Momen Hari Jadi ke-539 Gresik: PC Fatayat NU Ziarahi 13 Tokoh Perempuan, Teladani Kontribusi Peradaban Islam di Jawa

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Di tengah momentum peringatan Hari Jadi ke-539 Kabupaten Gresik, sekaligus International Women's Day 2026, PC Fatayat NU Gresik melakukan tapak tilas dengan menziarahi 13 tokoh perempuan pemengaruh Peradaban Islam di Jawa. Foto: dok PC Fatayat NU Gresik/NUGres

GRESIK | NUGres – Kabupaten Gresik memiliki sejarah panjang tentang peran perempuan dalam pembangunan peradaban dan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Diantara bukti peran perempuan dalam perlintasan sejarah itu dapat ditemukan pada makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik. Batu nisan yang bertanggal sekitar 475 H/1082 M tersebut sering disebut sebagai salah satu bukti arkeologis keberadaan Islam di Jawa, bahkan di kawasan Asia Tenggara.

Keberadaan makam tersebut menunjukkan bahwa jaringan dakwah Islam di pesisir Jawa telah terbentuk jauh sebelum era Wali Songo. Hal ini sekaligus menandaskan kalau perempuan hadir serta turut berkontribusi dalam proses awal penyebaran Islam di Nusantara.

Dengan semangat meneladani perjuangan para tokoh ulama perempuan tersebut, Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Gresik bersama Kebun Pemulihan berikut jejaring organisasinya, menggelar ziarah sejumlah tokoh perempuan di Kabupaten Gresik pada Ahad, 8 Maret 2026.

Ziarah dimulai mulai pukul 07.00 WIB, dengan mengunjungi 13 situs makam tokoh perempuan yang memiliki jejak penting dalam sejarah keagamaan dan sosial masyarakat Kabupaten Gresik. Beberapa titik ziarah berada di wilayah Kecamatan Kebomas, di antaranya makam Dewi Sekardadu, Putri Cempo, Nyai Ageng Putri Kukusan (putri Sunan Giri), Nyai Ageng Usami (istri ketiga Sunan Giri), Mbah Nyai Kramat Rahayu di Klangonan, Nyai Condrodipo, serta Mbah Kemuning Gending.

Sementara itu, di wilayah Kecamatan Gresik, rombongan juga berziarah ke makam Nyai Ageng Pinatih, Nyai Ageng Arem-arem, Nyai Hj. Khuzaimah, Buyut Cindih, dan Buyut Fatimah. Rangkaian ziarah ditutup dengan mengunjungi makam Fatimah binti Maimun yang berada di Kompleks Makam Panjang Leran, Kecamatan Manyar.

Sejumlah pengurus PC Fatayat NU Gresik juga menziarahi makam pendiri Fatayat NU, Nyai Chuzimah Mansur di Makam Islam Tlogopojok Gresik. Foto: dok PC Fatayat NU Gresik/NUGres
Sejumlah pengurus PC Fatayat NU Gresik juga menziarahi makam salah satu tokoh pendiri Fatayat NU, Nyai Chuzimah Mansur, di Makam Islam Tlogopojok, Gresik. Foto: dok PC Fatayat NU Gresik/NUGres

Ketua PC Fatayat NU Gresik, Masruroh, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar tradisi spiritual semata, melainkan juga upaya merawat ingatan sejarah peradaban, bagaimana kontribusi perempuan dalam perjalanan Islam di Gresik.

“Melalui ziarah ini kami ingin mengingatkan kembali bahwa sejak awal proses islamisasi di pesisir Jawa, perempuan juga memiliki peran penting. Tokoh-tokoh perempuan seperti Fatimah binti Maimun dan para Nyai di Gresik menjadi bagian dari mata rantai perjuangan dakwah dan pembangunan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Gresik memiliki tokoh penting dalam sejarah gerakan perempuan Nahdlatul Ulama. “Kita juga patut bangga, karena salah satu pendiri Fatayat NU berasal dari Gresik dan dimakamkan di Gresik, yaitu Bu Nyai Chuzaimah Mansur,” imbuhnya.

Menurut Masruroh, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi kader perempuan agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Dengan meneladani perjuangan para tokoh perempuan, generasi hari ini diharapkan dapat melanjutkan nilai-nilai tersebut melalui kerja-kerja sosial, pendidikan, dan dakwah di tengah masyarakat.

“Ziarah tokoh perempuan merupakan cara merawat ingatan kolektif tentang peran perempuan dalam sejarah. Tradisi ini mengingatkan bahwa perempuan bukan sekadar bagian dari sejarah, tetapi juga penggerak perubahan. Melalui jejak para tokoh perempuan, kita diingatkan bahwa kontribusi perempuan dalam pembangunan, termasuk di ranah politik dan ruang publik, telah berlangsung sejak lama. Spirit inilah yang perlu terus dihidupkan agar semakin banyak perempuan berani mengambil peran dalam menentukan arah masa depan masyarakat yang lebih inklusif,” pungkasnya.

Penulis: Nensi Indriati
Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment