BUNGAH | NUGres – Malam Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Termasuk Jumat (27/2/2026) malam, dengan 9 Ramadan 1447 Hijriah, Lailatul Kopdar kembali digelar dengan penuh kekhusyukan di Aula KH. Hasyim Asy’ari MWCNU Bungah. Bersama qori, Ustadz Alex Salim, para peserta larut dalam kajian bertajuk أصول دواء علل النفس (Pokok-pokok obat penyakit jiwa) dan كيفية الوصول إلى الله (Tata cara menuju Allah). Malam itu bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan momentum penguatan ruhani.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Alex Salim mengawali dengan pembahasan tentang obat paling dasar dari segala penyakit hati. Ia menjelaskan bahwa terdapat lima perkara yang menjadi fondasi penyembuhan jiwa.
Pertama, mengurangi makan dan tidak berlebih-lebihan. Segala sesuatu yang berlebihan membawa dampak buruk, termasuk dalam urusan makanan. Rasulullah Saw telah mengingatkan agar berhenti makan sebelum kenyang. Bahkan penelitian medis modern membuktikan bahwa banyak penyakit berawal dari pola makan yang tidak terjaga. Menjaga perut berarti menjaga kesehatan lahir dan batin.
Kedua, bertawakal kepada Allah SWT. Mengembalikan segala urusan kepada Allah adalah wujud kesadaran akan keterbatasan diri sebagai hamba. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan memaksimalkan ikhtiar lalu menyerahkan hasil akhirnya sepenuhnya kepada-Nya
Ketiga, bersikap wara’ dan menjauhi hal-hal yang syubhat. Seorang mukmin hendaknya berhati-hati terhadap segala sesuatu yang dikhawatirkan membawa dampak buruk. Sikap ini menjadi pagar agar hati tidak mudah ternodai oleh dosa dan kelalaian.
Keempat, memperbanyak istighfar dan sholawat. Istighfar tidak hanya dibaca saat merasa berdosa, tetapi juga ketika merasa bersih dari dosa, sebab manusia tak pernah luput dari kekhilafan. Saat hati terasa berat melakukan kebaikan, istighfar adalah kunci pembuka. Sholawat menjadi wasilah turunnya rahmat dan ketenangan.
Dalam hal ini, ia mengisahkan dialog antara Imam Syafi’i dan gurunya, Waqi’ ibn al-Jarrah. Ketika Imam Syafi’i merasa berat dalam memahami ilmu, sang guru menasihatinya agar memperbanyak istighfar dan menjauhi maksiat. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke dalam hati yang gelap oleh kemaksiatan. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kebersihan hati adalah syarat turunnya keberkahan ilmu.
Ustadz Alex juga menuturkan kisah taubat seorang pemuda bernama Udbah al-Ghulam. Dahulu ia dikenal sebagai ahli maksiat. Namun hidupnya berubah setelah mendengar nasihat dan pengajian dari Hasan al-Basri. Dengan penuh harap ia bertanya, “Apakah aku masih bisa berubah, padahal aku telah bergelimang maksiat?” Hasan al-Basri menjawab bahwa Allah Maha Rahman dan Rahim, serta menerima setiap hamba yang bersungguh-sungguh bertaubat.
Sejak saat itu, Udbah bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Pada hari-hari berikutnya, Allah menganugerahkan kepadanya suara yang merdu. Ia menggunakan suaranya untuk membaca Al-Qur’an dan menuntut ilmu hingga akhirnya dikenal sebagai seorang alim dan wali. Kisah tersebut menjadi bukti bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin kembali kepada-Nya.
Memasuki bab kedua tentang tata cara agar sampai kepada Allah SWT, Ustadz Alex Salim menegaskan beberapa langkah penting.
Pertama, istiqamah dalam taubat. Seorang hamba harus konsisten menjauhi segala larangan Allah, baik yang diharamkan maupun yang dimakruhkan. Taubat bukan hanya ucapan, tetapi komitmen untuk berubah.
Kedua, mencari ilmu yang dibutuhkan. Ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Bahkan disebutkan bahwa setan lebih takut kepada satu orang yang berilmu fiqih dibandingkan seribu ahli ibadah tanpa ilmu. Ilmu menjadi cahaya yang menuntun ibadah agar tidak tersesat.
Ketiga, melaksanakan kewajiban dan memperbanyak amalan sunnah. Di antaranya shalat di awal waktu, shalat enam rakaat setelah Maghrib, shalat malam, puasa Senin-Kamis, puasa pada hari-hari tertentu, memperbanyak istighfar, sholawat, serta dzikir pagi dan petang. Amalan-amalan tersebut menjadi tangga menuju kedekatan dengan Allah dan penghidup hati yang mulai lalai.
Lailatul Kopdar kali ini dihadiri peserta dari berbagai unsur dan tingkatan. IPNU-IPPNU PR Watuagung, PR Tajung Widoro, PR Bedanten, PK MA Ma’arif NU Assa’adah, PAC Bungah, hingga DKAC CBP KPP Bungah turut memadati majelis. Dari GP Ansor hadir PR Watuagung, PR Tajung Widoro, PR Bedanten, PR Kramat, dan PAC Bungah. Sementara Fatayat NU dari PR Kalitebon, PR Kaliwot, PR Bedanten, PR Karangpoh, serta PAC GP Ansor Bungah juga ambil bagian.
Kebersamaan lintas banom ini memperlihatkan indahnya ukhuwah dalam bingkai Ramadan. Suasana malam itu begitu khusyuk dan penuh antusiasme. Para peserta menyimak dengan saksama, mencatat, dan merenungi setiap nasihat yang disampaikan. Usai kajian kitab, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an bersama. Lantunan ayat-ayat suci menggema lembut, menambah kehangatan dan makna kebersamaan.
Lailatul Kopdar bukan sekadar forum kajian, melainkan ruang untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan menata ulang arah perjalanan menuju Allah SWT. Ramadan menjadi momentum terbaik untuk kembali, memperkuat tekad, dan menapaki jalan ruhani dengan penuh harap dan keikhlasan.
Penulis : Ahmad Mubarok & Ahmad Nur Muhammad Ali Hasby
Editor: Maghfur Munif

