BUNGAH | NUGres – Lailatul Kopdar ke-6 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Bungah (MWCNU) Bungah tahun 1447 Hijriah kembali digelar pada Rabu (25/2/2026) malam, di Aula KH Hasyim Asy’ari, Gedung MWCNU Bungah, Kabupaten Gresik. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Ainul Khalim didapuk sebagai Qori’.
Dalam pemaparannya, Dr. Ainul Khalim mewanti-wanti pentingnya mengambil hikmah dari setiap peristiwa sosial, terutama ketika terjadi konflik. Ia mengawali penjelasan dengan membahas bab “Aqtuluadaawa’alilummatda’a al-tafriq”, yang dibacakan secara tekstual sebelum diuraikan makna dan latar sejarahnya secara komprehensif.
Menurutnya, maqolah tersebut memiliki keterkaitan erat dengan pesan-pesan sebelumnya tentang urgensi persatuan dan kebersihan hati. “Penting bagi kita untuk mengambil hikmah dari suatu peristiwa. Peristiwa sosial tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses interaksi sosial yang panjang,” ujarnya.
Mengutip dawuh KH Hasyim Asy’ari dalam kitab Al-Misku Al-Faih, ia menjelaskan bahwa manusia hendaknya mampu memetik pelajaran, baik dari peristiwa yang dialami maupun dari pitutur para guru dan orang tua. Namun, ia menilai masyarakat kerap kali lebih mudah belajar dari pengalaman nyata dibandingkan nasihat yang telah disampaikan sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa konflik dan perpecahan sosial juga lahir melalui proses yang sama. Karena itu, kemampuan mengambil pelajaran dari setiap kejadian menjadi kunci untuk mencegah perpecahan di masa mendatang. “Dengan mengambil hikmah, kita dapat meminimalkan potensi konflik,” jelasnya.
Dr. Khalim juga menyoroti keterlibatan kadet dalam organisasi sebagai bentuk ikhtiar nyata untuk berbuat baik kepada sesama. Ia menekankan bahwa keberuntungan dan kejayaan organisasi sangat ditentukan oleh persatuan, kebersihan hati, serta keikhlasan antaranggota.
Sebagai contoh konkret, ia mengisahkan proses perintisan RSI Mabarrot MWCNU Bungah pada era 1990-an. Sejumlah tokoh yang terlibat di antaranya Kiai Ismail Ngaren, Kiai As’ad Thoha, dan KH Muhammad Hamdan. Menurutnya, persatuan dan ketulusan niat menjadi fondasi utama perjuangan para perintis tersebut. “Mereka berniat untuk umat, bukan untuk keuntungan pribadi,” ungkapnya. Ia meyakini bahwa iktikad tulus itu pada akhirnya mendapat pertolongan Allah Swt.
Ia pun terkenang penggalangan dana yang dilakukan secara sederhana. “Saya masih ingat, karena begitu ingin memiliki rumah sakit, Pak As’ad menjual kalender hingga ke Mengare. Saya diminta mengangkat kalender, sementara beliau menyetir berkeliling dari rumah ke rumah. Kalender diletakkan, uangnya diambil sebulan kemudian, dan itu pun kadang tidak langsung,” tuturnya.
Selain itu, Tahlil Akbar pertama MWCNU Bungah yang digelar di Masjid Kiai Gede Bungah dengan penceramah KH Hamid Baidlowi juga bertujuan menggalang dukungan pembangunan MWCNU.
Wakil Rektor Universitas Qomaruddin tersebut kemudian menarik benang merah antara maqolah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari tentang pentingnya mengambil hikmah dengan upaya meminimalkan perpecahan di tubuh organisasi. Ia juga menyinggung sejarah Nahdlatul Ulama, termasuk lahirnya gagasan Majelis Ishlah pada Muktamar ke-13 sebagai langkah strategis merawat persatuan dan mencegah konflik internal.
Penulis: Maghfur Munif
Editor: Chidir Amirullah

