Catatan Penurunan Jumlah Murid: Refleksi Hardiknas 2026, Satuan Pendidikan Jenjang Menengah LP Ma’arif NU Gresik

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Ilustrasi: Gemini Ai

Oleh: H. Mabrur Ajmain, S.Ag, M.M.*

KOLOM KALEM | NUGres – Sejak terjadinya pandemi Covid-19 pada tahun 2020, satuan pendidikan di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Gresik, khususnya pada jenjang menengah (MTs/SMP dan MA/SMA/SMK), mengalami tren penurunan jumlah peserta didik yang cukup signifikan. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, baik dari sisi eksternal maupun internal.

Salah satu faktor utama adalah perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran daring (online). Sistem ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua terkait efektivitas pembelajaran, kedisiplinan siswa, serta penggunaan teknologi yang tidak sepenuhnya dapat diawasi.

Banyak orang tua merasa bahwa pembelajaran daring kurang mampu membentuk karakter, kedisiplinan, dan pengawasan akhlak anak secara optimal.

Selain itu, muncul kecenderungan baru di masyarakat, khususnya di kalangan warga Nahdliyin, untuk lebih memilih pendidikan berbasis pesantren (mondok). Sebagian besar orang tua menilai bahwa pondok pesantren mampu memberikan pembinaan yang lebih komprehensif, baik dari segi ilmu agama, karakter (akhlaqul karimah), maupun pengawasan perilaku sehari-hari.

Hal ini semakin diperkuat oleh kekhawatiran terhadap dampak negatif penggunaan gadget selama pembelajaran daring.

Faktor lain yang turut berkontribusi adalah:

  • Kondisi ekonomi keluarga pasca pandemi, yang memengaruhi kemampuan dalam memilih sekolah.
  • Perubahan preferensi pendidikan, di mana integrasi antara pendidikan formal dan pesantren menjadi pilihan utama.
  • Persaingan antar lembaga pendidikan, termasuk sekolah berbasis boarding school yang semakin berkembang.

Dampak dari penurunan jumlah murid ini antara lain:

  • Berkurangnya jumlah rombongan belajar.
  • Efisiensi tenaga pendidik yang perlu disesuaikan.
  • Penurunan pemasukan lembaga dari sektor pembiayaan pendidikan.

Sejumlah rekomendasi menindaklanjuti tantangan tersebut, beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengembangkan model pendidikan terintegrasi (sekolah+pesantren/boarding).
  2. Meningkatkan kualitas pembelajaran, baik daring maupun luring.
  3. Memperkuat branding keunggulan Aswaja dan karakter ke-NU-an.
  4. Meningkatkan komunikasi dan kepercayaan orang tua melalui program parenting dan transparansi pembelajaran.
  5. Mengembangkan inovasi kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.

*H. Mabrur Ajmain, S.Ag, M.M., Sekertaris Pengurus Cabang LP Ma’arif NU Gresik

Leave a comment