Ratusan Pengurus Syuriyah NU se-Gresik Ikuti Silaturahim dan Penguatan di Ponpes Mambaus Sholihin

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Ratusan Rais dan Katib Syuriyah NU dari jajaran Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) se-Gresik penuh antusias mengkuti Silaturahim dan Penguatan Syuriyah di Ponpes Mambaus Sholihin, Sabtu (7/2/2026). Foto: NUGres

GRESIK | NUGres – Suasana khidmat menyelimuti Aula Darun Nadwah Rushyaifah, Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Manyar, Gresik, Sabtu (7/2/2026). Di tempat tersebut berlangsung kegiatan Silaturahim dan Penguatan Rais serta Katib Syuriyah Nahdlatul Ulama dari seluruh ranting NU se-Gresik yang tersebar di 16 kecamatan.

Ratusan pemuka NU dari tingkat cabang, majelis wakil cabang (MWCNU), hingga ranting NU dari berbagai desa hadir bersama untuk mempererat silaturahim sekaligus mendapatkan penguatan mengenai peran dan fungsi Syuriyah dalam struktur organisasi NU.

Penguatan peran Syuriyah NU se-Gresik disampaikan melalui taujihat oleh Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir. Selain itu, pendalaman materi juga disampaikan oleh jajaran Syuriyah PCNU Gresik.

Bupati Gresik, H Fandi Akhmad Yani, SE, M.MB, yang turut hadir di tengah jajaran kiai dan ulama, menyampaikan rasa syukur dapat mengikuti kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PCNU Gresik atas sinergi yang selama ini terjalin dengan Pemerintah Kabupaten Gresik.

“Terima kasih atas sinergi, kerja sama, dan dukungan spiritual antara Pemerintah Kabupaten Gresik dan PCNU yang sudah terjalin dengan baik. Kita bersama-sama menjalankan program dalam satu bingkai, menjaga Kabupaten Gresik tetap aman dan kondusif,” ungkap Gus Yani.

Gus Yani berharap hubungan yang sudah terjalin baik antara Pemerintah Kabupaten Gresik dan PCNU Gresik dapat semakin erat dan kuat demi kepentingan masyarakat.
Sementara itu, dalam taujihatnya, KH Abdul Matin Djawahir memaparkan secara rinci genealogi berdirinya Nahdlatul Ulama. Menurutnya, NU lahir dari kekuatan silaturahim para kiai pesantren yang kokoh dan berkesinambungan.

Kiai Matin juga menegaskan bahwa memasuki abad kedua, NU harus menyadari bahwa perubahan merupakan hal wajar dalam dinamika organisasi. Ia menyoroti berbagai peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu, yang menurutnya menjadi pelajaran penting bahwa NU membutuhkan aturan yang lebih sharih atau jelas, terutama terkait mandat kepemimpinan.

“Kembalikan duduk semula. Nahdlatul Ulama berdiri, ada kiainya, siapa? Rais. Ada kiainya, siapa? Rais Aam. Segala sesuatunya ditata dengan musyawarah, tetapi kalau deadlock (buntu), Rais Aam harus punya veto. Karena di dalam anggaran dasar Nahdlatul Ulama disebutkan bahwa Rais Aam atau Rais adalah pimpinan tertinggi,” tutur Kiai Matin, sebagaimana dalam arsip NUGres Channel.

Ia juga meminta doa kepada seluruh hadirin agar agenda Konferensi Besar (Konbes) mendatang dapat menghasilkan penyempurnaan aturan yang paling jelas dan tegas. Kiai Matin menutup dengan analogi khas pesantren yang disampaikan dengan gaya kelakar.

“Seperti pesantren, pimpinan tertinggi adalah kiai. Tanfidziyah itu lurah pondok. Lurah pondok mengatur keseluruhan, tetapi tetap di bawah kiai. Lah, kiainya tidak boleh galak-galak, kan begitu,” ujarnya.

Kegiatan silaturahim dan penguatan Syuriyah NU se-Gresik ini menjadi semakin istimewa karena dibingkai dalam peringatan 1 Abad Lahirnya PCNU Gresik tahun Hijriah, sekaligus 1 Abad Nahdlatul Ulama versi Masehi.

Pada kesempatan tersebut juga digelar sesi penganugerahan kepada para tokoh NU, Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah dari masa ke masa di Gresik. Penganugerahan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus peneguhan bahwa sejarah NU Gresik dibangun dari dedikasi banyak pihak lintas generasi.

Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment