Lailatul Kopdar MWCNU Bungah Gresik: Ustadz Nailul Muna Gelorakan Penguatan Ukhuwah dan Silaturahim

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Lailatul Kopdar Ramadan 1447 yang digelar MWCNU Bungah Gresik, Sabtu (21/2/2026) malam, Ustadz Nailul Muna menyerukan kebangkitan ukhuwah dan kekuatan silaturahim di tengah perbedaan. Foto: dok LTN MWCNU Bungah/NUGres

BUNGAH | NUGres – Malam Ramadan selalu menghadirkan ketenangan yang berbeda. Udara terasa lebih sejuk, hati lebih mudah tersentuh, dan langkah kaki menuju majelis ilmu terasa lebih ringan. Suasana itulah yang menyelimuti Aula KH. Hasyim Asy’ari MWCNU Bungah, Kabupaten Bungah, pada Sabtu 21 Februari 2026 M bertepatan dengan 3 Ramadan 1447 H. Selepas salat Tarawih, ratusan kader dan jamaah dari berbagai badan otonom Nahdlatul Ulama berkumpul dalam kegiatan Lailatul Kopdar yang berlangsung penuh khidmat, hangat, dan sarat makna.

Kegiatan ini bukan sekadar forum silaturahmi biasa. Lailatul Kopdar menjadi ruang perjumpaan hati, tempat bertemunya semangat persaudaraan, keilmuan, dan komitmen kebersamaan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah. Hadir sebagai pemateri, Ustadz Nailul Muna menyampaikan tausiyah yang menggugah kesadaran jamaah tentang urgensi menjaga dan menyambung tali silaturahmi di tengah dinamika kehidupan sosial yang semakin kompleks.

Dalam penyampaiannya, ia menekankan bahwa silaturahmi adalah ajaran luhur dalam Islam yang memiliki dampak besar, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi kehidupan bermasyarakat. Silaturahmi, menurut Ustadz Nailul, bukan sekadar tradisi saling berkunjung atau berjabat tangan, melainkan bentuk nyata ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan itu tidak cukup hanya diwujudkan melalui ibadah ritual semata, tetapi juga melalui sikap dan perilaku dalam menjaga hubungan baik dengan sesama.

Ustadz Nailul juga mengingatkan bahwa salah satu penyebab rapuhnya persatuan umat adalah lunturnya semangat ukhuwah. Perbedaan pilihan, pandangan, dan pendapat sering kali menjadi celah munculnya prasangka dan perpecahan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang harus disikapi dengan kedewasaan, bukan dengan permusuhan.

Lebih jauh, ia menegaskan bahaya sifat munafik yang dapat merusak sendi-sendi persaudaraan. Salah satu ciri orang munafik, jelas beliau, adalah gemar memecah belah dan memutus tali silaturahmi. Hati yang tertutup oleh kebencian dan ego akan sulit menerima nasihat dan kebenaran. Bahkan, orang-orang yang merusak keharmonisan dan memutus hubungan antarsesama disebut sebagai golongan yang mendapatkan laknat dari Allah SWT. Pesan ini disampaikan dengan penuh ketegasan namun tetap menyentuh, membuat jamaah larut dalam perenungan mendalam.

“Jangan sampai kita aktif dalam organisasi, tetapi lalai menjaga hati,” pesan Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah MWCNU Bungah itu. Dikatakannya, organisasi dan gerakan akan kuat bukan hanya karena banyaknya program, tetapi karena kokohnya persaudaraan di antara anggotanya. Tanpa silaturahmi yang terjaga, kebersamaan akan mudah goyah.

Selain menekankan pentingnya ukhuwah, pengasuh Pondok Pesantren Pondok Pesantren Robithotul Ashfiya’ itu juga mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperbanyak doa dalam setiap keadaan. Doa, menurutnya, adalah jembatan komunikasi antara hamba dan Tuhannya. Banyak orang yang rajin berdoa ketika tertimpa musibah, tetapi lupa bersujud dalam doa saat berada dalam kelapangan dan kebahagiaan. Padahal, berdoa dalam kondisi lapang adalah wujud syukur dan tanda kedekatan sejati kepada Allah SWT.

Ramadan, paparnya, merupakan momentum terbaik untuk memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan. Bulan suci ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang membersihkan hati dari iri, dengki, dan prasangka buruk. Ramadan adalah madrasah ruhani yang mengajarkan kesabaran, empati, dan persatuan.

Kegiatan Lailatul Kopdar ini diikuti oleh IPNU-IPPNU dari PR Bedanten, PR Sukowati, PR Sungonlegowo, PR Ngaren, serta PAC Bungah. Turut hadir GP Ansor dari PR Bedanten, PR Sukowati, PR Sungonlegowo, dan PAC Bungah, serta Fatayat NU dari PR Bedanten, PR Sukowati, PR Sungonlegowo, PR Ngaren, dan PAC Bungah. Kehadiran lintas banom dan lintas generasi ini menjadi simbol kuatnya sinergi dan semangat kebersamaan di lingkungan MWCNU Bungah.

Suasana acara berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah menyimak setiap pesan yang disampaikan dengan perhatian dan antusiasme tinggi. Sesekali terdengar tawa ringan yang mencairkan suasana, namun tetap dalam bingkai adab dan penghormatan terhadap majelis ilmu. Keakraban yang terjalin malam itu menjadi gambaran nyata bahwa ukhuwah bukan hanya slogan, tetapi sesuatu yang hidup dan dirasakan bersama.

Lailatul Kopdar ini menjadi pengingat bahwa kekuatan umat tidak terletak pada banyaknya perbedaan yang diperdebatkan, melainkan pada kemampuan untuk tetap bersatu dalam perbedaan tersebut. Di tengah tantangan zaman yang kian beragam, persatuan dan silaturahmi adalah benteng utama yang harus dijaga.

Di akhir kegiatan, harapan pun mengalir agar pesan-pesan yang telah disampaikan tidak berhenti sebagai catatan malam Ramadan semata. Setiap peserta diharapkan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari—menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bijak dalam menyikapi perbedaan, serta lebih aktif dalam menyambung silaturahmi.

Ramadan 1447 H di Bungah bukan hanya tentang rangkaian ibadah, tetapi juga tentang menguatkan hati dan merajut kembali tali persaudaraan. Melalui Lailatul Kopdar ini, semangat ukhuwah kembali diteguhkan: bahwa di atas segala perbedaan, persaudaraan adalah kekuatan, dan dalam setiap kebersamaan, tersimpan keberkahan yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Penulis : Ahmad Mubarok & Ahmad Nur Muhammad Ali Hasby
Editor: Maghfur Munif

Leave a comment