Ramadan dan Jalan Teduh Kesalehan di Ruang Digital

Redaksi NUGres Redaksi NUGres

Oleh: Aan Haryono, SE., M.Med.Kom*

KOLOM KALEM | NUGres – Ramadan dulu adalah suara beduk yang dipukul pelan, lalu gema azan yang memecah subuh. Kini ia juga notifikasi yang menyala di genggaman, potongan ceramah tiga puluh detik, dan wajah-wajah yang tersenyum di layar vertikal. Kita menyaksikan bulan suci bukan hanya di ruang tamu, tetapi di beranda digital yang tak pernah tidur.

Televisi pernah menjadi panggung utama. Program sahur disusun dengan tata cahaya lembut, ustaz duduk rapi, jamaah menyimak dengan jeda yang khidmat. Ada kurasi, ada redaksi, ada pagar bernama Pedoman Perilaku Penyiaran. Penyiaran bekerja dengan waktu yang terjadwal dan tanggung jawab yang bisa ditelusuri. Kita tahu siapa yang menyiarkan, siapa yang mengawasi, dan siapa yang menegur bila ada yang melampaui batas.

Namun zaman berubah. Di layar kecil yang kita genggam, dakwah tidak lagi menunggu jam tayang. Ia meluncur mengikuti arus algoritma. Di sana, yang cepat sering lebih didengar ketimbang yang dalam. Yang emosional lebih mudah viral ketimbang yang tenang. Kita memasuki ruang yang tak sepenuhnya diatur oleh niat baik, melainkan oleh kalkulasi keterlibatan. Mulai dari berapa detik ditonton, berapa kali dibagikan, berapa komentar yang memicu perdebatan.

Di sinilah Ramadan bertemu konvergensi media. Televisi, radio, dan platform digital berkelindan. Potongan acara TV dipenggal menjadi klip pendek, disebarkan ulang, diberi judul yang lebih provokatif. Ceramah yang di ruang siar disampaikan dengan konteks utuh, di ruang digital bisa berubah menjadi serpihan yang kehilangan latar. Makna dipadatkan, kadang disederhanakan, kadang dipelintir.

Algoritma tidak berpuasa. Ia bekerja tanpa jeda, membaca kebiasaan kita, menebak kegelisahan kita, lalu menyodorkan konten yang serupa. Jika kita pernah menonton ceramah tentang kiamat, maka kiamat akan datang berkali-kali di beranda. Jika kita menyukai perdebatan fikih, maka perdebatan akan terus dipantik. Lama-lama kita hidup dalam gema echo chamber yang membuat kita merasa benar karena hanya mendengar yang seirama.

Ramadan, yang sejatinya mengajarkan jeda dan hening, justru kerap menjadi bulan paling riuh di ruang digital. Perdebatan soal halal-haram, bid‘ah-sunnah, tradisi dan purifikasi, meletup seperti kembang api. Ada yang tercerahkan, tetapi tak sedikit yang terseret arus kemarahan. Dalam lanskap seperti ini, otoritas menjadi cair. Siapa pun bisa menjadi penceramah, siapa pun bisa menjadi hakim.

Lembaga penyiaran bekerja dengan spektrum frekuensi yang terbatas dan milik publik. Karena itu ia diikat oleh aturan. Di Indonesia, pengawasan itu dijalankan oleh Komisi Penyiaran Indonesia yang menetapkan standar isi siaran, termasuk perlindungan anak dan larangan ujaran kebencian. Dalam bulan Ramadan, tanggung jawab itu seharusnya semakin ditekankan. Tentu dengan konten religi bukan hanya soal rating, melainkan soal ketenangan sosial.

Namun platform digital tidak tunduk pada rezim yang sama. Ia melampaui batas wilayah, beroperasi dengan kebijakan komunitas yang dirancang global. Ketika sebuah potongan ceramah viral dan memicu kegaduhan, klarifikasi datang belakangan atau tak pernah datang sama sekali. Reputasi orang bisa runtuh oleh potongan 15 detik yang dilepaskan dari konteks.

Kita hidup dalam paradoks. Di satu sisi, konvergensi media membuka peluang dakwah yang lebih luas. Suara dari kampung bisa didengar lintas benua. Tradisi lokal seperti patrol sahur, tadarus di langgar kecil pun bisa direkam dan disebarkan, menjadi arsip kolektif yang tak mudah hilang. Penyiaran lokal menemukan panggung baru, tak lagi dibatasi oleh daya pancar.

Di sisi lain, ruang yang terbuka itu juga memudahkan disinformasi berbasis agama. Potongan ayat tanpa tafsir, hadis tanpa sanad, atau ceramah yang menyederhanakan persoalan sosial menjadi hitam-putih, menyebar dengan cepat. Di bulan yang mestinya menahan diri, kita justru tergoda untuk membagikan sesuatu tanpa memeriksa.

Mungkin yang kita perlukan bukan hanya regulasi yang lebih sigap, tetapi literasi yang lebih dalam. Publik perlu disadarkan bahwa tidak semua yang viral itu valid. Bahwa jeda sebelum membagikan adalah bagian dari etika. Bahwa kesalehan di ruang digital juga menuntut tanggung jawab.

Penyiaran, dengan segala keterbatasannya, masih menyimpan satu nilai penting yakni akuntabilitas. Ada redaksi yang bisa dimintai penjelasan, ada mekanisme koreksi, ada sanksi. Dalam ekosistem yang makin cair, nilai ini tak boleh hilang. Lembaga penyiaran harus berani menjadi jangkar dengan menghadirkan konten Ramadan yang sejuk, inklusif, dan mencerdaskan. Bukan sekadar mengikuti arus yang sedang ramai.

Konvergensi media bukan musuh. Ia adalah kenyataan zaman. Tetapi seperti puasa yang mengajarkan pengendalian diri, konvergensi pun menuntut pengendalian pada industri agar tak semata mengejar klik; pada regulator agar adaptif tanpa kehilangan prinsip; pada publik agar kritis tanpa sinis.

Ramadan selalu tentang menata ulang. Bukan hanya jadwal makan, tetapi juga cara kita memandang dan menyaring. Di tengah algoritma yang tak pernah tidur, mungkin justru kita yang harus belajar untuk memejamkan mata sejenak, memberi ruang bagi keheningan, bagi pertimbangan, bagi nurani.

Sebab pada akhirnya, layar hanyalah medium. Yang menentukan arah bukanlah kode-kode digital itu, melainkan pilihan kita, apakah akan membiarkan diri digiring oleh arus yang paling bising, atau memilih suara yang paling jernih.

Ramadan datang setiap tahun, tetapi lanskap medianya tak pernah sama. Tantangannya berubah, teknologinya melesat, tetapi pertanyaannya tetap yakni apakah ruang siar di televisi maupun di platform digital akan menjadi ruang yang meneduhkan, atau sekadar pasar yang paling ramai?

Di antara notifikasi dan azan, di antara klip viral dan kultum yang sunyi, kita diminta memilih. Dan mungkin di situlah makna puasa menemukan relevansinya yang paling mutakhir dengan menahan diri, bahkan ketika yang menggoda bukan lagi makanan, melainkan perhatian. Panjang umur kehidupan!

*Aan Haryono, SE., M.Med.Kom, Komisioner KPID Jatim 

Leave a comment