GRESIK | NUGres – Kelurahan Lumpur merupakan salah satu wilayah pesisir di Kabupaten Gresik yang masyarakatnya kini mayoritas berprofesi sebagai pekerja industri dan nelayan. Wilayah ini memiliki ikatan historis dan spiritual yang kuat dengan tokoh-tokoh agama. Salah satunya adalah Mbah Sindujoyo, ulama dan penyebar Islam yang sangat dihormati masyarakat Gresik pesisir.
Mbah Sindujoyo dikenal sebagai sosok yang menanamkan nilai-nilai keislaman, kebijaksanaan, serta kedekatan dengan masyarakat kecil. Hingga kini, haul Mbah Sindujoyo rutin diperingati dan makam beliau menjadi salah satu titik spiritual penting yang dirawat dan dijaga oleh warga.
Sekitar dua dekade silam, Kelurahan Lumpur juga pernah disinggahi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam rangka menghadiri Haul Mbah Sindujoyo. Kehadiran Gus Dur saat itu meninggalkan kesan mendalam bagi warga dan semakin menguatkan ikatan emosional masyarakat dengan sosok Presiden ke-4 Republik Indonesia tersebut.
Pada Selasa, 30 Desember 2025, warga Kelurahan Lumpur kembali menggelar peringatan Haul Gus Dur ke-16 dan sesepuh masyarakat kelurahan Lumpur yang dipusatkan di sepanjang Jalan Sindujoyo. Kegiatan ini diikuti ratusan warga, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lanjut usia, yang hadir dengan penuh khidmat dan antusias.
Rangkaian acara diawali dengan lantunan sholawat oleh Ishari Ranting NU Lumpur, dilanjutkan pembacaan Surat Yasin dan tahlil, serta mauidhotul hasanah yang disampaikan oleh KH. Hizbullah Huda. Suasana religius terasa kental, berpadu dengan semangat kebersamaan dan gotong royong warga.
Di penghujung acara, warga menikmati hidangan makan bersama yang disajikan secara sederhana namun penuh kehangatan. Uniknya, tradisi Haul Gus Dur di Kelurahan Lumpur juga diiringi dengan pelaksanaan aqiqah. Setiap tahun, warga berbondong-bondong melaksanakan aqiqah bagi anak maupun anggota keluarga mereka. Pada tahun ini, tercatat lima keluarga melaksanakan aqiqah, dengan daging kambing yang kemudian dinikmati bersama oleh warga yang hadir.
Ahmad Anshori, salah satu warga Kelurahan Lumpur sekaligus bagian dari komunitas DBC (Drakula Boys Club), menyampaikan bahwa peringatan Haul Gus Dur di wilayah tersebut telah berlangsung sejak hari pertama wafatnya Gus Dur.
“Peringatan haul Gus Dur di Kelurahan Lumpur ini bermula dari tahlil sejak hari pertama wafatnya beliau, kemudian berlanjut pada 7 hari, 100 hari, 1.000 hari, hingga rutin diperingati setiap tahun, termasuk pada haul ke-16. Tradisi ini berangkat dari inisiatif komunitas cangkruk anak-anak muda Kelurahan Lumpur yang tergabung dalam DBC,” ujarnya.
Ia juga mengingat bahwa Gus Dur pernah hadir langsung di Kelurahan Lumpur saat peringatan Haul Mbah Sindujoyo, sebelum menjabat presiden. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dalam setiap penyelenggaraan haul.
“Menjelang tanggal 30 Desember, warga dengan sendirinya menunjukkan partisipasi aktif secara swadaya demi suksesnya haul, baik dalam bentuk materil maupun non-materil. Hal ini dilandasi oleh kecintaan masyarakat kepada Gus Dur. Cara beliau berkiprah di dunia politik benar-benar dirasakan oleh masyarakat kecil,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, Jaringan Gusdurian pada peringatan Haul Gus Dur ke-16 merilis tema “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat”. Tema tersebut merefleksikan nilai perjuangan Gus Dur yang berpihak pada rakyat kecil dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Semangat ini pula yang tercermin dalam pelaksanaan haul di Kelurahan Lumpur yang digerakkan secara swadaya, partisipatif, dan mengedepankan gotong royong warga.
Antusiasme warga dalam peringatan Haul Gus Dur ke-16 ini menjadi bentuk penghormatan atas jasa dan keteladanan Gus Dur, sekaligus upaya melestarikan nilai kebersamaan yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat. Tahun ini, peringatan Haul Gus Dur ke-16 juga digelar bersamaan dengan haul para sesepuh Kelurahan Lumpur sebagai wujud penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang berjasa bagi masyarakat setempat.
Penulis: Nensi Indriati
Editor: Chidir Amirullah

