GRESIK | NUGres – Warga Kelurahan Pekauman, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, kembali akan menggelar Tradisi Kupat Pekauman pada Sabtu, 28 Maret 2026. Tradisi ini menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan sepekan setelah Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Lurah Pekauman, Agus Hariyono, menyampaikan bahwa pelaksanaan tradisi tersebut tetap mengikuti pola yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kepastian jadwal ini disampaikan melalui pesan WhatsApp kepada awak NUGres pada Ahad (22/3/2026) pagi. “Insyaallah, Sabtu, 28 Maret 2026,” ujarnya singkat.
Pelaksanaan Tradisi Kupat Pekauman tidak lepas dari rangkaian ibadah yang dijalani masyarakat setempat. Setelah menunaikan Salat Idulfitri 1 Syawal, warga melanjutkan dengan puasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal. Tradisi kupatan kemudian digelar sebagai penutup rangkaian tersebut.
Sementara itu, tokoh masyarakat Pekauman, Ustadz Mokhamad Zaenuri, menjelaskan bahwa tradisi ini telah menjadi bagian dari identitas warga. Menurutnya, Kupatan Pekauman merupakan warisan budaya religius yang terus dijaga hingga kini.
“Setelah puasa Ramadan, warga melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, barulah tradisi ini digelar. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Pekauman,” jelasnya, Ahad (22/3/2026).
Ia menambahkan, tradisi ini bermula sejak masa Kiai Baka, seorang leluhur sekaligus sesepuh yang tinggal di kawasan Bekaka’an, Pekauman. Sejak saat itu, tradisi Kupatan terus dilestarikan oleh generasi penerus dan berkembang semakin meriah dari waktu ke waktu.
Dalam praktiknya, Tradisi Kupat Pekauman identik dengan suasana kebersamaan. Seluruh warga menggelar open house atau gelar griya, di mana hampir setiap rumah terbuka untuk menerima tamu. Tidak hanya keluarga dan kerabat, masyarakat dari luar daerah pun turut hadir untuk merasakan kehangatan tradisi tersebut.
Ustadz Zaenuri berharap kemeriahan yang terus berkembang tidak menggeser makna utama tradisi ini. Ia menekankan bahwa Kupatan Pekauman sejatinya menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkokoh silaturahmi antarwarga.
“Semoga tradisi luhur ini terus dilestarikan dengan tetap menjaga nilai-nilai utamanya, yakni memperkuat keimanan dan ketakwaan serta meraih rida Allah Swt., khususnya setelah menjalani ibadah puasa Ramadan,” pungkasnya.
Editor: Chidir Amirullah

