Kiai Jadul Maula kepada LESBUMI NU Gresik: Gejala Kebudayaan Harus Dijawab dengan Wacana Independen

oleh -108 Dilihat

GRESIK | NUGres – Berkopiah rajut akar jangang khas Kalimantan serta mengenakan baju putih, Ketua LESBUMI PBNU, KH Jadul Maula, hadir dan turut menyaksikan prosesi pengukuhan PC LESBUMI NU Gresik 2021-2026, di Aula Makam Bupati Pertama Gresik Tumenggung Ngabehi Poesponegoro, di Jl Malik Ibrahim Gapurosukolilo Gresik, Selasa (29/03/2022).

Kehadiran KH Jadul Maula, yang akrab dikenal dengan Kiai Jadul, diakui telah memberikan spirit para penggerak kebudayaan dan kearifan lokal di Kabupaten Gresik. Khususnya, jajaran Pengurus LESBUMI NU Gresik periode 2021-2026.

Dalam kesempatan itu, Kiai Jadul juga memberikan wedaran strategi kebudayaan, SAPTAWIKRAMA. Sebagai rute yang akan ditempuh departemensi PCNU Gresik bidang Seni dan Budaya ini.

Menjadi Keynote-speaker dalam Dialog Kebudayaan, Kiai Jadul Maula memulainya dengan membedah tema Dialog Kebudayaan yakni, Sinergi dan Kolaborasi Mengembangkan Seni dan Budaya di Gresik.

“Karena itu teman-teman sekalian, ‘di-niati’ ya, masuk LESBUMI itu khidmat dan belajar. Belajar untuk selalu memperbaiki diri. Jadi ‘di-niati’ khidmat dan ‘ndherek’ ulama dengan seadanya kita ini. Karena ini proses, dan proses harus dimulai dengan cara yang bener,” pesan Kiai Jadul mengawali.

Sekira 30 menit, Kiai Jadil yang pernah menulis buku “Islam Berkebudayaan: Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, dan Kebangsaan” ini, membagikan pandangan hingga strategi kebudayaan di hadapan jajaran pengurus LESBUMI NU Gresik juga para penggerak kebudayaan dari berbagai komunitas di Kabupaten Gresik, yang hadir.

Simak Juga:  Demi Kesejahteraan Warga Bawean Gresik, Gus Yani bersama PCNU Bawean Bakal Mengaktifkan ini..

“Yang dikembangkan Lesbumi ini seni yang berlandaskan kebudayaan. Karena sesungguhnya tidak semua seni itu sebenarnya bernilai budaya. Jadi budaya ini lebih luas daripada seni. Kebudayaan adalah cara manusia menjalankan, mempertahankan, dan menghidupkan kehidupannya secara bermartabat, secara dengan harkat, sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kemanuasiaan yang seutuhnya, tidak hanya raga, tapi ada rasa dan pikiran. Karena itu budaya jangkauannya seluas kehidupan,” tuturnya.

“Sehingga kalau dihayati bener, pada hakikatnya bahkan semua, ya Nahdlatul Ulama itu juga disebut gerakan kebudayaan. Pesantren itu disebut juga gerakan kebudayaan. Ilmu-ilmu itu juga kebudayaan. Ilmu fiqih itu ya, budaya. Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof, Ilmu Tafsir itu juga bisa masuk budaya. Nah, kesenian itu hanya salah satu dari unsur kebudayaan. Seni bisa bernilai budaya kalau membawa dimensi rasa manusia untuk meng-Indahkan hidup,” lanjutnya.

“Lalu harus diungkapkan, seni itu harus berdasarkan keutuhan manusia. Manusia ini kan bertugas sebagai ‘Khalifatullah’ jalannya (adalah) kebudayaan. Seni yang dicampur dengan narkoba, dengan pergaulan bebas itu menurut saya sebagai kebudayan yang paling rendah,” terangnya.

“Intinya, di dalam Saptawikrama itu kita mencoba menghimpun, mengkonsolidasikan gerakan-gerakan adat istiadat atau tradisi nusantara, untuk kita lihat dan apresiasi dalam sudut pandang yang lebih luas yakni spiritualitas. Juga melihatnya dengan kerangka filosofis secara sosiologis dan seterusnya. Maka tidak bisa semata-mata dengan pandangan hitam-putih (Fiqih). Sehingga kita bisa membangun wacana independen,” imbuhnya.

Simak Juga:  Grup Qasidah Putri Banyu Biru Fatayat NU Lowayu Raih Juara 1 Festival PASQI 2022

Menurutnya, selama ini dampak dari jarak yang terus menerus dengan adat budaya nusantara menjadikan kajiannya diolah oleh orang luar. Yang sudut pandangnya sekuler. Dimensi keagamaan menjadi ambyar. Oleh karena itu, Kiai Jadul menekankan wacana independen dari sudut pandang spiritualitas dan filososi pengetahuan. Hal ini sangat penting untuk dapat merangkul adat tradisi lokal.

Usai menjadi Keynote speaker dalam gelaran Dialog Kebudayaan yang dihadiri oleh berbagai komunitas di Kabupaten Gresik, Ketua LESBUMI PBNU periode 2022-2027 menggantikan Almaghfurlah KH Agus Sunyoto ini juga berziarah ke makam Kanjeng Sunan Giri didampingi Ketua PC LESBUMI NU Gresik, Lukmanul Hakim.

Sementara itu, Ketua PC LESBUMI NU Gresik Lukmanul Hakim, mengucapkan terima kasih atas kesediaan Kiai Jadul Maula serta seluruh pihak yang mendukung serta undangan yang menghadiri pengukuhan para pengurus LESBUMI NU Gresik.

“Acara kemarin tergolong sukses. Banyak yang ikut berbahagia dengan acara pengukuhan dan dialog budaya. Terima kasih atas kerjasama dan kekompakan dulur-dulur Lesbumi Gresik dan bolo-bolo yang berkenan membantu, dari segi apapun,” tutupnya Penyair bernama pena Rakai Lukman ini. (Tim Lesbuminugres)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *