Musyker ke-1 MWCNU Cerme Gresik di Tebuireng, Gus Kikin: NU Harus Menyatu dalam Sistem Perjuangan

Pelaksanaan Musyawarah Kerja ke-1 MWCNU Cerme Gresik berlangsung di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, pada Kamis (29/5/2025). Para pengurus mendapatkan penguatan secara langsung dari KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Foto: dok MWCNU Cerme/NUGres

JOMBANG | NUGres – Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki peran strategis dalam kehidupan kebangsaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius.

Dalam kehidupan bernegara yang majemuk, NU tampil sebagai penjaga harmoni dengan model keberagamaan yang santun dan moderat. Model ini tak hanya memperkuat karakter bangsa, tetapi juga menjadi poros penting dalam pembangunan masyarakat.

Kehadiran NU di tengah dinamika zaman menuntut adanya terobosan programatik yang menyentuh langsung pada kebutuhan umat. Bidang-bidang seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kreatif menjadi ladang pengabdian yang tak bisa diabaikan. Untuk itu, penyusunan program melalui mekanisme organisasi yang mapan sangat penting diikhtiarkan bersama-sama.

Musyawarah Kerja (Musyker) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Cerme yang digelar di Aula KH Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, pada Kamis (29/5/2025), menjadi tonggak sejarah dalam pengelolaan organisasi di kecamatan ini.

Musyker perdana ini menjadi forum strategis dalam merumuskan arah dan kebijakan kerja MWCNU Cerme untuk periode khidmat 2025–2030.

Forum ini diharapkan menjadi ruang dinamis untuk menyerap aspirasi, menggagas strategi, sekaligus memperkuat kolaborasi antar struktur. Harapannya, NU dapat tampil sebagai kekuatan moderat, serta membumi dengan pelayanan nyata kepada masyarakat.

Adapun empat tujuan utama dari pelaksanaan Musyker ini meliputi; pertama, untuk menetapkan program dan kebijakan organisasi selama satu periode kepengurusan. Kedua, menyusun orientasi kerja kelembagaan sebagai acuan pergerakan lima tahun ke depan.

Ketiga, memperkuat hubungan kelembagaan antara MWCNU, PRNU, dan Banom di lingkungan Kecamatan Cerme. Dan keempat, menetapkan proyeksi keunggulan berbasis karakter dan potensi organisasi di tiap level struktur.

Tujuan-tujuan tersebut dirumuskan dengan tetap mengacu pada landasan organisasi, seperti Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU, Pedoman Organisasi dan Administrasi (POA) PWNU Jawa Timur, serta Ketetapan Konferensi Wakil Cabang NU Cerme tahun 2025.

Besar harapan, hasil dari Musyker ini membawa maslahat bagi umat dan memperkuat khidmat NU di tengah masyarakat.

Rais Syuriyah MWCNU Cerme, KH Arsyad Jauhari, dalam sambutannya menegaskan bahwa niat utama dari Musyker adalah ngalap barokah.

“Sebab apa pun itu, jika tidak mendapatkan keberkahan dari Allah, maka akan sia-sia,” ucapnya.

KH Abdul Hakim Mahfudz (Ketua PWNU Jatim) saat memberikan penguatan kepada jajaran pengurus MWCNU Cerme masa khidmat 2025 - 2030 yang tengah menggelar Musyker ke-1 dan pengukuhan pengurus lembaga-lembaga naungannya. Foto: dok MWCNU Cerme/NUGres
KH Abdul Hakim Mahfudz (Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim) saat memberikan penguatan kepada jajaran pengurus MWCNU Cerme masa khidmat 2025 – 2030 yang tengah menggelar Musyker ke-1 dan pengukuhan pengurus lembaga-lembaga naungannya. Foto: dok MWCNU Cerme/NUGres

Musyker kali ini juga mendapat kehormatan dengan kehadiran KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur masa khidmat 2024 – 2029. Dalam kesempatan tersebut, Gus Kikin memberikan pengarahan mendalam tentang pentingnya sistem dan tata kelola organisasi.

Gus Kikin juga mengingatkan sejarah lahirnya NU pada 1926 sebagai hasil konsolidasi antar pondok pesantren dan ulama salaf. Termasuk juga menekankan pentingnya manajemen dalam organisasi.

“Kebenaran yang tidak dikelola dengan baik bisa kalah oleh kebatilan yang dimanajemen dengan sistem,” tegasnya.

Karena itu, sambung Gus Kikin yang juga pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang ini, restrukturisasi dan penguatan sistem kerja organisasi menjadi keniscayaan.

Menurutnya, perjuangan para muassis bukan sekadar untuk kemaslahatan, tapi juga untuk menegakkan ibadah kepada Allah SWT.

“Kita harus menyatu dari tingkat bawah. Mulai anak ranting, ranting, MWC, PC, PW hingga PBNU. Bukan hanya kumpul-kumpul, tetapi menyatu dalam sistem perjuangan,” ujarnya.

Gus Kikin juga mengutip maqalah dalam Qonun Asasi. Wa’tashimu bi hablillah jami’an wala tafarraqu, seraya mengingatkan pentingnya ukhuwah dan penghindaran dari perpecahan yang hanya akan melemahkan kekuatan NU.

Gus Kikin menutup arahannya dengan doa dan harapan. “Selamat mengikuti Musyker, semoga keputusan-keputusan yang dihasilkan diridhai Allah dan memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tutupnya sebelum secara resmi membuka Musyker.

Dalam forum ini, juga dilakukan pengukuhan lembaga-lembaga di bawah MWCNU Cerme masa khidmat 2025–2030.

Pembahasan bidang tugas masing-masing lembaga dibagi dalam beberapa rumpun strategis:

  • Bidang Kesejahteraan Umat dan Kesehatan: LAZISNU, LKKNU, dan LKNU,
  • Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia: LP Ma’arif, LAKPESDAM, LESBUMI, dan RMI,
  • Bidang Pengembangan Perekonomian Warga: LPNU dan LPPNU,
  • Bidang Dakwah dan Hubungan Masyarakat: LDNU, LTMNU, dan LTNNU,
  • Bidang Advokasi dan Penghimpunan Aset: LPBHNU, LWPNU, dan LPBI NU, dan,
  • Bidang Pengembangan Amaliyah Ahlussunah wal Jamaah: RMINU, LFNU, LBMNU, KBIHU NU, dan SINU.

Penulis : Febrian Kisworo
Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment