KH. Moh. Sholih Tsani, Ulama Kharismatik Ahli Fiqih, Wafatnya diperingati Haul sampai saat ini

oleh -808 Dilihat

Biografi KH. Moh. Sholih Tsani

K.H. Moh. Sholih Tsani bernama kecil Mohammad Nawawi. Beliau lahir di Desa Rengel, Tuban. Ayahnya bernama Madyani (KH. Abu Ishaq) dan ibunya bernama Rosiyah binti KH. Moh. Sholih Awal. Dengan demikian beliau adalah cucu KH. Moh. Sholih Awal. Kata “Tsani” (berarti yang kedua), yang melekat pada namanya semata mata untuk membedakan dengan nama kakeknya yang dikenal dengan nama KH. Moh. Sholih Awal. Selain itu, Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah memang terdapat tiga pemangku yang bemama depan Moh. Sholih.

Pendidikan KH. Moh. Sholih Tsani

KH. Moh Sholih Tsani menerima pendidikan Islam tingkat dasar dari ayahnya sendiri, yaitu di Pondok Pesantren Sampurnan. Selanjutnya beliau mondok ke Kedung Madura Sidoarjo, tepatnya di Pondok Pesantren Kedung Madura, diasuh oleh Kiai Nidlomuddin (murid Kiai Salim bin Samir Al Hadromi, pengarang kitab Safinatun Najah). Saat mondok di Kedung Madura itu beliau segenerasi dengan KH. Moh. Kholil Bangkalan.

Diceritakan bahwa antara KH. Moh. Sholih Tsani (Moh. Nawawi) dengan KH. Moh. Kholil (Moh. Kholil) sewaktu di Pesantren Kedung terjalin hubungan persahabatan yang sangat akrab. Keduanya dikenal sebagai santri yang cerdas, tekun, dan alim, meskipun di antara keduanya memiliki fokus belajar yang berbeda. Moh. Nawawi lebih menekuni ilmu fiqih, sedangkan Moh. Kholil lebih banyak menekuni ilmu alat (nahwu-sharaf).

Terkait dengan fokus belajar kedua calon kiai tersebut ada sebuah anekdot (cerita lucu berhikmah) yang mereka ciptakan. Disebutkan bahwa Moh. Kholil pernah bercanda kepada Moh. Nawawi saat sedang mutholaah kitab fiqih. Katanya, “Buat apa Sampeyan mempelajari kitab-kitab fiqih, toh di Indonesia tidak akan pernah ada orang zakat onta ?”. Maka kelakar bernada sindiran itu pun dijawab oleh Moh. Nawawi, “Buat apa Sampeyan mempelajari ilmu nahwu-sharaf sampai bertahun-tahun, toh kelak kitab-kitab kuning akan banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa kita ?”.

Jika kita perhatikan perkembangan dewasa ini tampaknya apa yang diucapkan Moh. Nawawi satu abad yang lalu, kini telah menjadi kenyataan. Sekarang sudah banyak dijumpai kitab-kitab kuning yang diterjemahan ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa (pemutihan kitab kuning). Meskipun demikian, bukan berarti ilmu Nahwu-Sharaf sudah tidak diperlukan lagi, karena ilmu tersebut merupakan salah satu alat untuk menghantarkan kita dapat memahami kitab kuning dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa.

Pernyataan calon kedua kiai tersebut rupanya berhikmah. Anekdot tersebut menunjukkan keintiman persahabatan mereka dan sekaligus menunjukkan betapa jeli penglihatan mereka terhadap kehidupan mendatang. Selain itu mungkin juga keduanya berharap agar kedua ilmu tersebut tetap dipelihara dan bahkan dijadikan ciri khas mata pelajaran di pondok pesantren.

Karena ketekunannya mempelajari kitab fiqih, Moh. Nawawi dikenal sebagai santri yang banyak mengemukakan masail fiqhiyah. Oleh karenanya beliau sering aktif dalam musyawarah bahtsul masail (wahana santri dalam memecahkan masalah hukum fiqih).

Simak Juga:  Karomah Sunan Prapen Pelantik Raja-raja Islam di Nusantara

Keluarga KH. Moh. Sholih Tsani

Pada usia 25 tahun Kiai Moh. Nawawi kawin dengan Nyai Muslihah, putri Nyai Asiyah bin Moh. Harun. Jadi beliau menikah dengan saudara misannya sendiri, sebab Asiyah adalah saudara Rosiyah, ibunya. Semula beliau pernah diminta oleh Kiai Mas Asy’ari dari Sawahan Surabaya untuk dijodohkan dengan putrinya. Akan tetapi atas nasehat gurunya, beliau sebaiknya kawin dengan putri Bungah yang masih ada hubungan kerabat dekat. Oleh sebab itu beliau kawin dengan Muslihah, misannya itu. Perkawinan seperti itu menunjukkan bahwa bagi para kiai Jawa, termasuk lingkungan keluarga Sampunan, perkawinan antara misanan (saudara misan) atau mindoan merupakan pola perkawinan yang dianggap ideal. Secara sosiologis, kelompok kiai tidak dapat dianggap sebagai kelompok yang terbuka karena kuatnya perasaan mereka sebagai suatu group atas kuatnya keterikatan mereka kepada prinsip perkawinan endogamous antara sesama keluarga kiai. Perkawinan antar sesama misanan atau mindoan sangat sering terjadi dalam lingkungan keluarga kiai karena secara darah tidak terlalu dekat, tetapi masih kerabat yang cukup dekat.

Perkawinannya KM. Muh. Sholih Tsani dengan Nyai Maslihah dikaruniai 11 orang anak, yaitu :

  1. Abdullah, tinggal di Banaran Babat, Lamongan. Keluarga Abdullah ini menurunkan : a) Kiai Amari – Banaran Lamongan b) Robi’ah, ibu KH. Ah. Maimun Adnan (Pendiri dan Pemangku PP. Al Ishlah Bungah Gresik).
  2. Ismail, yang kemudian menjadi pengganti beliau (Pemangku PP. Oomaruddin yang ke-4).
  3. Nafisah, Istri K.H. Moh. Ya’qub. Keluarga ini menurunkan Kiai Muhammad (Sampurnan)
  4. Nashihah, Istri H. Abu Bakar
  5. Umamah, istri KH. Abd. Rahman. Keluarga ini menurunkan: a) Kial Aqib – Leran b) K.H. Abdul Hamid (Mbah Mik) – Sampuman.
  6. Moh. Said (wafat kecil)
  7. Aminah, istri KH. Musthofa bin Abd. Karim, Pendiri PP. Tarbiyatut Thalabah Kranji Paciran Lamongan. Keluarga ini melahirkan keturunan : a) KH. Abdul Karim, penggagas dan pendiri jam’iyatul quro’ (MTA), Nasional b) KH. Moh. Sholih Tsalis, pemangku PP. Oomaruddin yang ke-6.
  8. Abu Hasan (Mbah Abu) – Sampurnan
  9. Shofiyah, istri H. Usman – Sampurnan
  10. Abd. Karim, ayah KH. Moh. Zuber Sampurnan
  11. Umar (ayah KH. Moh. Zuber – Sendang) kawin dengan Zalikhoh bin K. Zubair bin K. Musthofa Sendang Agung.

Perjuangan KH. Moh. Sholih Tsani

Setelah kawin, K. Moh. Nawawi bersama istrinya menetap di Sampurnan Bungah. Pada tahun 1279 H/1862 M., beliau diangkat menjadi pemangku Pondok Pesantren Sampunan menggantikan kedudukan ayah mertuanya, yaitu Kiai Musthofa yang sudah tua. Kiai Musthofa adalah pimpinan Pondok Pesantren Qomaruddin selama lebih kurang dua setengah tahun menggantikan Kiai Basyir.

Sepuluh tahun kemudian K. Moh. Nawawi menunaikan ibadah haji dan mendapat barokah nama, KH. Moh. Sholih. Dalam tradisi pesantren Sampunan beliau dikenal dengan panggilan KH. Moh. Sholih Tsani atau KH. Moh. Sholih Enom. Di bawah kepemimpinan KH. Moh. Sholih Tsani, Pondok Pesantren Sampurnan maju pesat. Banyak santri yang datang dari daerah-daerah jauh, di antaranya : Surabaya, Madura, Pasuruan, Lumajang, Tuban, Bojonegoro dan bahkan dari Cirebon, Banten dan Serang Jawa Barat.

Simak Juga:  Profil KHR As’ad Syamsul Arifin: Sang Wasilah Pendirian NU

Dalam menjalankan kepemimpinannya, beliau dibantu oleh putra-putra menantunya, yaitu : KH. Moh. Ya’qub dan KH. Abd. Rahman, serta dibantu pula oleh para santri senior lainya.

Sejak kepemimpinannya itulah mulai dikenal tradisi pengajian mingguan untuk para santri kalong yaitu santri yang pulang-pergi, tidak ikut menetap di asrama pesantren. Mereka mengikuti pengajian yang diselenggarakan setiap Pasaran Legi. Pada umumnya para santri kalong ini berasal dari para tokoh masyarakat, para modin, dan umumnya mereka yang sudah berusia menengah ke atas. Karena pertemuan dan pengajiannya pada kiai setiap pasaran legi, maka akhirnya dikenallah sebutan santri legian.

Pada masa kepemimpinan beliau jumlah santri semakin banyak. Untuk menambah daya tampung santri, maka diadakanlah rehabilitasi dan perluasan bangunan fisik, diantaranya :

  1. Pada tahun 1282 H/1866 M merehab atap langgar agung yang semula dari sirap/welit diganti dengan genting.
  2. Pada tahun 1291 H/1874 M didirikan asrama pesantren baru yang terletak di sebelah selatan langgar. Bangunan terdiri dari 8 kamar yang seluruhnya terbuat dari kayu jati dengan atap genting.
  3. Pada tahun 1293 H/1876 M didirikan asrama pesantren lagi dengan posisi berhadapan dengan asrama pesantren sebelumnya. Sejak itu terkenal sebutan pondok barat dan pondok timur. Pondok barat itu dihuni oleh santri yang berasal dari daerah sebelah barat Bungah, sedangkan pondok timur dihuni oleh santri yang berasal dari daerah sebelah timur Bungah.
  4. Pada tahun itu pula (1293 H/1876 M) didirikan asrama pondok putri yang terletak di belakang rumah kiai, serta didirikan langgar putri (langgar panggung) sebelah timur asrama pondok putri.

Di pihak lain, KH. Moh. Sholih Tsani adalah seorang ulama yang produktif. Beliau tidak hanya pandai membaca kitab karangan orang lain, tetapi ia banyak menyusun/menulis kitab-kitab baru, utamanya yang membahas masalah fiqih, diantaranya :

  1. Kitabus Syuruth, yang berisi penjelasan tentang syarat-rukunnya ibadah-ibadah, mulai dari shalat, puasa, zakat, haji dan masalah-masalah yang berkaitan dengan muamalah.
  2. Nadhom Qoshidah lis Shibyan, yang berisi ajaran tauhid untuk anak-anak dan para mubtadi’in yang baru mempelajari masalah tauhid, yang dikemas dalam bentuk nadhom/syi’ir untuk memudahkan hapalan dan menggairahkan belajar.
  3. Tashilul Awam fii Mas’alatis Shiyam, yang berisi penjelasan khusus tentang petunjuk praktis tentang pelaksanaan puasa.

Pada hari Kamis, 24 Jumadil Ula 1320 H/ 28 Agustus 1902 KH. Moh. Sholih Tsani intiqal ilaa rahmatillah setelah memimpin Pondok Pesantren Sampurnan selama 40 tahun. Beribu-ribu kiai, ulama’, santri, dan masyarakat turut berduka cita mengantarkan pemakamannya. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman khusus para muassis (pemangku) Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah.

Sumber: dikutip dari Buku Sejarah Perkembangan Pondok Pesantren Qomaruddin – Drs. H. Abd. Rouf Djabir, M.Ag. Dkk.

Response (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *