Legenda Golok Sembelih Dibalik Pemotongan Hewan Qurban Di PCNU

oleh -134 Dilihat

GRESIK | NUGres – Idul Adha 1443 H kali ini, PCNU Gresik melakukan penyembelihan hewan Qurban berupa Sapi. Seekor sapi dengan bobot kurang lebih 600 Kg dari pemberian Pemerintah Kabupaten Gresik itu, tepat pukul 11.00 harus meregang nyawa diujung golok hitam mengkilat, tak butuh waktu lama, tak kurang dari 5 menit, sapi tersebut telah mati.

Dari pantauan NUGres, proses penyembelihan di halaman Kantor PCNU Gresik itu seluruhnya dilakukan dengan cepat sekali, seperti para profesional pada umumnya, tak ada teriakan dari para pemegang tampar ataupun juru sembelih, semua berjalan singkat dengan satu komando saja.

Tak pelak, proses yang singkat itu membuat NUGres tertarik untuk mencari tahu bagaimana bisa secepat itu. Sejurus kemudian, saat rehat di warung kopi, Nadlilah Badaruddin (Wakil Ketua PCNU) menceritakan ihwal golok dan tampar yang dibawanya dari rumah di Desa Suci, Manyar.

Simak Juga:  Ayo Hadir dan Meriahkan! PCNU Gresik Bersholawat dan Peletakan Batu Pertama RSNU Gresik

“Golok dan tampar yang saya pakai khusus untuk menyembelih Sapi ini memang tidak sembarangan. Golok ini telah digunakan untuk menyembelih sapi lebih dari 40 tahun, sedangkan tampar nya berusia 15 tahun dan masih sangat kuat untuk menarik sapi,” cerita Nadlilah.

Sambil menunjukkan goloknya, Nadlilah menceritakan bahwa golok tersebut adalah warisan dari Abah mertuanya yakni KH. Abdullah Faqih Toyyib yang juga ayah dari KH. Masbuhin Faqih pengasuh PP. Mambaus Sholihin.

“Selama 25 Tahun, golok ini digunakan Abah Yai Faqih untuk menyembelih sapi, kemudian diwariskan ke saya. Saya menggunakannya telah 15 tahun. Pagi ini saja, saya telah menyembelih 11 ekor sapi, dan semuanya saya lakukan dengan sangat cepat, seperti yang disaksikan teman-teman tadi,” terang pria yang kini bertugas di Sekretariat DPRD Gresik ini.

Simak Juga:  4 Hari Kelilingkan KOIN NU Sehat, MWCNU Panceng Berhasil Kumpulkan 105 Juta Lebih

Kunci cepat prosesi penyembelihan itu adalah kekompakan dan ketaatan dalam satu komando, sambungnya. Jika masing-masing orang yang terlibat punya usul atau bahkan merasa lebih tahu maka prosesnya semakin lebih lama. (Zaky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *