GRESIK | NUGres – Bulir-bulir gerimis perlahan membasahi komplek Gedung Nasional Indonesia di Jalan Pahlawan, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik. Sore itu, Sabtu (20/12/2025), kendaraan roda dua dan roda empat silih berganti memasuki kawasan gedung bersejarah tersebut.
Di pintu masuk, sejumlah pelajar berseragam OSIS tampak sigap mengatur tamu agar memarkir kendaraan dengan tertib. Wajah-wajah mereka memancarkan semangat, seolah ingin memastikan setiap tamu merasakan sambutan hangat sejak langkah pertama.
Menjelang sore, gedung itu menjadi ruang perjumpaan lintas generasi dalam Festival GEMAR—akronim dari Generasi Muda Akrab Damar Kurung. Pelajar, guru pendamping, pejabat pemerintah, hingga pelaku dan penikmat seni budaya di Kabupaten Gresik memenuhi ruangan, menyatu dalam satu semangat pelestarian.
Di dalam gedung, deretan lukisan Damar Kurung dipajang. Lukisan-lukisan itu hidup, ramai, dan ceria. Setiap bidang warna—hijau, kuning, merah, dan warna-warna mencolok lainnya—merangkai kisah keseharian masyarakat Gresik. Interaksi sosial, aktivitas warga, hingga suasana kampung divisualkan dengan gaya tutur rupa khas Damar Kurung. Belakangan diketahui, karya-karya tersebut merupakan hasil kreativitas siswa jenjang SMP dan SMA.
Tak jauh dari area pameran lukisan, ikon Damar Kurung tampil dalam wujud berbeda. Bentuknya dikreasikan menjadi beragam produk kerajinan, mulai dari songkok lukis, gantungan kunci, hingga tumbler. Panitia festival pun mengenakan kemeja dan kaos bercorak Damar Kurung, lengkap dengan tas jinjing kain bergambar motif serupa—menjadikan nilai tradisi hadir dalam keseharian.
Dalam sambutannya mewakili panitia, Anindya Christianna dari UK Petra Surabaya menyampaikan bahwa Festival GEMAR merupakan upaya pelestarian Damar Kurung berbasis tutur rupa melalui inovasi lintas generasi. Tradisi, menurutnya, perlu dirawat dengan cara yang relevan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Salah satu mitra kegiatan, SMA Negeri 1 Gresik, diwakili langsung oleh Kepala Sekolah Drs. Tohir, MM., mengungkapkan rasa syukur karena warganya, khususnya para siswa, dapat terlibat aktif dalam event pelestarian Damar Kurung melalui Festival GEMAR. Kebahagiaan tampak jelas saat melihat para peserta didiknya mengiringi rangkaian acara dengan orkestra, tari Damar Kurung, hingga pertunjukan teater.
Apresiasi juga datang dari Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga. Perwakilannya, Khurin In Noviarani, menekankan pentingnya makna Festival Generasi Muda Akrab Damar Kurung.
“Pesan yang saya tangkap, warisan budaya tidak harus ditampilkan dengan cara lama. Ia harus mengikuti perkembangan zaman, didekati dengan bahasa baru yang lebih dipahami oleh anak-anak,” ungkapnya.
Salah satu pertunjukan yang mencuri perhatian adalah teater berjudul Timun Mas. Sebabnya, selain akting para siswa yang memukau, alur cerita divisualkan melalui gambar dua dimensi. Ada satu kotak besar, dari alat cerita dibeber dan bergerak perlahan. selaras dengan narasi dan pemeran Teater.
Tak hanya itu, tata cahaya yang digelapkan di ruang GNI ini, menambah kesan sinematik. Penonton dari kalangan Gen Z tampak antusias, terlebih karena narasi cerita diselipi humor, serta istilah-istilah yang akrab dengan keseharian mereka. Sesekali, gawai penonton itu diangkat untuk merekam momen teater.
Tak hanya menonton, pengunjung juga diajak terlibat langsung melalui Workshop Damar Kurung Edutoys. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan “dulinan” Damar Kurung. Kotak besar di depan panggung tadi adalah contohnya. Sedang Edutoys itu miniaturnya, di mana alur cerita tutur khas Damar Kurung yang berurutan. Dari menonton hingga mencipta, Festival GEMAR menghadirkan Damar Kurung sebagai ruang belajar, bermain, dan merawat ingatan budaya bersama.
Editor: Chidir Amirullah

