di berbagai media online karya muslimin dari beragaman paham, yang tak jarang suka menyerang dan merasa benar sendiri. Kisah di dalam buku ini menyuguhkan, bahwa para Bule pun Ngaji dan menjadi “Kiai”. Selamat membaca. [Afif E.]

 

Informasi tentang buku ini:

Judul Buku: Berguru ke Kiai Bule: Serba-Serbi Kehidupan Santri di Barat

Penulis: Sumanto Al-Qurtuby, dkk.

Penerbit: Noura Books (Mizan Group)

Jumlah Halaman: 275

Share Button
Banner_468x60_biru312Banner_468x60_biru312
.:: Selamat dan Sukses Atas Kirab Resolusi Jihad dalam Rangka Memperimgati Hari Santri 22 Oktober 2015 ::. Selamat datang di website PCNU Gresik, kirimkan kritik dan saran anda ke kontak kami, dan untuk pemasangan iklan hubungi (031)3959597 atau melalui email ke pcnugresik@yahoo.co.id