Oleh: Aan Haryono, SE., M.Med.Kom*
KOLOM KALEM | NUGres – Ada yang berubah dalam cara kita merayakan Idul Fitri. Bukan pada takbir yang tetap menggema, bukan pula pada aroma sedap opor yang setia hadir dari dapur ke ruang tamu. Yang berubah adalah jarak atau lebih tepatnya, cara kita memahami jarak.
Dulu, silaturahmi adalah peristiwa tubuh. Orang datang, mengetuk pintu, duduk bersila, dan kadang-kadang membiarkan jeda-jeda canggung mengisi ruang. Kini, silaturahmi menjelma menjadi notifikasi. Melalui pesan singkat yang seragam, gambar ucapan yang diproduksi massal, atau video berdurasi lima belas detik yang cepat berlalu di linimasa. Kita saling menyapa tanpa benar-benar hadir.
Barangkali ini bukan sekadar soal teknologi. Teknologi hanya menyediakan kemungkinan. Yang berubah adalah kesediaan kita untuk tinggal. Sejenak menepikan waktu untuk menunda, untuk mendengarkan, untuk memberi waktu pada orang lain. Dalam dunia yang bergerak cepat, bahkan permintaan maaf pun harus efisien.
“Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.”
Kalimat itu dikirim ke puluhan, mungkin ratusan orang, dalam satu sentuhan jari. Ia menjadi semacam mantra yang kehilangan tubuhnya. Tidak ada suara yang bergetar, tidak ada mata yang menunduk, tidak ada tangan yang saling menggenggam. Kata-kata itu tetap ada, tetapi maknanya seperti menguap tipis, nyaris tak berjejak.
Di sini, kita mungkin perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah silaturahmi masih membutuhkan kehadiran fisik? Atau cukupkah ia hidup dalam jaringan, sebagai data yang berpindah dari satu layar ke layar lain?
Jawaban yang tergesa-gesa akan mudah jatuh pada nostalgia. Kita akan meromantisasi masa lalu. Sebuah perjalanan jauh, kemacetan panjang, dan rumah-rumah yang penuh sesak oleh tamu. Namun, nostalgia sering kali menyederhanakan. Ia lupa bahwa tidak semua orang punya kemewahan untuk pulang, bahkan sebelum era digital tiba.
Justru di titik ini, teknologi tampak seperti penyelamat. Ia memungkinkan seseorang yang jauh tetap terhubung. Seorang anak di perantauan dapat menyapa ibunya melalui panggilan video. Seorang pekerja yang tak bisa mudik masih bisa melihat wajah keluarganya, meski dalam bingkai layar. Ada kehangatan yang tetap sampai, meski melalui medium yang dingin. Tapi tetap bisa bahagia.
Namun, setiap medium membawa konsekuensi. Layar, dengan segala kemudahannya, juga menciptakan ilusi kedekatan. Kita merasa telah bersilaturahmi hanya karena telah mengirim pesan. Kita merasa telah meminta maaf hanya karena telah menekan tombol “kirim”. Padahal, hubungan antarmanusia tidak pernah sesederhana itu ferguso.
Barangkali yang hilang bukan silaturahmi itu sendiri, melainkan kedalaman pengalaman. Kita tidak lagi mengalami perjumpaan sebagai sesuatu yang utuh. Ia terfragmentasi, terpotong-potong, seperti potongan cerita yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dalam dunia digital, waktu menjadi datar. Semua berlangsung serentak. Ucapan Lebaran datang bersamaan, membanjiri layar, lalu hilang dalam hitungan detik, tertimbun oleh pesan-pesan lain. Tidak ada lagi urutan, tidak ada lagi proses. Semuanya hadir sekaligus, dan karena itu, semuanya terasa sama.
Ketika kita melambatkan waktu, bahwa yang penting bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana kita mengalaminya. Pengalaman membutuhkan jeda, membutuhkan ruang untuk direnungkan. Tanpa itu, ia hanya menjadi peristiwa yang lewat begitu saja.
Maka, silaturahmi di era digital mungkin bukan tentang menolak teknologi, melainkan tentang mengembalikan kesadaran. Bahwa di balik setiap pesan, ada manusia yang ingin didengar. Bahwa di balik setiap ucapan maaf, ada kemungkinan untuk benar-benar memahami dan dipahami.
Kita bisa saja tetap menggunakan WhatsApp, media sosial, atau panggilan video. Tetapi, pertanyaan lanjutannya apakah kita masih memberi perhatian yang cukup? Apakah kita masih mau membaca pesan dengan perlahan, merespons dengan sungguh-sungguh, atau bahkan sekadar berhenti sejenak sebelum menekan tombol “kirim”?
Lebaran, pada akhirnya, bukan hanya tentang kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah momen untuk merawat hubungan dengan orang lain, dan dengan diri sendiri. Dalam hubungan itu, kehadiran menjadi kunci. Dan kehadiran tidak selalu berarti fisik, tetapi selalu membutuhkan kesungguhan.
Mungkin, yang perlu kita pelajari kembali adalah cara hadir di tengah ketiadaan tubuh. Cara memberi makna pada kata-kata yang melintas di layar. Cara menjadikan teknologi bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai jembatan yang tetap menghubungkan, bukan justru menjauhkan.
Sebab, di balik segala kemajuan ini, manusia tetap makhluk yang rapuh. Ia membutuhkan sentuhan, meski hanya dalam bentuk perhatian. Ia membutuhkan waktu, meski hanya dalam bentuk jeda. Dan ia membutuhkan makna, yang tidak pernah bisa sepenuhnya digantikan oleh kecepatan.
Di hari raya seperti ini, mungkin kita tidak perlu mengirim lebih banyak pesan. Mungkin kita justru perlu mengirim lebih sedikit, tetapi dengan lebih sungguh-sungguh. Sebuah ucapan yang ditulis dengan kesadaran, bukan sekadar disalin dan ditempel.
Atau barangkali, kita bisa melakukan sesuatu yang sederhana, dengan menelpon seseorang, mendengar suaranya, membiarkan percakapan mengalir tanpa tergesa. Dalam suara itu, ada kehadiran yang tidak bisa digantikan oleh teks.
Lebaran akan terus datang setiap tahun. Teknologi akan terus berkembang, menawarkan cara-cara baru untuk terhubung. Tetapi pertanyaan yang sama akan tetap tinggal, apakah kita benar-benar hadir?
Atau jangan-jangan, kita hanya sedang lewat di layar satu sama lain. Selamat Lebaran, selamat berbahagia di tengah kehangatan keluarga.
*Aan Haryono, SE., M.Med.Kom, Komisioner KPID Jatim

