GRESIK | NUGres – Salah satu Badan Otonom Nahdlatul Ulama (Banom NU), Jami’yyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) kini genap berusia 68 Tahun setelah resmi berdiri pada 10 Oktober 1957 silam.
Dalam peringatan Harlah ke-68, Jatman mengusung tema “Pengamalan Tarekat sebagai Jalan Spiritual Warisan Nabi Muhammad SAW untuk Keharmonisan Sosial.”.
Sementara seperti diberitakan dalam media ini, Idarah Syu’biyyah Jatman Kabupaten Gresik beberapa waktu lalu telah melaksanakan pelantikan kepengurusan untuk masa khidmat 2025 – 2029, berlangsung di Pondok Pesantren Darul Ihsan, Menganti, Gresik, pada Ahad 28 September 2025.
Saat dimintai pendapatnya tentang Harlah ke-68, sekaligus bagaimana perkembangan Jatman khususnya di Kabupaten Gresik, Katib Ifadliyah Idarah Wustha Jatman Jawa Timur, KH Chusnan Ali memandang dengan penuh optimistis.
“Yang terasa adalah Harlah ke 68 JATMAN tahun 2025 ini marak diperingati secara masif di semua tingkatan. Mulai dari Idarah Aliyah (pusat), Wustha (provinsi) maupun Syu’biyah (kabupaten), hal mana belum pernah terjadi di tahun tahun sebelumnya,” tutur Kiai Chusnan, dihubungi NUGres, Sabtu (11/10/2025) siang.
Sosok yang juga merupakan anggota Lajnah Mubahatsah Masail As-Shufiyah Idarah Aliyah Jatman ini, memang tak segan untuk turun gunung guna memperkenalkan Jatman melalui forum-forum Lailatul Ijtima’ yang biasa digelar warga NU Gresik.
“Salah satu faktor masifnya peringatan Harlah ini karena JATMAN saat ini betul-betul digerakkan dan dijalankan sebagai Badan Otonom Nahdlatul Ulama,” imbuh Mustasyar PCNU Gresik masa khidmat 2021 – 2026 ini.
Ditanya apa yang menjadi harapan ke depan, Kiai Chusnan bilang bahwa sebagai salah satu Banom NU, ia meyakini Jatman akan bergerak sesuai dgn PD/PRT yang dimiliki.
“Terus bergerak sinergi dengan NU ditargetkan Idarah Ghusniyah terbentuk di seluruh MWCNU di Gresik,” tutupnya.
Sebagai informasi, sementara ini Idarah Syu’biyyah Kabupaten Gresik telah berhasil membentuk 6 Idarah Ghusniyyah. Keenamnya antara lain, Idarah Ghusniyyah Duduksampeyan, Bungah, Kebomas, Menganti, Driyorejo, dan Wringinanom.
Editor: Chidir Amirullah

