GRESIK | NUGres – Upaya menciptakan ekosistem sosial setara dan berkeadilan terus dilakukan para mahasiswa. Seperti kegiatan edukatif Studi Islam Gender (SIG), yang sukses digelar Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Akarbumi Gresik.
Sekolah Islam Gender ke-III itu, diketahui sukses digelar PK PMII Akarbumi bertempat di MI Nurul Hidayah, Menganti Gresik pada akhir pekan lalu, 25-26 April 2026.
Dalam keterangannya kepada NUGres, Kamis (30/4/2026), Ketua Korps PK PMII Akarbumi, Ramadhini Elsa Novita, menekankan bahwa kesadaran gender bukan sekadar wacana di dalam kelas, melainkan alat bedah untuk melihat ketimpangan di ruang terbuka.
“Kita ingin kader tidak hanya paham teori, tapi mampu bersikap tanggap secara sosial. Ruang publik harus menjadi tempat yang aman dan adil bagi siapa saja, tanpa sekat diskriminasi,” ujar sahabati Elsa, demikian ia sering disapa.
Ia juga menyampaikan kalau tema SIG ke-III mengusung tema “Optimalisasi Kesadaran Gender di Ruang Publik yang Tanggap Sosial dan Berkeadilan”. Agenda ini, lanjut dia, menjadi kawah candradimuka bagi para kader untuk membedah tantangan gender di era modern.
Ketua PK PMII Akarbumi, Kartika Hariani Kartika Sari, yang turut mendampingi jalannya acara, menegaskan pentingnya sinergi antara gerakan intelektual dan aksi nyata. Menurutnya, SIG III ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi ideologis kader mengenai keadilan relasi laki-laki dan perempuan dalam bingkai keislaman.
Selama dua hari penuh, para peserta disuguhkan materi-materi fundamental yang dikemas secara dialektis. Ketua Pelaksana kegiatan, Eka Nur Halizah, melaporkan bahwa pemilihan lokasi di MI Nurul Hidayah dimaksudkan untuk mendekatkan gerak organisasi dengan basis masyarakat.
“Tanggung jawab kami adalah memastikan setiap materi tersampaikan dengan efektif. Alhamdulillah, antusiasme peserta menunjukkan bahwa isu gender masih menjadi diskursus yang sangat krusial bagi anak muda saat ini,” ungkap Eka.
Acara yang berakhir pada Ahad petang 26 April 2026 itu ditutup dengan rencana tindak lanjut (RTL) yang konkret. Para alumni SIG III diharapkan mampu menjadi motor penggerak kampanye kesadaran gender di lingkungan masing-masing, guna mewujudkan ruang publik yang lebih manusiawi dan responsif terhadap kebutuhan gender yang beragam.
Editor: Chidir Amirullah



