Konfercab XX Usai, Muhammad Dafa Abie Almadhani Nakhoda PMII Gresik 2025—2026

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Muhammad Dafa Abie Almadhani (Kiri, memakai songkok), terpilih sebagai Ketua Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Gresik untuk masa khidmat 2025—2026. Foto: dok PMII Gresik/NUGres

GRESIK | NUGres – Konferensi Cabang (Konfercab) XX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Gresik dengan tema “Estafet Kepemimpinan: Perkuat Kaderisasi dan Gerakan Berbasis Kompetensi” sukses digelar di Gedung PCNU Gresik pada 12–14 September 2025.

Dalam Konferensi tersebut, resmi menetapkan Muhammad Dafa Abie Almadhani secara aklamasi sebagai Ketua baru PC PMII Gresik periode 2025–2026.

Ketua PC PMII Gresik periode 2024-2025, M Aqshal Hidayat memberikan apresiasi atas terpilihnya Muhammad Dafa Abie Almadhani sebagai nakhoda baru. Ia menegaskan bahwa regenerasi bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan pertaruhan marwah organisasi.

“Selamat kepada Sahabat Abie. Tapi saya perlu tekankan bahwa estafet ini bukan sekedar pergantian nama dan jabatan, namun siapa yang siap memikul estafet perjuangan sesuai substansi gerakan. Regenerasi bukan soal seremonial, tapi soal bagaimana organisasi ini tetap konsisten pada ruhnya yakni kaderisasi dan perjuangan kerakyatan,” ungkapnya, Ahad (14/9/2025).

Ia juga mengingatkan agar PMII tidak terjebak menjadi alat legitimasi kekuasaan. Menurutnya, marwah organisasi akan runtuh jika hanya dijadikan alat untuk kepentingan sesaat.

Selain itu, PMII harus tetap menjaga independensi dan orientasi perjuangan kerakyatan, bukan hanya melahirkan kader yang kritis tapi harus berpihak pada rakyat.

“Jangan sampai PMII diperalat untuk kepentingan pragmatis. Kita harus ingat, sejarah tidak mencatat siapa yang paling sering bicara tetapi siapa yang sungguh-sungguh bekerja. Itu ukuran nyata kader pergerakan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Baru PC PMII Gresik Periode 2025–2026, Muhammad Dafa Abie mengusung visi besar “PMII Gresik Berdaya dan Berkarya”.

Menurutnya, setiap periode kepemimpinan di PMII selalu memiliki dinamika tersendiri. Ia menilai kondisi objektif organisasi tidak pernah lepas dari dialektika sosial yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman.

“Sebelum jauh berbicara masyarakat yang berdaya, sebuah organisasi kemasyarakatan harusnya terlebih dahulu mampu memberdayakan sumber daya yang ada dalam organisasi tersebut. Kaderisasi merupakan jantung atau inti dari organisasi PMII, pemberdayaan sumber daya kader PMII dapat dilihat dari capaian berjalannya sistem kaderisasi yang dijalankan,” ungkapnya.

Abie juga menyoroti persoalan degradasi jumlah dan kualitas kader di berbagai tingkatan kepengurusan.

“Dengan adanya fenomena ini maka sangat diperlukan untuk merekontruksi ulang infrastruktur organisasi untuk memperjelas fungsi dan arah perjuangan organisasi dengan menemukan kesepahaman arah pandang dari keberagaman budaya,” pungkasnya.

Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment