GRESIK | NUGres – Kabupaten Gresik resmi menjadi tuan rumah Biennale Jatim XI. Ajang dua tahunan ini dibuka secara meriah di Gedung Pudak Galeri, Jalan Pahlawan, Gresik, pada Ahad (24/8/2025) malam.
Sejak pintu dibuka, Gedung Pudak Galeri dipadati pengunjung, terutama kalangan muda yang datang dari berbagai daerah. Mereka tampak antusias menikmati beragam instalasi seni bernuansa pesisir yang dipamerkan.
Di antara karya yang ditampilkan, tampak jala nelayan menjuntai, batang bambu yang disusun menyerupai penyangga geladak, hingga replika tempat bersandar perahu nelayan di pelabuhan rakyat. Ada pula instalasi bambu lengkap dengan anyaman, menyerupai jemuran ikan asin dan kerupuk hasil tangkapan nelayan dari Kampung Nelayan, Kelurahan Lumpur, Gresik.
Yang paling menarik perhatian adalah kain hijau berbentuk setengah lingkaran berumbai kuning dengan tulisan dekoratif “Hantu Laut”. Frasa tersebut ternyata menjadi tema besar Biennale Jatim XI tahun ini, yaitu Hantu Laut: The Specter of The Sea.
Kurator Biennale Jatim XI, Ismal Muntaha, dalam sambutannya menjelaskan bahwa tema “Hantu Laut” terinspirasi dari tulisan yang ditemukan pada lambung perahu milik seorang nelayan di Pesisir Lumpur, Gresik.
“Kami semakin percaya bahwa seni tidak lepas dari keseharian. Nama Hantu Laut itu diambil dari perahu milik Cak Barok. Kami terinspirasi, karena kekuatan budaya yang kadang tak terlihat sebenarnya sangat penting dalam membangun masa depan wilayah,” ungkap sosok yang juga merupakan penggiat seni dari Jatiwangi Art Factory (JaF).
Pria asal Majalengka yang akrab disapa Kang Ismal itu juga menyebut, hampir 70 seniman dari dalam dan luar negeri terlibat dalam Biennale Jatim XI. Gelaran ini akan berlangsung hingga 20 September 2025 dengan ragam kegiatan, termasuk pameran seni kontemporer di Gedung Pudak Galeri.
Lebih jauh, Kang Ismal menuturkan bahwa ia bersama para seniman mendapat banyak inspirasi dari Kabupaten Gresik, terutama terkait tradisi Haul dan Ziarah yang menjadi bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat.
Sementara itu, Direktur Biennale Jatim XI, Nabila, menggambarkan acara ini sebagai ruang pertemuan lintas latar belakang, mulai dari nelayan hingga seniman. “Semoga ruang temu ini dapat melahirkan jejaring baru dan kolaborasi berkelanjutan untuk pengembangan kebudayaan serta kesenian Jawa Timur,” ujarnya.

Bupati Gresik, H. Fandi Akhmad Yani, S.E., M.MB., yang akrab disapa Gus Yani, turut hadir dalam pembukaan. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi penyelenggaraan Biennale Jatim XI di Gresik. Gus Yani juga memperkenalkan Gresik sebagai kota dengan peradaban tua yang terbentuk oleh garis pantai panjang, sehingga melahirkan karakter budaya pesisir yang khas.
Selain seniman dan budayawan, acara pembukaan ini juga dihadiri Dirjen Pemanfaatan, Pembinaan, dan Pengembangan Budaya Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, serta Ketua Yayasan Biennale, Ayos.
Setelah seremoni peresmian, para pengunjung dipersilakan menikmati pameran seni kontemporer di Gedung Pudak Galeri yang terdiri dari dua lantai. Untuk diketahui, pameran Biennale Jatim XI di Gedung Pudak Galeri ini terbuka untuk umum dan gratis setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.
Editor: Chidir Amirullah

