Lailatul Kopdar MWCNU Bungah Gresik: Ustadz Rosyikin Tegaskan Bahaya Diam Berkepanjangan dan Serukan Penguatan Silaturahim

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Lailatul Kopdar Ramadan 1447 yang digelar MWCNU Bungah Gresik, Ahad (22/2/2026) malam, Ustadz Rosyikin Tegaskan Bahaya Diam Berkepanjangan dan Serukan Penguatan Silaturahim. Foto: dok LTN MWCNU Bungah/NUGres

BUNGAH | NUGres – Hujan deras mengguyur wilayah Bungah pada Ahad (22/2/2026) malam, bertepatan dengan 4 Ramadan 1447 H. Langit seolah menumpahkan seluruh isinya, namun langkah para kader tak surut sedikit pun. Di bawah payung dan jas hujan, mereka tetap menuju Aula KH. Hasyim Asy’ari, tempat digelarnya Lailatul Kopdar MWCNU Bungah. Karena bagi seseorang yang merindukan majelis ilmu, cuaca bukan lagi penghalang.

Kegiatan yang berlangsung di Aula KH. Hasyim Asy’ari tersebut berjalan khidmat dan penuh kehangatan. Aula dipenuhi jamaah dari berbagai banom dan tingkatan. Ramadhan benar-benar menjadi ruang pertemuan jiwa, tempat nasihat turun perlahan, menyentuh relung yang paling dalam.

Tausiah disampaikan oleh Ustadz Muhammad Rosyikin, dengan penyampaian yang tegas namun tetap teduh, mengangkat persoalan yang kerap dianggap sepele, tetapi berdampak besar: saling mendiamkan.

Ust. Rosyikin menegaskan bahwa sikap saling mendiamkan, terlebih jika berlangsung lebih dari tiga hari, termasuk dalam kategori dosa besar. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan dengan penuh kesungguhan, “Jangan sampai kita saling diam dengan orang lain sampai tiga hari, karena itu termasuk dosa besar,” ujarnya. Penegasan tersebut bukan sekadar nasihat biasa, melainkan peringatan moral agar setiap individu senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama.

Menurutnya, kebiasaan tidak menyapa, bersikap abai, hingga membiarkan komunikasi terputus kerap kali bermula dari persoalan-persoalan yang tampak sepele. Rasa tersinggung karena ucapan yang kurang berkenan, kesalahpahaman akibat informasi yang tidak utuh, atau sekadar ego yang enggan mengalah sering menjadi pemicu awal. Hal-hal kecil inilah yang apabila tidak segera disadari dan diselesaikan, dapat berkembang menjadi jarak emosional yang semakin melebar.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak setiap orang untuk lebih bijak dalam menyikapi perbedaan dan konflik. Menahan diri untuk tidak memperpanjang diam, membuka ruang dialog, serta berani meminta maaf maupun memberi maaf merupakan langkah sederhana yang dapat mencegah perpecahan. Sebab pada hakikatnya, menjaga hubungan baik bukan hanya soal etika sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual setiap insan.

Selanjutnya, ia menekankan bahwa Islam mengajarkan adab dalam berbicara sekaligus adab dalam diam. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah pilihan yang bijak. Akan tetapi, diam yang dipelihara oleh amarah dan dibiarkan berlarut-larut justru dapat menjadi bara dalam sekam. Terlebih dalam konteks jam’iyah, persoalan tidak akan selesai dengan saling menghindar. Sesuatu yang berpotensi menimbulkan madhorot tidak boleh dibiarkan, melainkan harus dikomunikasikan dengan santun dan penuh tanggung jawab.

Ust. Rosyikin juga mengingatkan bahaya emosi yang tidak terkendali. Ketika amarah lebih dahulu berbicara, seseorang mudah mencurahkan persoalan ke media sosial. Padahal, apa yang telah tersebar sering kali melahirkan penafsiran yang beragam dan memperkeruh suasana. Karena itu, setiap persoalan hendaknya diselesaikan melalui musyawarah. Tidak semua hal layak diumbar; sebagian cukup diselesaikan dengan duduk bersama dan hati yang dilapangkan.

Dalam majelis tersebut, ia mengajak para kader untuk memperkuat empat pilar pengabdian dalam jam’iyah: Silatul Ilmi sebagai upaya menjaga kesinambungan keilmuan, Silatul Fikr untuk menyelaraskan arah dan pemikiran, Silatul Amal sebagai kerja nyata bagi kemaslahatan umat, serta Silaturahmi sebagai simpul yang merekatkan semuanya. Tanpa silaturahmi, gagasan akan kehilangan makna; tanpa komunikasi, perjuangan akan berjalan pincang.

Momentum 14 Februari turut disinggung sebagai tanggal kelahiran KH. Hasyim Asy’ari. Jamaah diajak untuk lebih mengenang dan meneladani perjuangan beliau daripada larut dalam perayaan yang tidak jelas manfaatnya. Sebagai ulama yang mengikuti manhaj Ibnu Hajar al-Asqalani, KH. Hasyim Asy’ari mewariskan fondasi keilmuan dan adab yang kokoh. Menjaga komunikasi, merawat persaudaraan, dan menempatkan etika di atas segalanya adalah bagian dari merawat warisan tersebut.

Ramadan pun ditegaskan sebagai madrasah jiwa. Di bulan inilah hati ditempa, ego dilembutkan, dan niat diluruskan kembali. Menjadi kader NU bukan sekadar menjalankan program organisasi, melainkan menjaga amanah para ulama. Kesetiaan dalam kebersamaan, ketulusan dalam khidmah, dan kelapangan hati dalam menyelesaikan perbedaan adalah wujud nyata dari istiqamah itu sendiri.

Kegiatan Lailatul Kopdar ini diikuti oleh IPNU-IPPNU dari PR Bungah, PR Sidokumpul, PK SMA Assa’adah, PR Pereng Kulon, serta PAC Bungah. Turut hadir GP Ansor NU dari PR Bungah, PR Sidokumpul, PR Melirang, dan PAC Bungah, serta Fatayat NU dari PR Bungah, PR Sidokumpul, PR Pereng Kulon, dan PAC Bungah. Kehadiran lintas banom dan lintas tingkatan ini menjadi simbol kuatnya sinergi dan semangat kebersamaan di lingkungan MWCNU Bungah.

Malam semakin larut ketika majelis ditutup. Hujan masih turun membasahi pelataran Aula KH. Hasyim Asy’ari, seakan menegaskan pesan yang baru saja disampaikan: bahwa yang perlu dibasahi bukan hanya bumi, tetapi juga hati yang sempat mengeras oleh ego dan gengsi. Nasihat tentang bahaya saling mendiamkan terasa menggema, mengajak setiap diri untuk pulang dengan keberanian memperbaiki yang retak.

Sebab persaudaraan tidak dijaga oleh siapa yang paling keras mempertahankan gengsi, melainkan oleh siapa yang lebih dulu melembutkan hati. Yang berani menyapa, yang siap memaafkan, yang memilih berbicara dengan adab. Dari langkah sederhana itulah silaturahmi kembali terikat, dan di situlah kita bisa menemukan keberkahan.

Penulis: Amelia Rahmawati & Siti Sarah
Editor: Maghfur Munif

Leave a comment