GRESIK | NUGres – Keluarga memiliki peran sentral dalam tumbuh kembang anak dan seluruh anggotanya. Berangkat dari kesadaran tersebut, Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Gresik melalui kolaborasi Bidang Kesehatan dan Lingkungan serta Bidang Hukum, Politik, dan Advokasi sukses menggelar Webinar Keluarga HARSA (Harmonis, Setara, dan Saling Menguatkan) Series ke-2, Selasa (3/2/2026).
Kegiatan ini mengusung tema “Fatayat sebagai Ruang Aman, Ruang Tumbuh, dan Solusi Kesehatan Jiwa Perempuan”. Tema kesehatan jiwa dinilai semakin relevan untuk dibahas seiring meningkatnya jumlah kasus gangguan jiwa dari tahun ke tahun. Dalam berbagai situasi, perempuan kerap memendam persoalan yang dihadapi. Ditambah dengan stigma sosial yang masih kuat, tidak sedikit kasus gangguan jiwa yang luput terdeteksi sejak dini. Kondisi tersebut berdampak langsung pada keharmonisan keluarga serta proses tumbuh kembang anak.
Secara nasional, pemanfaatan layanan kesehatan jiwa melalui BPJS Kesehatan menunjukkan peningkatan signifikan, dari sekitar 2,6 juta kasus pada tahun 2020 menjadi lebih dari 5,2 juta kasus pada tahun 2024. Di Jawa Timur, tren kenaikan juga terjadi meskipun dengan laju yang lebih landai. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan jiwa di wilayah tersebut terus meningkat dan mengikuti pola nasional.
Kegiatan webinar dibuka oleh Wakil Ketua III PC Fatayat NU Gresik, Sahabat Naily Itqianah, S.Hum. Ia menyampaikan bahwa webinar series ini merupakan hasil kolaborasi lintas bidang di lingkungan PC Fatayat NU Gresik. Pada seri kedua ini, tema kesehatan mental perempuan dipilih secara khusus karena dinilai memiliki keterkaitan erat dengan dinamika keluarga.
Menurutnya, komunikasi yang efektif dan timbal balik dalam keluarga menjadi faktor penting yang sangat memengaruhi kesehatan mental. Hal tersebut membutuhkan kondisi kejiwaan yang sehat dan stabil. Ia juga menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama, di mana dukungan keluarga berperan sebagai penguat moral sekaligus penjaga nilai-nilai. Dengan kondisi psikis yang sehat, perempuan diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan lebih bahagia, sementara keluarga berperan dalam proses pembentukan generasi emas yang bahagia.
Pembahasan semakin mendalam dengan kehadiran narasumber dari RS Nyai Ageng Pinatih, dr. Siti Ashfiyah. Ia memaparkan berbagai faktor yang kerap memicu gangguan kesehatan jiwa pada perempuan. Di Kabupaten Gresik, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 160 kasus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) telah ditangani oleh Dinas Sosial. Mayoritas kasus tersebut terungkap melalui pengaduan masyarakat, yang menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jiwa berada dekat dengan kehidupan sehari-hari dan membutuhkan kepedulian bersama.
Peningkatan kasus gangguan jiwa tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Sejumlah faktor pencetus yang dekat dengan kehidupan masyarakat turut berkontribusi, seperti paparan media sosial yang berlebihan, tekanan sosial dan stigma, pengalaman duka dan trauma, konflik keluarga, serta beban peran ganda yang sering dialami perempuan. Kondisi pascapandemi, melemahnya dukungan sosial, derasnya arus informasi yang tidak selalu terfilter, serta meningkatnya biaya hidup turut memperberat tekanan mental.
Tanda-tanda awal gangguan kesehatan jiwa kerap muncul dalam bentuk mudah menangis, kelelahan berkepanjangan, gangguan tidur dan pola makan, mudah marah, serta menarik diri dari lingkungan sosial. Apabila keluhan tersebut berlangsung lebih dari dua minggu, disertai pikiran menyakiti diri, gangguan fungsi yang berat, atau ketidakmampuan menjalani peran harian, maka diperlukan upaya untuk mencari bantuan profesional.
Dalam pemaparannya, narasumber juga menekankan bahwa perempuan yang kuat tetap memiliki ruang untuk merasa lelah. Menjaga kesehatan jiwa dipahami sebagai bagian dari ibadah, sementara keberanian untuk meminta pertolongan merupakan bentuk kekuatan. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah yang dianut Fatayat NU mengajarkan keseimbangan antara iman, akal, dan realitas kehidupan, di mana Islam hadir sebagai rahmat yang menenangkan.
Dalam perspektif Aswaja, sikap tawassuth mengajarkan agar tidak berlebihan dalam menyalahkan diri. Ibadah diposisikan sebagai sumber ketenangan jiwa, dzikir sebagai terapi batin, doa disampaikan dengan kejujuran, serta istirahat dipahami sebagai bagian dari menjaga amanah tubuh dan jiwa. Melalui peran Fatayat NU sebagai penjaga kesehatan jiwa perempuan, keluarga, dan umat, peserta diajak menyadari bahwa setiap individu tidak berjalan sendiri.
Diskusi yang dimoderatori oleh Sahabat Sri Rahayu, A.Md., Keb selaku Koordinator Bidang Kesehatan dan Lingkungan PAC Fatayat NU Benjeng berlangsung gayeng. Antusiasme peserta dari tingkat PC, PAC, hingga PR tampak melalui beragam pertanyaan yang disampaikan, khususnya terkait upaya mengurangi beban psikologis perempuan dengan peran ganda di ranah domestik maupun sosial. Beberapa peserta juga menanyakan cara menjaga kewarasan diri saat menghadapi kekecewaan, serta dampak memendam perasaan dalam jangka panjang terhadap kesehatan mental.
Selaras dengan hal tersebut, Koordinator Bidang Kesehatan dan Lingkungan PC Fatayat NU Gresik, dr. Nila Hapsari Rachmat Ilahi, menyampaikan, “Keberhasilan tidak mudah dicapai jika berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas bidang untuk semakin memperkuat peran dan memperluas jaringan. Oleh karena itu, webinar series ini menjadi wujud sinergi antara Bidang Advokasi, Bidang Media, dan Bidang Kesehatan dan Lingkungan Fatayat NU,” tukasnya.
Ia juga menambahkan, “Melalui kolaborasi ini, diharapkan kegiatan webinar series dapat memberikan manfaat yang luas serta menjadi ruang berkhidmat bersama bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Webinar Keluarga Harmonis, Setara, dan Saling Menguatkan (HARSA Series 2), Pimpinan Cabang Fatayat NU Gresik ini dapat disimak kembali dalam arsip Youtube PC Fatayat NU Gresik klik link berikut: https://www.youtube.com/live/MsuI51_wIuo?feature=shared
Penulis: Nensi Indriati
Editor: Chidir Amirullah



