Lailatul Kopdar Ramadan 1447 H di MWCNU Bungah Gresik, Ki Wasil Ahmad Madyani Tegaskan Sikap Tidak Diam terhadap Kebatilan

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Pertemuan ke-12 Lailatul Kopdar Ramadan 1447 Hijriah di MWCNU Bungah, Selasa (3/3/2026), Ki Wasil Ahmad Madyani menegaskan sikap tidak diam terhadap kebatilan. Foto: dok LTN MWCNU Bungah/NUGres

BUNGAH | NUGres – Lailatul Kopdar Ramadan 1447 H yang digelar pada Selasa (3/3/2026) di Aula KH. Hasyim Asy’ari berlangsung khidmat dan penuh penghayatan. Dalam kesempatan tersebut, Ki Wasil Ahmad Madyani menyampaikan tema “لا نسكت على الباطل” – “Kita tidak akan diam terhadap kebatilan.”.

Dijelaskannya, bahwa pesan tersebut dikutip dari pidato Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari pada Muktamar ke-15 di Surabaya, 10 Dzulqa’dah 1359 H / 9 Desember 1940 M.

Ia menambahkan, bahwa umat Islam wajib berjihad untuk menghidupi agama Allah. Menurutnya, jihad tidak semata dimaknai sebagai perang, melainkan berjuang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki demi tegaknya nilai-nilai kebenaran. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk membela agama-Nya, dan setiap perjuangan memiliki medan serta senjatanya masing-masing.

Ki Wasil Ahmad Madyani menerangkan bahwa senjata para ulama adalah ilmu dan pena mereka, sebagaimana senjata para raja adalah pedang dan tombaknya. Karena itu, beliau mengingatkan bahwa para ulama tidak boleh meninggalkan ilmunya, sebagaimana seorang pemimpin tidak boleh meninggalkan tanggung jawabnya.

Lebih lanjut, disampaikan bahwa siapa saja yang membela agama Allah dan menampakkannya, niscaya Allah akan menjaganya dengan penjagaan dari Dzat yang tidak pernah tidur, memuliakannya dengan kemuliaan yang tidak akan pernah hina, serta menaunginya dengan keberkahan yang tak akan sirna. Dalam kitab tersebut juga terdapat firman Allah dalam QS. Al-Furqan ayat 20: “Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?”.

Menurut Ki Wasil Ahmad Madyani, sikap tidak diam terhadap kebatilan bukan berarti bertindak tanpa arah. Ia menekankan bahwa ketegasan harus dibingkai dengan ilmu dan adab. Ulama adalah ujung tombak penjaga umat melalui fatwa dan nasihatnya, bukan melalui provokasi.

Pegiat turots itu juga mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa akhlak yang baik tidak akan menghadirkan kemuliaan, kepandaian harus berjalan seiring dengan integritas dan tanggung jawab moral.

Salah satu bagian yang paling membekas adalah ketika Ki Wasil Ahmad Madyani mengulas tentang adab. Ibaratkan ilmu tanpa adab seperti lampu tanpa kaca pelindung; apinya mudah padam tertiup angin. Karena itu, ia menekankan pentingnya ta’dzim kepada guru dan kitab yang dipelajari.

Guru, menurutnya, bukan sekadar pengajar, tetapi pendidik yang membentuk pribadi peserta didiknya agar menjadi lebih baik. Ia juga mengingatkan agar para ulama dan penuntut ilmu tidak enggan menyebarkan ilmunya, sebab ilmu yang tidak diamalkan dan tidak dibagikan akan kehilangan keberkahannya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Lesbumi di MWCNU Bungah itu turut menyampaikan dawuh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, “Sopo-sopo sing nguripi NU bakal tak akoni santriku pas dino kiamat.” Siapa saja yang menghidupi Nahdlatul Ulama akan diakui sebagai santrinya kelak di hari kiamat. Pesan itu baginya, menjadi penguat bahwa perjuangan merawat jam’iyah adalah bagian dari membela agama Allah.

Kegiatan ini juga diikuti oleh berbagai unsur badan otonom di wilayah Bungah. Dari jajaran IPNU dan IPPNU tingkat PR hadir PR Masangan, PR Grogol, PR Ngaren, serta PK SMA Nusantara Bungah, sementara dari tingkat PAC Bungah diwakili oleh Departemen Kaderisasi dan Departemen Dakwah.

Kemudian dari GP Ansor turut hadir PR Masangan, PR Sungonlegowo, PR Sukorejo, serta PAC Bungah. Adapun Fatayat NU dihadiri oleh PR Masangan, PR Ngaren, PR Dukuh, PR Kaliwot, serta PAC Bungah.

Melalui Lailatul Kopdar ini, Ki Wasil Ahmad Madyani kembali meneguhkan bahwa sikap tidak diam terhadap kebatilan harus diwujudkan dengan ilmu, dijaga dengan adab, serta dilandasi keyakinan bahwa selama kita menolong agama Allah, maka Allah pula yang akan menolong kita.

Penulis : Amelia Rahmawati & Siti Sarah
Editor: Maghfur Munif

Leave a comment