GRESIK | NUGres – Kiai sepuh asal Sidayu, Kabupaten Gresik, KH Mohammad Farhan menegaskan bahwa silaturahmi tidak seharusnya bergantung pada momentum tertentu.
Menurutnya, meskipun bulan Syawal yang bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri kerap menjadi momen paling ramai untuk saling berkunjung, tradisi silaturahmi sejatinya dapat dilakukan kapan saja.
“Asline silaturahmi niku mboten terbatas pada bulan Syawal mawon, mboten. Setiap saat kulo panjenengan nggih saget silaturahmi, nggih saget ngelaksanaaken,” tuturnya dalam tayangan Shorts NUGres Channel.
Kiai yang juga memangku Pj Rais Syuriyah PCNU Gresik itu menjelaskan bila menyampaikan salam merupakan bagian sederhana dari praktik silaturahmi. Bentuknya bisa beragam, tidak harus selalu dengan pertemuan langsung.
“Dengan cara kita itu kirim salam, atau yang lain-lain,” imbuhnya dalam video yang disampaikan pada Jumat (20/3/2026), sehari menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa tujuan utama silaturahmi adalah mempererat hubungan kekeluargaan serta menjaga keakraban antar sesama.
Kiai Farhan yang dikenal istikamah mengampu pengajian kitab di Masjid Besar Kanjeng Sepuh Sidayu itu juga menyinggung adanya kendala dalam praktik silaturahmi di masyarakat.
“Nopo malih kangge nipun tiyang estri, nek gak atek nggowo gawan iku isin. Lah nek wong lanang kan mboten, sluman slumun slamet ngoten mawon,” kelakarnya.
Meski demikian, ia tidak mempermasalahkan tradisi membawa buah tangan atau “gawan” yang sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.
Namun, ia kembali menekankan bahwa yang terpenting adalah menjaga hubungan agar tidak terputus. Silaturahmi, menurutnya, tidak memiliki batasan waktu dan tidak hanya dilakukan saat hari raya.
“Sing penting hubungan kekeluargaan niki mboten sampai putus. Silaturahmi mboten enten batase pada hari raya mawon,” pungkas seraya kiai Farhan seraya menekankan kesungguhan niat dalam menjaga tali silaturahmi.
Editor: Chidir Amirullah

