Mujahadah dan Apel 313 Kader Penggerak Nahdlatul Ulama PCNU Gresik
Oleh: Ali Mujib*
KOLOM KALEM | NUGres – Pada malam sunyi 31 Januari 2026, bertepatan dengan 12 Sya’ban 1447 H, sekitar 900-an kader penggerak NU se-PCNU Gresik berkumpul di Puncak Giri Kedaton dengan satu tekad ideologis: meneguhkan khidmah dan loyalitas jam’iyah. Di ruang sejarah yang sarat nilai ini, dilaksanakan Mujahadah & Apel 313—bukan sebagai seremoni rutin, melainkan sebagai ruang kaderisasi batin untuk membersihkan niat, menundukkan ego, dan menguatkan kesadaran perjuangan.
Kegiatan ini sejatinya merupakan puncak dari rangkaian panjang ikhtiar spiritual dan ideologis. Sebelumnya, para kader memulai langkah dengan ziarah kepada para muassis dan tokoh penggerak NU di Kabupaten Gresik, dilanjutkan ziarah para kiai dan pejuang NU di masing-masing ranting serta MWCNU se-Kabupaten Gresik. Tradisi sowan makbaroh dijalani sebagai jalan sunyi untuk menyambung sanad perjuangan, menimba keteladanan, dan menyerap energi keikhlasan para pendahulu. Energi itulah yang kemudian ditarik dan dimuarakan dalam mujahadah dan apel kader di Giri Kedaton.
Giri Kedaton sendiri bukan sekadar situs sejarah. Di tengah keheningan malam, tempat ini menghadirkan rasa yang sulit dijelaskan oleh logika semata. Angin yang berembus pelan, cahaya lampu yang temaram, dan sunyi yang menekan batin seakan membuka ruang kontemplasi yang dalam. Bagi warga NU, Giri Kedaton adalah lanskap spiritual—jejak pusat dakwah dan kepemimpinan Sunan Giri, seorang wali yang bukan hanya alim dalam ilmu, tetapi juga keramat dalam laku dan doanya. Kekeramatan Kanjeng Sunan Giri tidak dipahami sebagai mitos kosong, melainkan sebagai buah dari kesucian niat, keteguhan ibadah, dan keberpihakan total kepada umat.
Dalam suasana seperti itu, mujahadah terasa lebih dari sekadar rangkaian doa. Banyak kader merasakan batin yang ditarik masuk ke dalam keheningan, seakan diingatkan bahwa perjuangan NU sejak awal tidak pernah lepas dari dimensi ghaib—doa para wali, restu para kiai, dan pertolongan Allah yang bekerja melampaui hitungan manusia. Giri Kedaton menjadi saksi bahwa perjalanan lahir NU tidak hanya ditopang oleh strategi sosial dan organisasi, tetapi juga oleh kekuatan spiritual yang senyap namun nyata.
Pemilihan waktu tengah malam hingga dini hari semakin menegaskan makna jihad an-nafs. Momentum ini beriringan dengan satu abad Nahdlatul Ulama dalam hitungan masehi, serta satu abad PCNU Gresik dalam hitungan hijriyah. Seratus tahun perjalanan jam’iyah menuntut refleksi mendalam: bahwa NU hanya akan terus hidup jika digerakkan oleh kader yang matang secara spiritual, ideologis, dan organisatoris.
Angka 313 dalam apel kader merujuk pada 313 Ahli Badr—pasukan kecil Rasulullah Saw yang menang bukan karena keunggulan jumlah, melainkan karena iman, disiplin barisan, dan ketaatan penuh pada kepemimpinan. Spirit ini dihadirkan kembali sebagai pengingat bahwa militansi kader NU adalah militansi nilai: kesiapan berdiri tegak dalam barisan jam’iyah, patuh pada keputusan organisasi, dan total dalam pengabdian.
Rangkaian acara mengalir dalam nuansa religius-kebangsaan khas NU: pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sholawat Nabi, menyanyikan Indonesia Raya yang disambung dengan Subbanul Wathon, serta Sholawat Badar. Seluruhnya menegaskan bahwa agama dan kebangsaan bukan dua kutub yang dipertentangkan, melainkan dua nafas yang saling menguatkan dalam laku jam’iyah Nahdlatul Ulama. Acara dipandu secara kolaboratif oleh perwakilan GP Ansor dan Fatayat NU, menghadirkan dinamika yang hidup sekaligus menegaskan kohesi kader lintas badan otonom. Kolaborasi ini menjadi simbol kuat keterpaduan gerak struktural NU di lingkungan PCNU Gresik—bahwa khidmah jam’iyah dijalankan bersama, saling menguatkan, dan bertumbuh dalam semangat kebersamaan.
Acara kedua adalah Istighotsah. Agenda ini dipimpin Gus Huda, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, menjadi puncak kepasrahan kolektif. Putra KH Masbuhin Faqih ini memimpin doa dengan nada yang tenang, nyaris menahan suara—dan justru di situlah kekuatannya. Kalimat demi kalimat istighotsah tidak diarahkan untuk menggugah emosi, melainkan menundukkan batin. Ia mengajak para kader berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pikiran, dari beban peran, dan dari ambisi yang kadang tak disadari ikut terbawa dalam khidmah.
Pada bagian-bagian tertentu, hening terasa semakin rapat. Setiap bacaan seakan diberi waktu untuk jatuh ke dalam dada. Di sanalah istighotsah mulai “mengetuk langit”—bukan dengan suara keras, melainkan dengan kejujuran kolektif. Ratusan kader, dalam satu irama nafas dan doa, menyadari keterbatasan diri sekaligus harapan yang sama: agar jam’iyah ini tetap dijaga, dituntun, dan diridai.
Istighotsah itu tidak menjadikan Gus Huda sebagai pusat perhatian, melainkan sebagai penuntun arah. Doa-doa yang dipanjatkannya terasa seperti jembatan yang menghubungkan kelelahan manusia dengan keluasan rahmat Tuhan. Di Giri Kedaton yang sunyi, istighotsah itu seakan merambat ke ruang-ruang tak kasat mata—menyusuri jejak para wali dan kiai yang dahulu berdoa di tanah yang sama. Pada saat itu, langit tidak perlu menjawab dengan tanda apa pun. Cukup dengan ketenangan yang turun perlahan, hati yang lapang, dan kesadaran yang kembali jernih.
Setelah batin dilunakkan oleh istighotsah, taujihad KH Mulyadi, Ketua Tanfidziyah PCNU Gresik, meneguhkan arah perjuangan. Dengan tutur yang teduh namun mengikat, beliau membakar semangat struktural NU dan kader penggerak agar tetap istiqamah menapaki jalan perkhidmatan yang tidak mudah. Beliau mengingatkan kembali qonun asasi KH Hasyim Asy’ari tentang pentingnya kerukunan, kebersamaan, dan persatuan dalam mengelola jam’iyah.
Dalam taujihatnya, KH Mulyadi menautkan teladan Sunan Giri dengan semangat Ashābul Badr. Badar, menurut beliau, bukan semata kisah kemenangan, melainkan pelajaran tentang kesiapan batin dalam keterbatasan. Ashābul Badr berangkat dengan jumlah sedikit, perlengkapan seadanya, dan masa depan yang belum pasti, namun mereka disatukan oleh ketaatan, kebersamaan, dan kejujuran niat.
Dari sana ditegaskan bahwa kader NU hari ini sering kali tidak kekurangan jumlah atau sarana, melainkan diuji pada ketulusan dan ketertiban batin. Seperti Ashābul Badr, kader NU dituntut tetap tegak di tengah kelelahan organisasi, perbedaan pandangan, dan dinamika jam’iyah yang menguras emosi. Kemenangan tidak selalu berarti menang dalam forum atau struktur, tetapi mampu menjaga keutuhan barisan dan kebeningan niat.
Militansi sejati, ditegaskan beliau, tidak lahir dari kerasnya sikap, melainkan dari kesediaan mengalah demi kebersamaan. Semangat inilah yang harus dihidupkan dalam menyelesaikan konflik jam’iyah: menahan diri, merawat dialog, dan memastikan setiap perbedaan tidak menjelma menjadi perpecahan. Dengan menautkan teladan Sunan Giri dan spirit Ashābul Badr, taujihat itu membentuk pesan utuh: bahwa kader NU adalah pasukan sunyi—tidak selalu mencolok, tetapi kokoh dalam barisan; tidak selalu menang cepat, tetapi setia hingga akhir.
Agenda Mujahadah dan Apel 313 di Giri Kedaton dengan demikian dapat dibaca sebagai model penyelesaian problematika jam’iyah NU. Sebuah ikhtiar yang tidak tergesa mencari solusi di permukaan, tetapi berani kembali ke akar batin dan nilai. Ziarah, mujahadah, taujihat, dan ikrar disatukan dalam satu laku kolektif untuk menyelaraskan hati, menyatukan niat, dan meneguhkan adab. Dari sini, jam’iyah diajak menyelesaikan konflik tanpa memperdalam luka, mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan, dan menguatkan barisan tanpa menafikan kebijaksanaan.
Dalam suasana batin yang telah dilunakkan dan diarahkan itulah, acara mencapai titik klimaks ideologis pada pembacaan Ikrar Kader Penggerak NU yang dipimpin Ali Mujib, Ketua Badan Kaderisasi PCNU Gresik. Seluruh peserta berdiri serempak, menegakkan badan, dan menaruh tangan di dada—menghadap sunyi Puncak Giri Kedaton. Ikrar itu tidak lagi sekadar rangkaian kata, melainkan janji ideologis yang mengikat batin: berkhidmah tanpa pamrih, menjaga jam’iyah dari pragmatisme, dan menempatkan NU di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Spirit Ashābul Badr terasa hadir—keteguhan dalam keterbatasan, kesetiaan dalam barisan, dan kesiapan bertahan dalam khidmah panjang.
Setelah ikrar ditunaikan, tidak ada sorak atau tepuk tangan. Yang turun justru hening—penanda bahwa seluruh ikhtiar telah diserahkan sepenuhnya. Dari titik itulah, acara ditutup dengan doa oleh jajaran Syuriah PCNU Gresik, dipimpin KH Khusairi bersama dua sesepuh NU Gresik. Doa itu mengalir menenangkan, memohon agar jam’iyah NU senantiasa terjaga, kader diberi istiqamah, dan Indonesia dianugerahi persatuan serta kedamaian. Dalam hening Giri Kedaton, doa para kiai terasa menyatu dengan jejak para wali—seolah langit dan bumi ikut mengamini.
Kegiatan ini semakin bermakna dengan kehadiran unsur struktural dan jama’ah NU—mulai dari PRNU Banom, badan dan lembaga NU, kader MWCNU se-Kabupaten Gresik, perwakilan pemerintahan, hingga tokoh agama dan masyarakat. Semua itu menegaskan NU sebagai jam’iyah yang hadir untuk umat, hidup di tengah masyarakat, dan bersenyawa dengan kehidupan berbangsa.
Sebagai penutup, mujahadah di Giri Kedaton meneguhkan trilogi ideologis NU: jam’iyah–negara–umat. NU berakar pada umat, bersinergi dengan negara, dan setia menjaga nilai keislaman serta kebangsaan. Dari puncak yang sarat sejarah dan spiritualitas ini, para kader turun dengan kesadaran baru: bahwa perjuangan NU bukan hanya kerja lahiriah, tetapi juga laku batiniah—militansi yang disirami doa, dituntun adab, dan diwarisi dari para wali. Dari Giri Kedaton, NU kembali menapaki jalannya: menenteramkan, mempersatukan, dan menuntun zaman.
(Giri Kedaton, 31 Januari 2026)
*Ali Mujib, Ketua Badan Kaderisasi PCNU Gresik

