Oleh: Putri Izzarul Isma*
Setiap 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional, yang ditetapkan berdasarkan hari lahir Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan yang dihormati sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Peringatan ini semestinya dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan; ia adalah pengingat akan nilai-nilai fundamental dalam dunia pendidikan.
Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, makna pendidikan kerap kali dipersempit menjadi sekadar alat untuk mendapatkan pekerjaan atau meningkatkan status sosial. Pandangan ini mengaburkan makna sejati pendidikan dalam pembentukan karakter, penguatan nilai perjuangan, dan penanaman ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Makna Pendidikan
Pendidikan merupakan bentuk komitmen terhadap martabat manusia. Ia bertujuan menumbuhkan kemandirian intelektual, otonomi pribadi, dan kemampuan berpikir kritis yang terus berkembang sepanjang hayat.
Lebih dari sekadar proses belajar, pendidikan menjadi sarana penting dalam mendorong kemajuan individu dan kolektif masyarakat. Dengan membekali setiap orang dengan keterampilan dan pengetahuan yang relevan, pendidikan membuka jalan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan serta memungkinkan partisipasi yang produktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Pendidikan seharusnya membentuk individu yang mandiri, sadar akan potensi dirinya, dan mampu menentukan arah hidupnya secara merdeka. seperti pemikiran Ki Hadjar Dewantara (1889-1959) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah “tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak” menegaskan bahwa peran pendidikan adalah membimbing peserta didik dalam menemukan jati diri mereka sebagai makhluk Tuhan dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab.
Di tengah kompleksitas zaman yang terus berubah, pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk menyiapkan generasi yang adaptif, inovatif, dan tangguh dalam menghadapi dinamika kehidupan. Namun, kemampuan tersebut hanya akan bermakna bila disertai dengan pembentukan karakter yang kuat, yang bersandar pada nilai-nilai moral dan spiritual.
Tanpa fondasi tersebut, pendidikan hanya akan mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara etika dan kemanusiaan.
Trilogi Pelajar dalam Konteks Pendidikan
Dalam kerangka ini, jika dikaitkan dengan konsep Trilogi Pelajar Nahdlatul Ulama (NU): Belajar, Berjuang, dan Bertakwa menjadi refleksi yang relevan untuk menghidupkan kembali makna pendidikan. Prinsip ini menegaskan bahwa menjadi pelajar bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental, konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan, dan menjunjung tinggi dimensi spiritualitas dalam kehidupan.
Belajar
Belajar adalah dasar eksistensial bagi pelajar NU bukan aktivitas pasif menghafal, melainkan proses aktif dalam memahami, merefleksi, dan menerapkan pengetahuan.
Sejalan dengan pandangan John Dewey (1859-1952), pendidikan sejati berasal dari “proses pengalaman yang terus-menerus.”.
Pengalaman berkesinambungan inilah yang membentuk kesadaran dan kemandirian intelektual. Dalam semangat pembelajar sepanjang hayat, pelajar dituntut untuk terus mengasah nalar, kreativitas, dan adaptif, terutama di tengah modernisasi dan globalisasi yang menuntut relevansi dan kontribusi berkelanjutan.
Berjuang
Berjuang menegaskan bahwa pendidikan adalah medan yang menuntut ketangguhan. Proses pencarian ilmu dan pembentukan karakter meniscayakan ketekunan, ketahanan terhadap kegagalan, serta komitmen terhadap nilai-nilai kebenaran. Sejalan dengan gagasan Howard Gardner (1983) tentang Multiple Intelligences, menekankan bahwa ketekunan dan kegigihan, selain kecerdasan kognitif, memainkan peran penting dalam mencapai keberhasilan.
Karena itu, pelajar perlu dibentuk dengan mental pejuang mereka yang tangguh, tidak tergoda jalan pintas, dan siap mengabdi demi kemajuan bersama.
Bertakwa
Bertakwa merupakan puncak dari proses pendidikan yang utuh. Pendidikan tidak berhenti pada kecerdasan intelektual, tetapi menuntun pada kecerdasan spiritual kesadaran akan Tuhan sebagai poros dalam berpikir, bertindak, dan berinteraksi.
Dalam Islam, ilmu dipandang sebagai jalan menuju peningkatan iman, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”. Ketakwaan mengarahkan ilmu pada kemaslahatan, bukan sekadar kepentingan individual.
Dengan merefleksikan Trilogi Pelajar: Belajar, Berjuang, dan Bertakwa, kita mengembalikan esensi sejati pendidikan. Pendidikan bukan hanya untuk mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk manusia yang cerdas, tangguh, dan berakhlak mulia.
Momentum Hardiknas harus menjadi dorongan bagi semua pihak pemerintah, pendidik, orang tua, dan pelajar untuk menciptakan pendidikan yang seimbang antara ilmu, karakter, dan ketakwaan. Dengan demikian, kita akan melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan dunia dan tetap menjunjung nilai luhur bangsa serta agama.
*Putri Izzarul Isma, Anggota Jarkominfo PC IPPNU Gresik