DUKUN | NUGres – Menjelang awal bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana di Kabupaten Gresik terasa semakin semarak. Warga Nahdliyin di berbagai tempat mulai menata batin, memperbanyak doa, dan menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah megengan, tradisi menyambut Ramadan yang kerap diisi dengan doa bersama dan ziarah kubur.
Seperti yang dilakukan ratusan warga Nahdlatul Ulama di Ranting NU Tebuwung, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Dengan penuh khidmat, anggota Muslimat NU dan Fatayat NU Ranting Tebuwung menggelar megengan ziarah kubur pada Rabu (19/2/2026) sore.
Tradisi yang terus terjaga ini menjadi bagian penting dari persiapan mental dan spiritual menjelang Ramadan. Megengan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum untuk mempererat kebersamaan, menguatkan ikatan sosial, sekaligus mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan mulia yang layak disambut dengan hati bersih.
Ketua Pimpinan Ranting Muslimat NU Tebuwung, Hj Syaghofah Zaini, mengatakan bahwa megengan dilaksanakan dengan doa bersama yang melibatkan keluarga, tetangga, komunitas, hingga warga sekitar. Selain sebagai ungkapan syukur, megengan juga dimaknai sebagai sarana memohon ampunan dan keberkahan menjelang Ramadan.
Kegiatan megengan kali ini dipusatkan di makam desa, tepatnya di makbarah almarhum almaghfurlah KH Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Al Karimi. Ratusan peserta tampak kompak mengenakan seragam hijau kebanggaan Muslimat dan Fatayat NU. Mereka mengikuti rangkaian doa dengan khusyuk dan penuh tawadhu, memanjatkan harapan terbaik untuk keluarga yang telah mendahului.
“Alhamdulillah sore ini, jelang detik-detik datangnya bulan Ramadan, Muslimat dan Fatayat NU Ranting Tebuwung kesekian kalinya bisa istiqamah menggelar megengan (ziarah kubur) untuk keluarga kita dengan tujuan mendoakan,” ungkapnya.
Bu Nyai Syaghofah menambahkan, melalui doa dan kebersamaan dalam megengan, masyarakat berharap dapat memasuki bulan puasa dengan hati yang lebih bersih serta kesiapan spiritual yang lebih matang. Menurutnya, tradisi megengan mengandung nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga kini
“Megengan bukan sekadar tradisi, tetapi sarana memperkuat kebersamaan, saling mendoakan, dan menegaskan pentingnya persiapan lahir dan batin sebelum Ramadan,” jelasnya.
Di akhir, sosok perempuan yang aktif dalam komunitas Bu Nyai Nusantara Kabupaten Gresik itu berharap kegiatan ini dapat menjadi penguat iman dan takwa kepada Allah SWT, sekaligus pengingat akan kefanaan hidup. Megengan juga dinilai menjadi media edukasi amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah yang terus hidup di tengah masyarakat.
“Semoga kegiatan ini menambah keimanan dan ketakwaan, mengingatkan kita pada kefanaan hidup, serta menguatkan amaliyah ke-NU-an,” pungkasnya.
Penulis: Syafik Hoo
Editor: Chidir Amirullah

