Haul ke-101 KH Muhammad Zubair, Ulama Penggerak Dakwah di Jantung Kota Gresik

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Haul ke-101 KH Muhammad Zubair berlangsung penuh khidmat di Langgar Pondok Pekauman Gresik, Jumat (17/4/2026) sore. Foto: Chidir/NUGres

GRESIK | NUGres – Menjelang senja, lorong gang di kawasan pemukiman Kelurahan Pekauman, Kecamatan Gresik, berubah menjadi lautan manusia. Langkah demi langkah jamaah mengalir menuju sebuah bangunan tua yang sederhana namun sarat makna, Langgar Pondok KH Muhammad Zubair. Di tempat inilah jejak sejarah dakwah Islam di pusat Kota Gresik terus hidup, menembus zaman.

Jumat sore, 17 April 2026, gang-gang menuju langgar itu ditutup sementara selepas salat Asar. Bukan karena keramaian biasa, tetapi karena ratusan jamaah dari berbagai penjuru datang menghadiri Haul ke-101 KH Muhammad Zubair, seorang ulama yang dikenang sebagai penggerak dakwah Islam di kawasan perkotaan Gresik.

Jamaah memadati setiap sudut langgar, bahkan meluber hingga sepanjang gang perkampungan. Tua-muda, tokoh agama, masyarakat umum, semuanya duduk bersimpuh dalam suasana khidmat. Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri ritual tahunan, tetapi untuk menyambung ingatan kolektif tentang seorang ulama yang pernah menyalakan cahaya keislaman di tengah masyarakat kota.

Bangunan bersejarah itu menjadi saksi bisu betapa kuat pengaruh dakwah KH Muhammad Zubair. Papan nama bertuliskan Langgar Pondok KH Muhammad Zubair di gerbang seolah menegaskan bahwa tempat itu bukan sekadar bangunan tua, melainkan pusat denyut perjuangan dakwah yang meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah keagamaan Gresik.

Sejumlah ulama dan tokoh agama hadir dalam majelis penuh barokah itu. Di antaranya Mustasyar PCNU Gresik KH Abdullah Anam, Ketua Umum MUI Kabupaten Gresik KH Aunur Rofiq Thoyyib, serta para kiai dan tokoh masyarakat lainnya. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa jasa KH Muhammad Zubair masih terus dikenang lintas generasi.

Rangkaian acara haul berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Ketua Tanfidziyah MWCNU Gresik, Ustadz Zainuri, memandu susunan acara dengan penuh khidmat. Lantunan Surat Yasin dipimpin oleh KH Muhammad Zainul Amin, disusul pembacaan tahlil oleh KH Ahmad Reza, lalu rangkaian doa yang dipimpin secara bergantian oleh para ulama sepuh Gresik.

Di tengah suasana religius itu, yang terasa bukan sekadar kekhidmatan ritual, tetapi juga kehangatan silaturahmi dan kuatnya ikatan spiritual antargenerasi. Para jamaah duduk tenang, larut dalam doa-doa, seakan merasakan kembali ruh perjuangan dakwah yang diwariskan KH Muhammad Zubair lebih dari satu abad lalu.

Salah satu pandangan penting datang dari Kiai Mudhofar Usman, sesepuh Pondok Pesantren Qomaruddin, yang turut hadir dalam haul tersebut. Menurutnya, KH Muhammad Zubair memiliki peran besar dalam membangkitkan kembali dakwah Islam di kawasan perkotaan Gresik.

“Sebelum Kiai Zubair datang, tidak tampak ada yang berani tampil sebagai tokoh keagamaan. Baru di era Kiai Zubair, dakwah itu bergerak kembali. Beliau berhasil menghidupkan kembali gerakan dakwah,” ungkapnya, Jumat (17/4/2026) sore.

Pernyataan itu memperlihatkan betapa sentral peran KH Muhammad Zubair pada zamannya. Di tengah kondisi sosial yang belum banyak melahirkan figur pemimpin agama di wilayah kota, beliau hadir membawa keberanian, keteladanan, dan semangat dakwah yang menggerakkan masyarakat.

Dari sebuah langgar sederhana di jantung kota, KH Muhammad Zubair menanamkan nilai-nilai Islam yang terus bertahan hingga kini. Apa yang beliau wariskan bukan hanya pengajian atau majelis ilmu, tetapi fondasi spiritual masyarakat Gresik yang tetap kokoh meski zaman berubah.

Haul ke-101 ini bukan semata peringatan tahunan. Ia menjadi momentum untuk mengenang bahwa dakwah besar sering lahir dari tempat yang sederhana, dari ketulusan seorang ulama yang bekerja dalam senyap, namun meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.

Ketika acara usai, para jamaah saling bersalaman, para tokoh berbincang hangat, dan suasana langgar tetap terasa teduh. Di tempat itu, warisan KH Muhammad Zubair masih hidup bukan hanya dalam cerita, tetapi dalam semangat dakwah yang terus menyala di Kota Gresik.

Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment