DUDUKSAMPEYAN | NUGres – Momentum penghujung bulan Syawal 1447 H menjadi catatan sejarah baru bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama di Kecamatan Duduksampeyan. Untuk pertama kalinya, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Duduksampeyan menggelar Halal Bihalal dengan bersinergi bersama seluruh Badan Otonom (Banom) NU se-Kecamatan, Sabtu (18/4/2026).
Kegiatan Halal Bihalal penuh khidmat ini bertempat di aula lantai II gedung MWCNU Duduksampeyan, dengan mengusung tema “Satu Napas dalam Khidmah: Menebar Maaf, Menyatukan Langkah Menuju Terwujudnya Mabadi’ Khairo Ummah”.
Acara ini dihadiri oleh hampir 200 tamu undangan yang merupakan representasi dari seluruh elemen Nahdlatul Ulama di wilayah Kecamatan Duduksampeyan, mulai dari GP Ansor, IPNU, IPPNU, Fatayat NU, Muslimat NU, Pagar Nusa, ISHARI, KBIH, hingga LP Ma’arif NU.
Ketua Panitia, Shofi Taqiyyuddin, mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran acara yang selama ini dinanti-nantikan. Ia menyebutkan bahwa hajatan ini menjadi gerbang pembuka bagi kolaborasi antar-banom yang lebih solid dan lebih intens.
“Kegiatan ini adalah ajang silaturahmi sekaligus awal terbangunnya sinergitas antar Badan otonom NU dan MWCNU di Duduksampeyan. Kita tahu selama ini jarang sekali ada kegiatan yang melibatkan semua unsur secara bersamaan,” ujar Shofi.
Ia pun berharap, momentum ini semakin menguatkan ukhuwah diantara keluarga besar pengurus NU, banom dan lembaga-lembaga Nahdlatul Ulama, “Untuk melanjutkan misi para kiai, yaitu menjadi Mabadi’ Khairo Ummah yaitu umat terbaik,” tandas Shofi.
Hadir sebagai pemberi Mauidhah hasanah, Dr. KH. Moh. Toha dari Gresik. Ia mengupas tuntas akar sejarah Halal Bihalal hingga mengingatkan jamaah bahwa tradisi ini dicetuskan oleh salah satu pendiri NU, KH. Wahab Hasbullah, sebagai solusi cerdas untuk mendinginkan tensi politik bangsa yang memanas kala itu.
Tak hanya bicara sejarah, Kiai Toha yang juga A’wan PCNU Gresik itu dalam kesempatan itu menyoroti situasi geopolitik dunia saat ini, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Beliau berpesan agar umat Islam tidak terjebak dalam skenario adu domba.
“Islam harus bersatu. Baik itu Aswaja, Syiah, atau aliran apapun, jangan mau diadu domba. Persatuan adalah kunci menghadapi tantangan zaman,” tegas beliau di hadapan ratusan kader.
Kemeriahan acara ditutup dengan prosesi doa bersama dan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas bersatunya seluruh elemen NU Duduksampeyan dalam satu napas perjuangan.
Meski dikemas secara khidmat, panitia juga menyelipkan keceriaan melalui pembagian doorprize sederhana yang menambah keakraban antar-pengurus yang hadir. Dengan suksesnya acara perdana ini, MWCNU Duduksampeyan optimis dapat melangkah lebih jauh dalam melayani umat secara kolektif dan harmonis.
Penulis: M. Mudzakir
Editor: Chidir Amirullah

