NEGARA-NEGARA OKI CARI CARA TERBAIK KELOLA ZAKAT

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Bank sentral dan otoritas moneter negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sepakat untuk mencari cara terbaik kelola zakat dan wakaf. Pengelolaannya harus berstandar internasional dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah sehingga dapat menjadi sumber pendanaaan agar tercipta sistem keuangan yang sehat dan mendukung stabilitas keuangan.
Kesepakatan tersebut diambil dalam pertemuan bank-bank sentral dan otoritas moneter negara-negara OKI di Surabaya, Jakarta, pada Kamis (6/11). Pertemuan tersebut dihadiri oleh 26 bank sentral negara-negara OKI, termasuk Bank Indonesia (BI). Acara tersebut merupakan rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang digelar pada 3-9 November.
Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo mengatakan, pembahasan zakat sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki potensi yang besar dalam penghimpunan zakat namun realisasinya belum optimal. Potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 217 triliun per tahun, namun baru terkumpul sekitar Rp 3 triliun. Sementara wakaf di beberapa negara timur tengah telah dimanfaatkan sebagai sumber pendanaan.
“BI sebagai institusi sejak 1970 terus mendorong perkembangan ekonomi syariah. Perhatian BI adalah dari sisi besaran makro tapi kita juga meyakini ekonomi syariah harus dikembangkan,” ujar Agus dalam konferesi pers usai pertemuan dengan bank-bank sentral negara-negara OKI di Hotel J.W. Marriot, Surabaya, Kamis (6/11).
Dalam mencari best practices pengelolaan zakat, BI bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Pertemuan dengan Baznas dilakukan pada akhir Agustus lalu. Hasil dari pertemuan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan bank-bank sentral dan otoritas moneter negara-negara OKI.
Salah satu best practices yang didiskusikan adalah supervisi pengelolaan zakat. “Badan yang mengelola dan melakukaan supervisi harus dipisah. Kalau tidak, bisa terjadi stuktur yang kurang sehat,” ujarnya. Best practices lainnya adalah penggunaan basel core principal sehingga pengelolaan zakat sesuai prinsip yang terjadi di dunia.
Dalam pencarian best practices untuk zakat dan wakaf tersebut, bank-bank sentral juga meminta saran dari Bank Pembangunan Islam (IDB). “Tapi sekarang masih ditingkatkan peran zakat. Ke depan akan dibicarakan wakaf,” ujarnya.
OKI beranggotakan 57 negara. Namun, beberapa negara di Afrika membentuk satu bank sentral yang dinamakan West Afrika Monetary Union (WAMU) sehingga bank sentral negara OKI sebanyak 51.

Dari 51 bank sentral anggota negara OKI, hanya 26 bank sentral yang mengikuti pertemuan tahun ini. Bank-bank sentral tersebut berasal dari Aljazair, Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamerun, Mesir, Iran, Irak, Yordania, Kazakhstan, Libya, Malaysia, Maladewa, Mauritania, Maroko, Mozambik, Oman, Pakistan, Palestina, Qatar, Saudi Arabia, Sierra Leone, Somalia, Suriname, Turki, UAE, Uzbekistan, Yaman, WAMU, dan observer dari Thailand.

Pertemuan bank-bank sentral dan otoritas moneter negara-negara OKI tersebut merupakan bagian dari ISEF 2014 yang digelar pada 3-9 November.

Share Button
Banner_468x60_biru312Banner_468x60_biru312
.:: Selamat dan Sukses Atas Kirab Resolusi Jihad dalam Rangka Memperimgati Hari Santri 22 Oktober 2015 ::. Selamat datang di website PCNU Gresik, kirimkan kritik dan saran anda ke kontak kami, dan untuk pemasangan iklan hubungi (031)3959597 atau melalui email ke pcnugresik@yahoo.co.id