Ibu-ibu hingga Remaja Antusias Ikuti Pelatihan Perawatan Jenazah LTMNU Gresik

Luthfi Anshori - NUGres Luthfi Anshori - NUGres
Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Gresik berkerja sama dengan Takmir Masjid As Shobirin Sukorejo Kebomas gelar pelatihan perawatan jenazah, Ahad (19/4/2026). Foto: dok LTMNU Gresik/NUGres

KEBOMAS | NUGres – Lembaga Takmir Masjid PCNU Gresik bekerja sama dengan Takmir Masjid As Shobirin menggelar pelatihan perawatan jenazah di Masjid As Shobirin, Desa Sukorejo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Ahad (19/4/2026).

Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta, baik dari warga Desa Sukorejo maupun dari luar Kecamatan Kebomas. Menariknya, pelatihan ini tidak hanya diikuti kaum laki-laki, tetapi juga para ibu-ibu dan remaja. Mereka dengan antusias mengikuti setiap sesi pelatihan.

Ketua LTM PCNU Gresik, H. Nasichun Amin, menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat dibutuhkan oleh umat, khususnya jamaah masjid dan masyarakat sekitar. Menurutnya, ilmu fardlu kifayah harus terus disosialisasikan karena memiliki manfaat besar dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ilmu perawatan jenazah ini menjadi bagian penting dari kewajiban umat Islam. Maka perlu terus diajarkan agar masyarakat tidak bergantung pada pihak tertentu saja,” ujarnya.

Kepala Desa Sukorejo, Fatkhur Rohman, turut mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kewajiban tersebut. Ia menegaskan bahwa perawatan jenazah bukan hanya tugas perangkat desa atau mudin, melainkan tanggung jawab setiap keluarga.

“Harapannya, kegiatan ini mampu menambah semangat warga untuk belajar dan memperdalam ilmu Fardlu Kifayah,” ungkapnya.

Sementara itu, narasumber pelatihan, KH. Muhammad Zaim Afsokh, menjelaskan bahwa terdapat empat perkara wajib dalam mengurus jenazah, yakni memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan.

Kiai Zaim memaparkan secara rinci setiap tahapan, mulai dari tata cara memandikan jenazah, mengkafani, menyalatkan, hingga proses penguburan dan peletakan mayit di liang lahat. Penjelasan tersebut disampaikan secara langsung disertai praktik ilustratif di hadapan para peserta.

Pelatihan berlangsung interaktif dengan suasana yang komunikatif dan sesekali diselingi humor ringan, sehingga materi dapat diterima dengan baik oleh peserta.

Salah satu peserta asal Gending, Kebomas, Sunarwiyanto, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Ia menilai materi yang disampaikan tidak hanya lengkap, tetapi juga mudah dipahami karena disertai praktik langsung.

“Selama ini kami cenderung bergantung pada mudin atau orang yang sudah terbiasa. Setelah ikut pelatihan ini, saya jadi lebih paham tahapan-tahapannya, mulai dari memandikan sampai menguburkan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi metode penyampaian narasumber yang komunikatif dan tidak kaku, sehingga suasana pelatihan terasa ringan namun tetap berbobot.

Sunarwiyanto berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkala dan menjangkau lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda, agar semakin banyak masyarakat yang memiliki bekal ilmu Fardlu Kifayah.

“Harapannya, semakin banyak warga yang siap dan mampu membantu ketika ada musibah. Jadi tidak hanya bergantung pada segelintir orang saja,” pungkasnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjalankan kewajiban Fardlu Kifayah, sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat edukasi keagamaan di tengah masyarakat.

Penulis: Luthfi Anshori
Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment