BUNGAH | NUGres – Lailatul Kopdar Ramadan 1447 H yang digelar MWCNU Bungah pada Sabtu (28/2/2026) di Aula KH. Hasyim Asy’ari berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Dalam tausiah yang disampaikan, Ustadz Ahmad Shodiq mengulas tiga pokok pembahasan utama, yakni “الغاية التي ترمي إليها نهضة العلماء” (tujuan yang hendak dicapai oleh Nahdlatul Ulama), “حافظوا على نهضة العلماء” (menjaga dan merawat Nahdlatul Ulama), serta “المحافظة على الأدب مع الله ورسوله والمشايخ والإخوان” (menjaga adab kepada Allah, Rasul-Nya, para masyayikh, dan sesama). Ketiga poin tersebut menjadi benang merah dalam penguatan jam’iyah Nahdlatul Ulama di tengah dinamika zaman.
Menjelaskan pembahasan pertama, “الغاية التي ترمي إليها نهضة العلماء”, Ust. Ahmad Shodiq menguraikan tujuan didirikannya Nahdlatul Ulama sebagai sebuah jam’iyah. Diterangkannya bahwa “Al-jam’iyah” berarti wadah atau organisasi tempat berhimpunnya para ulama, sedangkan kata “Nahdlatul” bermakna kebangkitan, yakni kebangkitan untuk kembali menyatukan barisan ulama dalam satu ikatan yang kokoh. Dengan adanya wadah tersebut, perjuangan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terhimpun dalam barisan yang terarah dan memiliki tujuan yang sama.
Menambahkan dari ulasan tersebut, Ust. Shodiq menegaskan bahwa tujuan didirikannya jam’iyah NU bukan sekadar membariskan para ulama, melainkan mengikat mereka dalam satu wadah agar perjuangan memiliki arah dan kekuatan bersama. Persatuan dan kesatuan merupakan pusaka sekaligus senjata yang kuat. Tanpa adanya wadah, perjuangan akan berjalan sendiri-sendiri dan sulit berkembang. Dengan persatuan, tujuan bersama dapat dicapai, baik dalam urusan keagamaan, organisasi, maupun kebangsaan.
Sebagaimana dikutip dalam kitab Al-Misku Al-Faih yang dibacakan oleh Ust Shodiq, “Sesungguhnya tujuan yang ingin dicapai oleh jam’iyah ini adalah menyatukan barisan para ulama dan mengikat mereka dalam satu ikatan.” Persatuan dan kesepakatan diibaratkan sebagai senjata kuat yang berjalan pada satu rel menuju tujuan yang sama, menggambarkan pentingnya kekompakan dalam menjaga arah perjuangan.
Pokok pembahasan kedua yakni حافظوا على نهضة العلماء yang menyoroti pentingnya menjaga jam’iyah melalui aturan yang telah disepakati bersama, termasuk AD/ART sebagai pedoman organisasi. Ust. Shodiq mencontohkan nilai “bihifdzi hurmatil akbari”, yakni menjaga kehormatan para senior dan pengurus di atasnya, menyayangi serta memahami junior, serta mampu bekerja sama dengan rekan sejajar. Sikap saling menghormati dan memahami menjadi fondasi dalam menjalankan program kerja serta menjaga harmoni organisasi.
Adapun pembahasan ketiga berkaitan dengan pentingnya menjaga adab kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, para guru, sahabat, dan sesama. Ust Shodiq menegaskan bahwa adab bukan sekadar etika sosial, melainkan fondasi utama dalam kehidupan berjamaah dan bermasyarakat. Beliau mengingatkan agar menjaga tata krama kepada siapa pun dan di mana pun kita berada. Menghormati guru, memuliakan para masyayikh, serta menjaga sikap terhadap sesama merupakan bagian dari menjaga hubungan dengan Allah. Sebab para guru adalah perantara ilmu yang mengantarkan kita mengenal-Nya; maka menjaga adab kepada mereka sejatinya juga merupakan bentuk menjaga adab kepada Allah SWT.
Dengan adab, persaudaraan akan kokoh; dengan adab, kebahagiaan menjadi sempurna; dan dengan adab pula Allah memuliakan hamba-Nya. Persatuan tidak akan bertahan tanpa dibingkai oleh tata krama dan keikhlasan. Karena itu, siapa pun yang menjaga adab dalam pergaulan dan perjuangan, niscaya Allah akan menjaga kehormatannya.
Lailatul Kopdar Ramadan 1447 H tersebut turut dihadiri oleh berbagai unsur badan otonom dan perwakilan pimpinan ranting di wilayah Bungah, mulai dari IPNU–IPPNU PR Mojopurogede, PR Abar-Abir, PR Sidokumpul, PK SMP Assa’adah, serta PAC Bungah; GP Ansor NU PR Mojopurogede, PR Abar-Abir, PR Sidokumpul, PR Melirang, dan PAC Bungah; hingga Fatayat NU PR Mojopurogede, PR Abar-Abir, PR Sidokumpul, PR Raci Wetan, PR Raci Delanyar, serta PAC Bungah. Kehadiran berbagai unsur jam’iyah tersebut semakin meneguhkan semangat persatuan dan kebersamaan yang selaras dengan materi yang disampaikan malam itu.
“Barang siapa menjaga adab, Allah akan menjaganya.” Demikian penegasan yang menjadi simpulan tausiah. Seluruh perjuangan dalam jam’iyah hendaknya dilandasi niat karena Allah SWT semata.
Lailatul Kopdar malam tersebut menjadi momentum untuk kembali meneguhkan komitmen menjaga persatuan, merawat adab, dan menguatkan jam’iyah sebagai wadah perjuangan bersama menuju ridha Allah SWT.
Penulis: Amelia Rahmawati & Siti Sarah
Editor: Maghfur Munif

