Di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari Tebuireng, Penyair Gresik Mardi Luhung Turut Meriahkan Hari Jadi ke-6 Yayasan Jejaring Duniasantri

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Penyair Nasional Mardi Luhung saat membacakan puisi dalam acara perayaan ke-80 Tahun Kemerdekaan RI dan Hari Jadi ke-6 Jejaring Duniasantri, Rabu (20/8/2025). Foto: YouTube Tebuireng Official

GRESIK | NUGres – Merayakan Hari Jadi ke-6 tahun Yayasan Jejaring Duniasantri menggelar panggung seni dan budaya yang dilangsungkan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Tepatnya, di Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy’ari, Rabu (20/8/2025) malam.

Dalam siniar YouTube Tebuireng Official, disampaikan video profil mengenai Yayasan Jejaring Duniasantri, yang lahir pada 17 Agutus 2019 silam sebagai ruang menyambut era digital tradisi literasi santri yang tidak hanya bertahan tapi juga berkembang pesat. Jejaring Duniasantri hadir sebagai wadah bagi santri untuk berkarya, berekspresi dan memperkuat melalui tulisan.

Jejaring Duniasantri konsisten menggerakkan literasi santri. Dimulai dari workshop kepenulisan di Bogor, Lampung, hingga Tasikmalaya, secara luring maupun daring telah melatih ribuan santri. Lebih dari 8000 naskah diterima, 4300 karya dipublikasikan, dan dibaca oleh jutaan orang dari 138 negara.

Sebagai pelopor jurnalisme santri, Jejaring Dunia Santri mewadahi suara pesantren yang Rahmatan Lil Alamin. Melalui gerakan literasi digital tradisi pesantren tetap lestari sekaligus relevan dengan perkembangan zaman. Santri adalah garda terdepan dalam merawat NKRI dan menyebarkan Islam yang moderat.

Setiap tahun Jejaring Duniasantri menggelar ragam acara, dari sarasehan kebangsaan, lomba karya tulis hingga pentas seni budaya pesantren. Di usia ke-6 pada tahun 2025, Jejaring Dunia Santri merayakannya dengan tema “Dzikir Kemerdekaan, Menggali Pemikiran KH Hasyim Asy’ari dan Refleksi Kebangsaan” di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

“Jadi ini sebetulnya kita ini dari rasan-rasan dulunya. Ngobrol-ngobrol di saung dengan para senior. Pesantren itu kan khazanah tradisi Nusantara yang masih eksis sampai sekarang. Saya selalu mengumpamakan pesantren itu seperti mata air, yang memancarkan air jernih peradaban. Tapi selama ini, air yang jernih kurang terpancar secara baik karena gorong-gorongnya tertutup sampah peradaban,” ujar Dr Sastro El Ngatawi selaku Pembina Jejaring Duniasantri, dalam siaran Live YouTube Tebuireng Official, dilihat NUGres, Kamis (21/8/2025) pagi.

Lebih lanjut, Budayawan NU yang khas dengan blangkonnya itu menjelaskan bahwa sumbatan sampah peradaban dari barat ialah liberalisme, sedangkan sampah peradaban dari timur seperti fundamentalisme dan puritanisme agama.

Karenanya, Dr Sastro juga menegaskan melalui Jejaring Duniasantri, ikhtiar serta mengusung khazanah tradisi, budaya, nilai pesantren sedianya dapat dialirkan ke seluruh penjuru mata angin sehingga air jernih itu dapat menghidupkan benih-benih peradaban.

“Nah ini sebetulnya spirit dari Jejaring Duniasantri. Kita melihat potensi para santri untuk menulis itu luar biasa. Potensi para kiai untuk menulis–mengembangkan narasinya itu juga luar biasa. Tapi sarana untuk ini, untuk mengembangkan di dunia maya kurang. Akhirnya kita terpikir untuk bagaimana kita bersama-sama untuk membersihkan atau merebut, membuat gorong-gorong ini supaya bisa mengalirkan kembali mata air jernih dari peradaban pesantren,” ungkapnya.

Akhir-akhir ini, imbuh Dr Ngatawi Al-Zastrouw, bahwa pesantren mendapat dua tekanan, dari sisi kiri menghadapi liberalisme yang apa saja boleh. Sebaliknya, dari kanan, pesantren mendapatkan tekanan yang apa saja tidak boleh, yaitu gerakan puritanisme dan fundamentalisme agama.

“Sementara pesantren ini adalah suatu tatanan, sistem budaya Islam, yang menggunakan budaya, tradisi, yang istilahnya at-tarbiyatul Islamiyyah wa da’watul Islamiyyah bil manhaji auw bi thariqati ats-tsaqafah. Jadi kedua tekanan inilah yang akhirnya membuat kita harus kreatif, inovatif, dan memiliki suistanibilty yang kuat. Inilah yang mendorong kami akhirnya mengajak para santri membuat gerakan literasi di kalangan santri dengan mengeksplorasi, menggali, mengembangkan potensi yang dimiliki pesantren. Karena pesantren itu resources sangat banyak terutama di bidang kebudayaan, di bidang sejarah,” jelasnya.

Sementara pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz menyambut baik acara ini seraya menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Yayasan Jejaring Duniasantri atas usainya ke 6 tahun. Ia juga berharap para santri terus maju untuk menyambut masa depan.

“Peran santri-santri nanti di masa yang akan datang mudah-mudahan mampu untuk menempati di pos-pos penting di pemerintahan, di kemasyarakatan, dan di manapun. Kita mengharapkan bahwa santri ke depan mampu berperan lebih baik lagi,” tutur sosok yang juga merupakan Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur.

Dalam rangkaian acara tersebut para beberapa penyair Nasional, diantaranya hadir dari Kabupaten Gresik, Mardi Luhung yang turut diundang untuk membaca beberapa puisi karyanya. Selain itu, para santri tebuireng juga unjuk kebolehan mengekpresikan beragam pertunjukan seni di atas panggung tersebut. Acara kian meriah saat penampilan Wayang Santri dari Dalang Ki Haryo Enthus Sasmono.

Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment