Antara Puasa Ramadan dan Zakat Fitrah

Redaksi NUGres Redaksi NUGres

Oleh: Erha Habibi Ash-shidiqie*

KAJIAN | NUGres – Zakat termasuk salah satu dari rukun Islam, arti zakat menurut bahasa adalah suci, bersih, bertambah, atau berkembang. Dalam konteks syariah Islam zakat artinya mengeluarkan sebagian dari harta benda tertentu untuk mensucikan harta dan jiwa dan harus ditasharufkan kepada para mustahiq zakat.

Kewajiban menunaikan zakat adalah wajib bagi setiap Muslim, maka barangsiapa yg mengingkari kewajiban zakat bisa menyebabkan kufur.

Zakat ada 2 (dua) macam, zakat fitrah dan zakat mal, kedua zakat ini memiliki perbedaan aturan pelaksanaannya, waktu menunaikannya, obyek yang dikeluarkan untuk menunaikan zakatnya.

Walau kedua zakat tersebut memiliki fungsi yang sama, yakni untuk membersihkan diri juga untuk membersihkan harta benda, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas karunia Allah yang telah kita terima, yang mana zakat itu harus diberikan kepada ashnaf mustahiq zakat, untuk membantu meringankan beban mereka.

Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an

خد من امولهم صدقةتطهرهم وتزكيهم بها

Artinya : Ambillah sebagian dari harta mereka, dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS At-taubah 103).

Pertama, Zakatul mal, secara umum aset yg harus dikeluarkan zakatnya adalah dari jenis emas dan perak, hewan ternak, bahan makanan pokok, buah-buahan tertentu dan harta tijaroh, pelaksanaan zakatnya ketika sudah mencapai haul dan sudah sampai pada nishabnya.

Kedua, Zakat fitrah atau zakat nafs, harus ditunaikan dalam bentuk makanan pokok yang berlaku dalam suatu negara, misal di Indonesia karena yang menjadi makan pokok sebagian besar rakyat Indonesia adalah beras, maka zakat fitrahnya harus ditunaikan dengan beras sebanyak satu sho’ atau sekitar 2,7 kilogram, waktu pelaksanaannya khusus hanya di bulan ramadan saja.

Menunaikan zakat bukan hanya sekedar melaksanakan ibadah spiritual saja, akan tetapi juga merupakan pilar keadilan sosial dan ekonomi dalam agama Islam. Sebagaimana hadits Rasulullah, “Lindungilah harta dengan zakat, obatilah orang yang sakit dengan sedekah, dan hadapilah musibah dengan doa.” (HR Thabrani).

Membayar zakat bukan hanya sekedar menunaikan kewajiban ibadah saja, melainkan juga sebagai sarana menebar manfaat dan keberkahan, disamping juga untuk membersihkan harta dan jiwa.

Apabila ada seseorang melaksanakan ibadah puasa di bulan romadhon namun tidak mau membayar zakat fitrah, maka pahala ibadah puasanya akan ditangguhkan oleh Allah, pahala itu digantung baina sama i wal ardl sampai orang tersbut selesai membayar zakat fitrahnya, khusus bagi yang mampu berzakat.

Sebagaimana keterangan yang ada dalam sebuah hadits yang disampaikan oleh shohabat Anas bin Malik Ra.

عن انس بن مالك عن االنبي عليه الصلاة وسلام انه قال : صوم العبد معلق بين السماء والأرض حتى يؤدى زكاة الفطر

Dari Anas bin Malik dari nabi Muhammad Saw, sesungguhnya nabi bersabda, (Pahala) ibadah puasanya seorang hamba itu digantung diantara langit dan bumi, sampai ia menunaikan zakat fitrahnya.

Maksud dari konsep hadits tersebut adalah pahala puasa seseorang dibulan romadhon itu, akan diberikan kepada orang tersebut setelah menunaikan zakat fitrahnya.

صدقة الفطر واجبة عملا لا اعتقادا. على الحر المسلم الماللك لنصاب فاضل عن الحواءج

Zakat fitrah itu wajib bagi setiap muslim yg merdeka yg mempunyai kelebihan makanan pokok pada saat memasuki akhir bulan ramadan hingga akan dilaksanakannya salat Idulfitri.

Zakat fitrah harus ditunaikan mulai dari terbenamnya matahari di akhir ramadan hingga sesaat sebelum melaksanakan sholat Idulfitri, tidak boleh di tunaikan setelahnya.

Dalam Durrotun Nashihin, sebuah kisah di zaman Rasulullah saw, Sayyidina Utsman bin ‘Affan pernah lupa belum menunaikan zakat fitrah saat akan melaksanakan salat Id. Kemudian setelah salat Id sayyidina ‘Utsman bin affan langsung menggantinya dengan memerdekakan budak. Ketika bertemu dengan Rasulullah saw sayyidina ‘Utsman menyampaikan masalah tersebut.

ثم جاء النبي عليه الصلاة والسلام فقال : يارسول الله نسيت زكاة الفطر قبل صلاة العيد فجعلت كفارته عتق رقبة، فقال عليه الصلاةوالسلام : لواعتقت ياعثمان ماءة رقبة لم ابلغ ثواب زكاة الفطر قبل صلاة العيد.

Ketika bertemu dengan Rasulullah sayyidina ‘Utsman menyampaikan, “Wahai Rasulullah, aku telah lupa menunaikan zakat fitrah sebelum salat Id, kemudian aku menggantinya dengan memerdekakan budak setelah salat Id.

Maka Rasulullah saw bersabda, “Wahai ‘Utsman seandainya engkau bebaskan 100 budak sekalipun, pahalanya tidak akan bisa menyamai sebagaimana pahala menunaikan zakat fitrah yang dilakukan sebelum salat ‘id.

*Erha Habibi Ash-shidiqie, warga Nahdliyin, tinggal di Kabupaten Gresik.

Leave a comment