Oleh: Ahmad Donny Setiyawan*
KOLOM KALEM | NUGres – Eksistensi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) selama 72 tahun bukanlah sekadar angka statistik dalam kalender sejarah. Ia adalah bukti daya tahan sebuah gerakan pelajar dalam mengawal nafas keislaman dan kebangsaan di Indonesia. Di usia yang semakin matang ini, IPNU berdiri di persimpangan jalan antara kemapanan tradisi dan tuntutan.
Dalam membangun narasi perjuangan, IPNU selalu berpijak pada kaidah ushul fiqh yang menjadi nafas pergerakan kaum sarungan:
المُحَافَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الأَصْلَحِ
“Al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-salih wa al-akhdhu bi al-jadidi al-ashlah”.
Artinya: “Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik.”
Refleksi kaidah ini dalam konteks Harlah ke-72 dapat kita bedah sebagai berikut:
1. Memelihara Tradisi yang Baik (Al-Muhafazhatu ‘ala al-Qadim al-Salih)
Bagi IPNU, “Tradisi lama yang baik” adalah fondasi spiritual dan ideologis. Ini mencakup:
• Sanad Keilmuan: Menjaga hubungan batin dan pemikiran dengan para ulama pendiri (khittah).
• Karakter Aswaja: Tetap teguh pada nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran), dan
• Kultur Pesantren: Kesantunan, ketakziman kepada guru, dan semangat tabayyun.
2. Mengambil Inovasi yang Lebih Baik (Wa al-Akhdhu bi al-Jadidi al-Ashlah)
IPNU tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Di usia 72 tahun, inovasi berarti:
• Digitalisasi Dakwah: Memasuki ruang-ruang digital dengan konten yang kreatif dan substantif bagi Gen Z,
• Adaptasi Teknologi: Transformasi organisasi menuju kemandirian ekonomi kreatif dan literasi digital.
Meneladani Khidmah KH. Tolchah Mansoer
Menengok sejarah IPNU tak lepas dari wasiat intelektual sang pendiri, KH. Tolchah Mansoer. Beliau menegaskan bahwa IPNU adalah wadah perjuangan intelektual santri yang harus selaras dengan zaman. Beliau pernah berpesan:
“IPNU adalah bagian dari perjuangan besar Nahdlatul Ulama. Maka, kader IPNU haruslah sosok yang berilmu, namun tidak meninggalkan adab. Cita-cita kita adalah menjadikan pelajar yang sadar akan tanggung jawab agama dan negaranya.”
Pesan ini adalah bentuk nyata dari penerapan kaidah fiqh di atas. KH. Tolchah Mansoer menginginkan kader yang berakar pada adab (tradisi) namun relevan secara intelektual (modernitas).
Menurut saya Harlah kali ini adalah momentum untuk menegaskan bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan identitas santri. Justru, identitas santri adalah “kompas” agar IPNU tidak terseret arus globalisasi yang tanpa arah.
Seorang kader IPNU hari ini dituntut memiliki kompetensi ganda: cakap dalam literasi klasik (kitab kuning) sebagai representasi qadim salih, sekaligus mahir dalam teknologi dan pemikiran kritis sebagai wujud jadid ashlah.
Kesimpulan, usia 72 tahun adalah usia emas untuk melakukan akselerasi. Dengan memegang teguh kaidah Al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-salih, IPNU akan terus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin bangsa yang berotak modern, namun tetap berhati pesantren. Selamat Harlah IPNU ke-72!. Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa.
*Ahmad Donny Setiyawan, Anggota Departemen Organisasi PC IPNU Gresik

