Oleh: Nur Fakih*
KOLOM KALEM | NUGres – Sebanyak 69 santri, mulai dari santri awal babat alas berdirinya pondok, sampai era algoritma, menuangkan kisahnya sendiri-sendiri dalam buku yang diberi judul: “Sisik Melik Santri Suci, Kado Setengah Abad Mambaus Sholihin” (SMSS). Diibaratkan sebuah cobek tempat ngulek beragam bumbu masak, cerita-cerita asam manisnya kehidupan pesantren, pahit getirnya menjadi santri, amuk senyum kiai, semuanya tumplek blek tertuang di dalam buku yang tidak boleh tidak dibaca. Dari sinilah transformasi intelektual dan spiritual membentuk karakter santri yang Wabil Khidmati Yantafi’ Wabil Hurmati Yartafi’ (Dengan khidmah seseorang mendapatkan manfaat, dan dengan menunjukkan hormat seseorang akan diangkat derajatnya).
Sebagai kado para penulis berusaha mengeksploitasi kenangan masa kecilnya di pesantren, sehingga buku kisah ini bukan hanya berisi soal cerita-cerita klangenan saja, tetapi dari judul ke judul tulisan santri Suci sedikit demi sedikit membuka tabir rahasia Ponpes Mambaus-Sholihin bisa berkembang lebih cepat dari usianya. Lima puluh tahun bukan waktu panjang, tetapi pondok pesantren Mambaus-Sholihin sudah memiliki ribuan santri yang berdatangan dari pelbagai daerah di Indonesia. Alumninya sudah berkhidmah mulai dari ujung barat sampai ujung timur negeri sampai melintasi benua. Medan perkhidmatannya pun melebar dari kiai, pengasuh ponpes, pendakwah ke jabatan-jabatan publik, penyelenggara negara, dosen, guru, birokrat, diplomat, politisi, pengusaha, sastrawan juga aktivis pergerakan sosial keagamaan.
Bagai kereta Woosh saja, Ponpes Mambaus-Sholihin yang berpusat di Desa Suci Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik, saat ini sudah memiliki 10 pondok cabang yang berdiri di hampir seluruh wilayah nusantara. Belum lagi sejumlah pondok alumni atau pondok pesantren yang didirikan alumni pondok Suci. Pondok cabang dan pondok alumni menjadi jaring laba-laba yang memperkekokoh posisi Ponpes Mambaus-Sholihin, baik secara sanad keilmuan maupun kelembagaan. Apalagi Ponpes Mambaus-Sholihin ini sebelumnya telah menjalin tali silaturrahmi yang kuat dengan pesantren-pesantren salaf maupun modern.
Dan pertanda sebuah institusi itu hidup adalah selalu bergerak maju. Berdirinya unit-unit usaha ekonomi, lembaga pendidikan tinggi jenjang S1 sampai S3 dan saat ini sedang dibangun rumah sakti di Desa Suci, membuktikan bahwa pesantren ini dikelola dengan baik. Dan buku SMSS menghadirkan santri-santri yuntafi’ dan yurtafa’ sebagai kado untuk pondok yang sepanjang waktu tidak pernah tidur membersamai santri.
Meski buku ini tidak mengurai kisah sukses Ponpes Mambaus-Sholihin secara utuh dan rinci, tetapi buku yang ditulis secara berjamaah dari santri-santri dari keluarga ndalem, santri yang pernah menjadi khadam kiai, santri taat, santri malas, santri nakal, santri boyong, santri manut, pengurus pondok dan lainnya, bisa mengantarkan pembaca ke dalam ruang pesantren yang dinamis, agresif progresif tidak monoton, mandeg di satu titik mati. Kisah 69 santri, kisah mandiri yang ditulis dari sudut pandang berbeda, sangat colourful menggampangkan pembaca untuk bertransaksi sendiri-sendiri sampai kemudian memperoleh jawab tentang pondok pesantren Mambaus-Sholihin itu apa, siapa saja pelakunya, mengapa dan bagaimana mengelola sebuah lembaga pesantren maju sepesat ini.
Bagaimana kiai mengelola sebuah pesantren? Agus HM Zainul Huda putra kedua KH Masbuhin Faqih menulis sebuah kisah yang membikin nalar dan hati pembaca langsung tersentak. Dengan judul ‘Mondok Dititipkan Kondektur’ (halaman 3), seakan ada tradisi pesantren yang “ditabrak”. Wali santri yang seharusnya menitipkan ke kiai sebelum masuk pondok, tetapi ada bapak yang justru menitipkan anaknya yang masih kecil kepada kondektur bus jurusan Surabaya–Tuban. Karena tradisi kuat wali santri harus sowan ke kiai itu, Nailul Ni’am menulis ‘Mondok Sowan Ke Kuburan’ (halaman 138). Ceritanya, saat orang tuanya tidak bisa menemui kiai, maka orang tuanya nyowankan Nailul Ni’am ke leluhur kiai yang sudah wafat di kuburan.
“Saat itu al-faqir tidak mengerti. Yang al-faqir rasakan hanya sedih. Namun semakin tumbuh dewasa, al-faqir paham, ternyata itulah bentuk cinta yang dewasa, bukan memanjakan, bukan selalu mengabulkan keinginan tetapi menuntun ke jalan yang baik meski terasa berat,’’ tulis Agus H.M. Zainul Huda, yang kini menjadi kiai pengasuh Ponpes Mambaus-Sholihin di Gresik Selatan. Kiai Masbuhin memberi contoh cara mendidik santri, apalagi pada anaknya sendiri harus “tegas dan tega”.
Tegas dan tega juga diterapkan pada santri yang bermalas-malasan, suka tidur pada waktu pelajaran dan suka mbolos. Anak seperti itu “dimarahi” dengan cara membakar semangatnya untuk terus belajar. Dia diberi tantangan mondok kilatan selama 40 hari ke lain pesantren untuk melakukan sah-sahan kitab-kitab Romo Kiai Masbuhin. Hasilnya? semua perintah kiai ditaati dan beberapa kitab refrensi pesantren semua penuh dengan sah-sahan, kisah ini ditulis Kepala Sekolah SD YIMI Full Day School Gresik, Abdul Adim ‘Kilatan 40 hari dan Kain Hitam Ka’bah’, bisa dibaca pada halaman 33.
Ponpes Mambaus-Sholihin sering dikelompokkan sebagai pesantren salaf, tetapi dari beberapa penulis mengkisahkan beberapa kegiatan yang nganeh-nganehi dan gharizatul ‘adah seperti tulisan berjudul ‘’Romo Kiai Berseragam Pramuka’ (halaman 30), yang ditulis Muhammad Rofian Karim. Juga tulisan Badrut Taman berjudul ‘Smash Kiai’ (halaman 18). Kisah dua santri ini menggambarkan pondok ini tidak hanya mengajarkan kitab kuning seperti yang diajarkan di ponpes salaf, tetapi santri juga dikenalkan pendidikan yang diterapkan di pondok modern. Sejak mondok, santri sudah dikenalkan disiplin tinggi, mentaati aturan yang ketat. Dalam keseharian santri diwajibkan berbahasa Inggris dan Arab, berangkat sekolah harus berpakaian rapi, bercelana dan bersepatu, sesuatu yang tidak ditemukan di lingkungan pesantren salaf.
Modernisasi tidak perlu ditakutkan, kata Maftuh yang menulis ‘Sambel Terong Langitan yang Mengubahku’ (halaman 194). Menurut dia, pesantren salaf tidak perlu takut kehilangan ruhnya dengan mengembangkan kurikulum modern, memperkuat pendidikan formal hingga perguruan tinggi. ‘’Karena itu, banyak alumni Mambaus-Sholihin, meski kini berjas, berdasi, dompet tebal, rekening gendut, berbicara dengan campuran istilah fikih dan ‘corporate terms’, tetapi mereka merasa pulang ketika kembali ke pesantren. Mereka mungkin berubah, tetapi grativasi ruhani pesantren tidak pernah lepas dari hati,’’ tulis Dr. Maftuh yang menjadi dosen UNKAFA dan Ketua Umum HIMAM.
Seperti juga yang ditulis Mohammad Athoillah ‘Gara-gara 5 Menit Santri Suci Punya 11 Restoran di Amerika’ (halaman 104). Santri yang selalu ingat dawuh kiai bahwa kelak jika ingin menjadi ulama salaf disuruh sekolah di Yaman tetapi jika ingin menjadi ulama intelektual disuruh kuliah di Mesir. Meski gagal kuliah di Mesir, tetapi berkat jiwa santri yang ditanamkan sejak di Mambaus-Sholihin, Mohammad Athoillah kini memiliki 11 restoran di Amerika.
Modernisasi sungguh tidak menjauhkan santri dari kedekatan, ketaatan, kecintaannya serta doa kiai. Kisah-kisah; ‘Guru Besar Santri’ (halaman 59) oleh Nasrullah, ‘Kejutan di Walisongo’ (halaman 249) yang ditulis Elly Uzlifah, dan cerita ‘Lempari Mobil Berbuah Doa’ (halaman 83) yang ditulis Aang Khunaifi adalah sederet kisah yang bisa menjadi contoh bahwa Ponpes Mambaus-Sholihin adalah bentuk lain dari pondok pesantren yang memiliki kekhasan dalam mempertemukan pola pikir langit dan bumi.
Santri Suci tetap salaf, doa kiai tetap diharap dan tulisan; Siswahyudi dalam kisahnya ‘1001% Barokah Kiai’ (halaman 178), M. Arif Rifqiannur yang menceritakan ‘Jodohku Direstui Lewat Mimpi’, dan M Bagus Ibrahim yang mengangkat tema ‘Misteri Empat Puluh Satu Fatihah’, dan lainnya adalah contoh-contoh pengalaman spiritual santri yang tidak bisa dijauhkan dari kiainya. Bahkan saat seorang santri sudah tidak dikehendaki kiai untuk tinggal di pondok karena melakukan pelanggaran berat tetap saja kedekatan kiai dengan santri terjalin penuh kasih, seperti yang diangkat Fikri Mahzumi dalam tulisannya ‘Diboyong Bukan Akhir segalanya’. Meski diharuskan “boyong” ternyata kini Fikri Mahzumi menjadi orang penting sebagai staf pengajar di UNKAFA.
Buku SMSS menempatkan sosok Romo Kiai Masbuhin Faqih sebagai aktor utama dalam kisah-kisah santri yang penuh inspiratif. Dawuh-dawuhnya, senyumnya, wajah sejuknya, doa-doanya, sikap dan kesehariannya adalah gambaran live streaming yang menjadi ketauladan abadi dalam diri santri. Sehari semalam Kiai Masbuhin membersamai santri dalam pengajaran, peribadatan, pembacaan wirid dan penegakan disiplin pondok.
Terdapat tiga poros yang menjadi senjata Trisula KH Masbuhin Faqih dalam mengembangkan Ponpes Mambaus-Sholihin. Pengalaman KH Masbuhin Faqih menjadi santri Pondok Modern Gontor, santri Pondok Langitan Babat Tuban, dan mengikuti laku Tariqah Kiai Usman Sawah Pulo, merupakan tiga arus besar yang berhasil disatukan untuk membangun sebuah lembaga pendidikan pesantren yang memiliki diferensiasi, tidak keluar dari mainstream tetapi ketiganya saling memperkaya.
Ciri khas pesantren salaf dipertahankan, ruang-ruang kosongnya diisi sentuhan pendidikan modern, begitu pula ruang-ruang kosong yang tidak digarap pesantren modern digelontor dengan sistem pendidikan salaf. Dan pada akhirnya kedua sistem pendidikan itu dibungkus dalam selimut laku Tareqat. Lahirlah Pondok Pesantren Mambaus-Sholihin yang tersukses mengkloning ruh pesantren modern, pesantren salaf dan laku tarekat dengan damai.
Serpihan-serpihan kisah santri Suci ini belum memberi kado untuk 50 tahun Ponopes Mambaus-Sholihin, tetapi bisa menjadi pintu untuk menulis lebih dalam lagi bagaimana pondok pesantren ini dikelola, bagaimana mensinergikan antara pesantren salaf dan pesantren modern dan laku tarekat dan bagaimana mengarusutamakan model pendidikan bergaya Mambaus-Sholihin sehingga menjadi pilihan umat, sekaligus bisa menjadi opsi penting dalam menata pendidikan nasional yang carut marut ini.
Sebagai aktor utama, sosok KH Masbuhin Faqih sangat menarik dibuatkan sebuah buku biografi yang bisa memotret sepak terjangnya dalam mengembangkan pendidikan yang lebih modern dari yang sudah modern—dan pendidikan yang lebih salaf dari yang sudah salaf, sekaligus laku tarekatnya yang berhasil ditumbuh suburkan dalam diri santri. KH Masbuhin Faqih adalah sosok unik di jagad kiai-kiai pesantren salaf, di jagad kiai-kiai modern dan tentunya di kalangan laku kaum sufi.
*Nur Fakih, Pemerhati Sosial tinggal Gresik, Dewan Pakar Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN NU Gresik) masa khidmat 2021 – 2026.

