Ciuman Mbah Faqih Langitan untuk NU: Sebuah Kisah Kecil tentang Cinta Besar Seorang Ulama pada Jam’iyyah

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Potret KH. Abdullah Faqih Langitan. Foto: istimewa/NUGres

Ketika undangan PWNU jatuh ke lantai, tak disangka Kiai Faqih memungutnya dan menciumnya. Bukan karena kertasnya, tapi karena cinta dan takzimnya kepada Nahdlatul Ulama.


TOKOH | NUGres – Di sela kegiatan akademik Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik, bertempat di Darunnadwa Rusyaifah, Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Manyar, Selasa 13 Mei 2025, sebuah percakapan hangat mengalir di sudut ruangan.

Tiga sosok tengah duduk santai Dr. H. Ahmad Hakim Jayli (Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur sekaligus CEO TV9 Nusantara), Dr. Maftuh (Dekan Fakultas USWAH UNKAFA), dan Kepala Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Ahmad Zainuddin.

“Kiai Jayli,” Maftuh membuka percakapan setelah menyantap nasi kotaknya. “Panjenengan termasuk berkarir di NU sejak masih muda, njeh? tentu banyak pengalaman, ada cerita menarik kah yang bisa dibagikan ke kami?”.

Zainuddin menimpali cepat, “Iya, kang. Cerita yang nggak banyak orang tahu, tapi menyimpan pesan.”.

Dr. H. Ahmad Hakim Jayli bersana Dr. Maftuh dan Zainuddin di Mambaus Sholihin. Foto: NUGres
Dr. H. Ahmad Hakim Jayli bersana Dr. Maftuh (batik merah) dan Ahmad Zainuddin (batik kuning), dalam suatu acara akademik UNKAFA yang berlangsung di Darunnadwa Rusyaifah Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Manyar, Gresik. Foto: NUGres

Kang Kiai Jayli tersenyum tipis. Ia meletakkan minumnya perlahan, lalu memandang ke arah jendela, seolah sedang memanggil kembali kenangan dari kejauhan.

“Ada satu kejadian sederhana… tapi tak pernah bisa saya lupakan,” ujarnya perlahan. “Suatu hari, saya sowan ke ndalem Kiai Faqih (KH. Abdullah Faqih) Langitan. Saya dan teman dari Surabaya bawa amanah undangan resmi dari PWNU Jawa Timur untuk disampaikan ke Kiai Faqih.”

Maftuh dan Zainuddin mengangguk, memperhatikan dengan penuh minat.

“Saat bertemu, Kiai Faqih mempersilakan kami masuk ke ruang tamu kediaman beliau. Saya duduk tepat di depan dengan beliau. Undangan itu beliau terima dan ditaruh di atas pangkuannya sambil bersila, dan membuka obrolan santai. Nah, di tengah-tengah perbincangan itu, entah karena tangan bergeser atau tertiup angin, undangan itu jatuh ke lantai.”.

Kang Kiai Jayli berhenti sejenak. Membiarkan kami mengernyitkan kening serius. Dan mata Kang Jayli tampak berkaca.

“Dan apa yang beliau lakukan… sungguh di luar dugaan. Beliau langsung mengambil undangan itu, dan menciumnya. Ya, mencium selembar kertas undangan dari PWNU. Dengan tulus, dengan penuh takzim. Saya lihat sendiri. Semua tamu yang hadir saat itu terdiam. Tak ada yang berani berkata apa-apa. Kemudian surat itu ditaruh kembali di pangkuannya dengan tenang.”.

Zainuddin bergumam pelan, “Allahu Akbar…”

“Itu bukan sekadar kertas,” lanjut Pak Jayli lirih. “Di mata beliau, itu adalah simbol dari perjuangan para ulama, dari jam’iyyah yang beliau cintai sepenuh hati, Nahdlatul Ulama.”

Maftuh menunduk, merenungi kalimat itu.

“Itulah Kiai Faqih,” kata Pak Jayli menutup kisah. “Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu dan adab, tapi mempraktikkannya bahkan dalam hal yang paling sederhana. Dari cara beliau memperlakukan secarik undangan, kita belajar mencintai NU, bukan dengan slogan, tapi dengan laku dan penghormatan.”

Sejenak ruangan kembali hening. Lalu, perlahan suara tahlil lirih terdengar dari salah satu tamu, disusul “al-Fatihah” untuk Kiai Faqih yang telah wafat, namun tetap hidup dalam kenangan dan teladan.

Rushaifah, 13 Mei 2025

A Zainuddin/Maftuh

Leave a comment