Jelang Pelantikan dan Musyker ke-1 MWCNU Kebomas Gresik, Sowan dan Ziarah Masyayikh Jadi Upaya Memperkuat Spirit Khidmat

Jelang Pelantikan dan Musyker ke-1 MWCNU Kebomas Gresik, Sowan dan Ziarah Masyayikh Jadi Upaya Memperkuat Spirit Khidmat

GRESIK | NUGres – Sebagai rangkaian acara menjelang Pelantikan dan Musyawarah Kerja (Musyker) ke-1, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kebomas menggelar Rihlah Sowan dan Ziarah ke para masyayikh pada Ahad (25/5/2025).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar batiniah guna memperkuat spiritualitas dan memohon doa restu dari para ulama, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Perjalanan rihlah dimulai dengan sowan kepada KH. Ahmad Tajul Mafakhir putra dari KH. Usman Al Ishaqi di Probolinggo, dilanjutkan dengan silaturahmi ke Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong yang diasuh oleh KH. Mutawakkil Alallah.

Selanjutnya, rombongan berziarah ke makam KH. Abdul Hamid Pasuruan, salah satu tokoh sentral dalam sejarah pesantren dan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di Jawa Timur.

Sebanyak tiga armada bus mengangkut rombongan yang terdiri dari jajaran pengurus diantaranya Rais Syuriyah MWCNU Kebomas KH. Harun Azhar didampingi Ketua Tanfidziyah MWCNU Kebomas KH. M. Muchsin Munhamir, juga perwakilan badan otonom (banom), lembaga, pengurus ranting, dan warga Nahdliyin di wilayah MWCNU Kebomas.

Camat Kebomas, Tri Joko Efendi, SH., juga turut hadir dalam kegiatan ini. Seluruh peserta mengikuti rangkaian acara dengan penuh khidmat dan kekhusyukan.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Kebomas, KH. M. Muchsin Munhamir, menegaskan bahwa rihlah ini bukan sekedar kunjungan biasa, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk mengokohkan niat dan langkah para pengurus baru dalam mengemban amanah.

“Kami butuh nasihat dan restu dari para kiai, karena kami sadar bahwa khidmah di NU harus dilandasi dengan keikhlasan, istiqamah, dan kekuatan lahir batin. Kami ingin memulai amanah ini dengan hati yang bersih dan niat yang tulus,” ungkapnya.

Sementara itu, Rais Syuriyah MWCNU Kebomas, KH. Harun Azhar, mengajak warga NU untuk terus menumbuhkan tradisi sowan kepada para kiai yang masih hidup, di samping tetap menjaga kebiasaan ziarah ke makam para masyayikh.

“Ziarah ke ulama yang telah wafat itu sudah menjadi tradisi, dan tentu sangat penting. Namun, sowan kepada ulama yang masih hidup tak kalah pentingnya,” tuturnya.

Kiai Harun juga menjelaskan dengan sowan para ulama bisa langsung menimba ilmu, mendapat nasihat, dan meneladani akhlak. Hal ini, sambungannya, merupakan bagian dari menjaga sanad keilmuan dan ruh ke-NU-an. Ia juga menekankan pentingnya adab dalam berguru sebagai kunci keberkahan ilmu dalam tradisi Nahdlatul Ulama.

“Sowan itu menyambung rasa, menyambung sanad, dan menyambung semangat. Kita belajar bukan hanya dari apa yang mereka ajarkan, tapi juga dari cara hidup mereka. Dan itulah ruh Nahdlatul Ulama yang harus terus dijaga,” tegasnya.

Dengan restu para ulama, MWCNU Kebomas berharap dapat terus membumikan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dengan penuh semangat, keikhlasan, dan tanggung jawab.

Penulis: Luthfi Anshori 
Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment