Lailatul Kopdar MWCNU Bungah Gresik Pertemuan ke-4: Ustadz Musthofa Ungkap Pentingnya Persatuan dan Menata Hati

Maghfur Munif - NUGres Maghfur Munif - NUGres
Lailatul Kopdar MWCNU Bungah Gresik pertemuan ke-4 pada Senin (23/2/2026), Ketua LDNU MWCNU Bungah, Ustadz Musthofa, mewedar pentingnya persatuan dan menata hati. Foto: dok LTN MWCNU Bungah/NUGres

BUNGAH | NUGres – Lailatul Kopdar MWCNU Bungah berlanjut dalam pertemuan keempat, mengisi Hari ke-5 Ramadan 1447 Hijriah. Pada pertemuan yang berlangsung Senin (23/2/2026), Qori’ Ustad Ahmad Musthofa memaparkan pentingnya persatuan dan menata hati, terutama dalam menghidupkan organisasi NU.

Membaca bab Irtibadul Qulubi dalam Kitab Al-Miskul Al-Faih, Ust. Ahmad Musthofa dengan jelas dan gamblang mengupas keutamaan serta hikmah dari manajemen hati dalam berorganisasi, utamanya karena hati merupakan unsur paling penting dalam persatuan. Menurutnya, tanpa hati yang sehat—akan sulit untuk bersatu dan berorganisasi.

Setelah sepintas membaca kitab yang merupakan kumpulan dawuh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Ketua LDNU MWCNU Bungah itu mengatakan bila orang hidup di dunia ini tidak mungkin hidup sendiri. Karena kalau hidup sendiri, tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhan.

“Berarti, kalau orang itu tidak mau berkumpul, bersatu, maka tidak akan bisa memenuhi kebutuhan,” jelas Ust. Musthofa, sambil mencontohkan songkok yang ia kenakan, tidak mungkin terpenuhi jika tidak ada tukang sol, penjahit, dan seterusnya. Karena itu, ditegaskannya kalau manusia adalah makhluk sosial.

Ia juga menjelaskan perumpamaan hati yang seperti cairan spirtus, sebagaimana yang dikatakan gurunya, Kiai Shofwan. Jika cairan spirtus itu terkena kulit, dan kulit itu tidak apa-apa, maka tidak akan terasa apa-apa. Namun jika ada luka, maka itu akan sangat perih.

“Manusia juga begitu, jika tidak ada perasaan sakit hati, meskipun ada orang ngomong apapun tidak akan tersinggung. Namun, jika ada sakit hati, maka akan terasa sakit hati,” jelasnya.

Setelah membaca dan menterjemahkan secara letterjick, Ust. Ahmad Musthofa kemudian menambahkan keterangan mengenai hati dan persatuan manusia dengan mengutip penjelasan Imam Al-Ghazali, bahwa untuk bisa mencapai kebahagiaan hakiki, manusia harus makrifatullah, bukan dari harta, jabatan atau persoalan duniawi lainnya. Contohnya, tidak semua orang kaya itu bahagia.

“Hati itu ada yang qolbun salim, qolbun maridh, dan qolbun mayyit. Qolbun salim itu yang sehat, dan hatinya luas. Qolbun maridh itu yang hatinya sakit. Qolbun mayyit, hatinya tertutup… jika sudah qolbun maridh atau mayyit, maka kebaikan yang muncul akan menjadi aib,” paparnya.

Di akhir, setelah Ust. Musthofa mengajak peserta melakukan muhasabah dan menata hati, ia mendorong agar jamaah terus melakukan evaluasi lebih baik. Dalam organisai, ia juga mendorong untuk tidak mudah kendor dalam ‘ngeramut’ NU.

“MWCNU (Bungah) maju seperti ini, diantaranya adalah karena ada persatuan,” ungkapnya. Jika hati sudah ditata, niat ditata, maka itu akan menjadi bahan bakar yang utama dalam melangkah. “Pujian itu adalah racun, cacian itu adalah merupakan obat,” pungkasnya.

Penulis: Maghfur Munif
Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment