Lailatul Kopdar ke-7 MWCNU Bungah Gresik: Gus Kirom Uraikan Jalan Takwa hingga Hakikat Tasawuf

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Lailatul Kopdar pertemuan ke-7 yang diselenggarakan oleh MWCNU Bungah Gresik berlanjut pada Kamis (26/2/2026) malam, Gus Moh. Ihsanul Kirom menguraikan jalan ketakwaan hingga hakikat tasawuf. Foto: dok LTN MWCNU Bungah/NUGres

BUNGAH | NUGres – Kamis (26/2/2026) malam, Aula KH. Hasyim Asy’ari Gedung MWCNU Bungah kembali dipenuhi jamaah dalam rangkaian Lailatul Kopdar Ramadan 1447 Hijriah. Majelis dibuka dengan lantunan hamdalah dan shalawat, menghadirkan suasana khidmat yang menenangkan hati. Dalam kesempatan tersebut, tausiah disampaikan oleh Gus Moh. Ihsanul Kirom dengan pembahasan mendalam tentang tasawuf sebagai jalan penyucian jiwa.

Mengawali pemaparannya, ia menegaskan bahwa Islam berdiri di atas tiga pilar utama keilmuan, yaitu ilmu syari’at, ushuluddin (akidah), dan tasawuf. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Syari’at mengatur aspek lahiriah manusia, akidah meneguhkan keyakinan, sedangkan tasawuf berperan membersihkan batin. Tanpa tasawuf, ibadah berpotensi kehilangan ruhnya. Sebaliknya, tanpa syari’at, semangat spiritual dapat kehilangan arah.

Memperjelas hakikat tasawuf, Gus Kirom demikian akrab disapa, mengutip beberapa pendapat para ulama, salah satunya Imam Junaid al-Baghdadi yang menyatakan “أَن تَكُونَ مَعَ اللَّهِ بِلَا عَلَاقَةٍ”, yang berarti “Engkau bersama Allah tanpa keterikatan dengan selain-Nya (urusan duniawi).” Definisi ini menurutnya menegaskan bahwa inti tasawuf yaitu menghadirkan Allah dalam setiap keadaan, tanpa hati bergantung pada selain-Nya.

Selaras dengan hal tersebut, Gus Moh. Ihsanul Kirom kemudian menguraikan langkah-langkah menuju takwa. Di antaranya adalah tidak menyekutukan Allah (tidak syirik), menjauhi maksiat, tidak mengonsumsi sesuatu yang membahayakan, serta meninggalkan sikap berlebihan dalam segala hal. Keseluruhan sikap ini bermuara pada qana’ah, yakni merasa cukup atas apa yang Allah anugerahkan.

Pengurus PAC GP Ansor Bungah itu menegaskan bahwa tidak ada kehidupan yang lebih baik selain bersama orang-orang yang hatinya condong kepada takwa dan merasa bahagia dalam zikir. Lingkungan yang dipenuhi kecintaan kepada Allah akan menjaga hati tetap hidup dan terarah.

Lebih lanjut, dalam pembahasan kitab Al-Misku al-Fā’ih Gus Kirom menjelaskan bahwa pokok tasawuf mencakup lima perkara: bertakwa kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan; mengikuti sunnah dalam ucapan dan perbuatan; berpaling dari makhluk, baik ketika dipuji maupun dicela; ridha kepada Allah dalam keadaan lapang maupun sempit; serta kembali kepada Allah dalam kondisi senang maupun susah.

Mengutip pendapat Abu Bakar al-Maraghi, ia lantas menyampaikan bahwa orang yang berakal adalah “من دبّر أمر الدنيا بالقناعة”, yakni orang yang mengatur urusan dunianya dengan qana’ah. Orang yang demikian, akan lebih mudah mendahulukan kepentingan akhirat dibanding tenggelam dalam ambisi duniawi yang tiada batas.

Sikap qana’ah inilah yang kemudian mengantarkan seseorang pada kedewasaan ruhani. Dari sini tampak bahwa inti tasawuf bermuara pada keikhlasan. Beliau menegaskan bahwa setiap perbuatan hendaknya dilandasi karena Allah SWT, bukan karena makhluk. Melakukan atau meninggalkan sesuatu tidak seharusnya didasarkan pada penilaian manusia, melainkan semata-mata demi meraih ridha Allah. Inilah ruh tasawuf yang sesungguhnya.

Malam itu, nasihat tentang takwa dan qana’ah terasa begitu menyejukkan. Di tengah hiruk-pikuk dunia, tasawuf mengajarkan untuk menata dunia secukupnya, membersihkan hati sebaik-baiknya, dan menggantungkan seluruh urusan hanya kepada Allah SWT.

Ramadan pun kembali menjadi madrasah jiwa, tempat kita belajar bahwa kemuliaan bukan terletak pada banyaknya harta atau pujian manusia, melainkan pada hati yang bersih dan langkah yang lurus menuju-Nya.

Penulis: Amelia Rahmawati & Siti Sarah
Editor: Maghfur Munif

Leave a comment