SURABAYA | NUGres – Ngaji Ramadan yang digelar di Kantor PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Provinsi Jawa Timur, menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memperkuat keseimbangan antara spiritualitas dan intelektualitas.
Kegiatan yang diinisiasi Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur pada Rabu (11/3/2026) ini, menghadirkan dialog keagamaan yang mendorong generasi muda menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai landasan berpikir, bersikap, sekaligus bergerak dalam kehidupan sosial.
Forum ngaji Ramadan tersebut diikuti oleh mahasiswa dan pemuda dari berbagai latar belakang. Selain menjadi momentum penguatan spiritual di bulan suci, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ruang diskusi untuk membahas peran generasi muda dalam menjawab tantangan zaman melalui pendekatan nilai-nilai Islam.
Hadir sebagai narasumber, KH. Achmad Ahid Sufiyaji menyampaikan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
“Al-Qur’an adalah cahaya kehidupan yang tidak hanya dibaca sebagai ibadah, tetapi juga menjadi inspirasi dalam membangun peradaban dan gerakan sosial,” ujarnya.
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Jawa Timur tersebut juga menjelaskan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai keislaman di tengah arus perubahan sosial yang semakin dinamis, dan menilai pemuda perlu menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Sementara itu, Dr. Abdullah Hamid menyoroti pentingnya keseimbangan antara kedalaman spiritual dan ketajaman intelektual di kalangan mahasiswa. “Kekuatan moral dan spiritual adalah fondasi utama bagi lahirnya generasi pemimpin yang berintegritas,” katanya.
Dosen Pendidikan Teknologi UINSA Surabaya tersebut juga menekankan, bahwa mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik. Menurutnya, integrasi antara spiritualitas dan intelektualitas akan melahirkan generasi muda yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur Timur, Mohammad Ivan Akiedozawa, menyampaikan, bahwa mahasiswa dan pemuda tidak boleh terlepas dari akar tradisi yang membentuk identitasnya.
“Para kader PMII tidak boleh terlepas dari akar tradisinya, yakni lahir dari lingkungan Nahdliyin yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan kebudayaan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan keagamaan seperti ngaji Ramadan perlu terus dihadirkan sebagai ruang penguatan spiritual bagi generasi muda, sekaligus menjadi wadah pembinaan karakter di tengah dinamika kehidupan modern.
Hal senada disampaikan M. Aqshal Hidayat, Wakil Ketua IV PMII Jawa Timur Bidang Hubungan Antar Umat Beragama. Ia berharap kegiatan tersebut mampu mempertemukan berbagai elemen dalam satu ruang dialog yang konstruktif.
“Kami ingin menghadirkan ruang pertemuan antara ulama, mahasiswa, dan pemuda agar nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi inspirasi gerakan sosial yang lebih luas,” ungkapnya.
Menurut Mantan Ketum PMII Gresik ini, momentum Ramadan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan ibadah personal, tetapi juga menjadi penggerak perubahan sosial yang lebih luas di tengah masyarakat.
Kegiatan ngaji Ramadan tersebut berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme peserta. Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang semakin mempererat kebersamaan antara ulama, mahasiswa, dan para pemuda yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Penulis: Sulthonul Azis
Editor: Chidir Amirullah

