Kolaborasi Dinkes dan PWI Gresik Perkuat Edukasi TBC di Lingkungan Pesantren

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Dinas Kesehatan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Gresik berkolaborasi memperkuat edukasi TBC di lingkungan pesantren, Selasa (9/12/2025). Foto: dok PWI Gresik/NUGres

GRESIK | NUGres – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gresik menggelar Seminar Kesehatan bertema “Jaga Diri, Jaga Lingkungan: Waspadai TBC Sebelum Menyebar”, di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, Selasa (9/12/2025).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan di lingkungan padat seperti pesantren.

Ketua PWI Gresik, Deni Ali Setiono, menyampaikan bila tahun ini ditemukan 2.916 pasien TBC di Kabupaten Gresik. Angka tersebut terus dipantau baik dari sisi pengobatan maupun pendampingan pasien. Ia menegaskan pentingnya peran media dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.

“Kasus sebanyak ini membutuhkan kepedulian banyak pihak. Media melalui PWI akan terus membantu menyebarkan informasi yang benar agar masyarakat paham bahwa TBC dapat dideteksi, diobati, dan disembuhkan,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Gresik, dr. Mukhibbatul Khusna, menjelaskan bahwa penanganan TBC merupakan program prioritas dalam Asta Cita Presiden. Kabupaten Gresik menargetkan eliminasi TBC pada 2028, dua tahun lebih cepat dari target nasional.

“Saat ini angka TBC di Gresik masih 999 per 100 ribu penduduk. Target kami pada 2025 adalah turun menjadi 65 per 100 ribu penduduk. Untuk mencapainya, kolaborasi semua pihak menjadi kunci,” tegasnya.

Berbagai strategi terus dijalankan, mulai dari pendampingan pasien, skrining TBC pada kasus stunting, hingga kerja sama dengan TP PKK di berbagai wilayah. Pemeriksaan dahak melalui TCM (Tes Cepat Molekuler) kini tersedia di 10 puskesmas dan dapat diakses secara gratis.

“Bukan hanya penemuan kasus, tetapi memastikan 90 persen pasien bisa sembuh. Seluruh pemeriksaan, pendampingan, hingga pengobatannya diberikan gratis,” tambahnya.

Ia juga menekankan bahwa meski TBC menular, masyarakat tidak perlu memberikan stigma. “Pencegahan dilakukan dengan menjaga diri dan lingkungan. Yang lebih penting, jangan mendiskriminasi pasien karena mereka membutuhkan dukungan untuk pulih,” ujarnya.

Bupati Gresik, H. Fandi Akhmad Yani (Gus Yani), menegaskan bahwa TBC merupakan persoalan serius yang harus diselesaikan bersama.

“TBC bisa sembuh. Yang diperlukan adalah dukungan keluarga, teman, dan lingkungan. Pemerintah melalui puskesmas telah menyiapkan alat dan tenaga untuk mendampingi pengobatan,” jelasnya.

Gus Yani juga menyoroti pentingnya kewaspadaan di lingkungan pondok pesantren yang dihuni santri dari berbagai daerah. Jika ditemukan kasus, langkah awal adalah segera melapor ke puskesmas terdekat untuk pemeriksaan dan pengobatan.

“Tidak hanya santri asal Gresik, santri dari luar daerah pun tetap akan kami layani. Kami melihat lokasi terdekat yang memiliki alat TCM, misalnya di Wringinanom, Driyorejo, atau Menganti,” terangnya.

Untuk mencegah penyebaran TBC di pesantren, Gus Yani menekankan pentingnya penerapan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), sanitasi yang baik, serta skrining rutin. Ia menambahkan bahwa Pemkab Gresik telah membentuk jejaring layanan TBC berbasis wilayah guna memudahkan pesantren melakukan pemeriksaan dini.

“Upaya pencegahan harus dilakukan bersama agar pesantren tetap menjadi lingkungan yang aman dan sehat,” pungkasnya.

Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment