Pesan Ketua MWCNU Kedamean Gresik di Pelantikan Pimpinan Ranting GP Ansor Kedamean

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Ketua Tanfidizyah MWCNU Kedamean Ustadz Abdul Wakid (baju batik) dan juga Ketua Tanfidziyah PRNU Kedamean Ustadz Sumarto saat menghadiri Pelantikan, Sarasehan dan Upgrading Pimpinan Ranting GP Ansor Kedamean Jumat (30/5/2025). Foto: Tim PortaNU Kedamean/NUGres

KEDAMEAN | NUGres – Mengusung tema “Satu Barisan Membangun Negeri”, Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Kedamean memulai langkah awal masa khidmat 2025 – 2027 dengan semangat penuh sinergi.

Tema tersebut bukan sekadar jargon. Ia tercermin nyata dalam rangkaian agenda pelantikan pengurus baru, sarasehan, dan upgrading kader yang digelar pada Jumat, 30 Mei 2025 di Serambi Masjid Besar Darussalam Kedamean.

Berbagai elemen Nahdlatul Ulama (NU) se-Kecamatan Kedamean tumpah ruah dalam kegiatan ini. Saling bahu-membahu, mereka menjalankan peran masing-masing demi kelancaran acara. Di antaranya, para rekan dan rekanita Pelajar NU Kedamean yang sigap membantu memastikan kebutuhan konsumsi peserta terpenuhi.

Yang menarik, panitia juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi seluruh kader NU yang hadir. Sebuah sentuhan kepedulian yang menambah nilai kegiatan ini.

Usai pelantikan, acara dilanjutkan dengan sesi sarasehan dan upgrading kader yang dimoderatori oleh Sahabat Alfian Marco. Dua tokoh penting NU Kedamean turut hadir sebagai narasumber, yakni Ketua MWCNU Kedamean, Ustadz Abdul Wakid, serta Ketua Tanfidziyah NU Ranting Kedamean, Ustadz Sumarto.

Dalam pemaparannya, Ustadz Abdul Wakid menekankan pentingnya meluruskan niat dalam berkhidmat di lingkungan NU.

“Nek melbu nang NU niatno ndadani awak, ojo niat rebutan iwak. Jika niat kita hanya mengejar keuntungan pribadi, maka aktivitas kita akan sia-sia. Mari niatkan untuk menebar kemaslahatan umat. Gerakan yang dilandasi niat baik akan menghasilkan manfaat yang luas dan akhlak yang semakin baik.”

Ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai sosial dalam organisasi tak kalah penting dibandingkan ibadah individual.

“Berkumpul dengan orang baik akan menular kebaikan. Ibadah sosial memiliki ganjaran yang lebih besar daripada ibadah individual,” tegasnya.

Sementara itu, Ustadz Sumarto menyoroti pentingnya keikhlasan dan konsistensi dalam menunjukkan eksistensi organisasi.

“Jalani saja prosesnya. Berapa pun jumlahnya, lakukan sesuai cita-cita organisasi. Kekurangan bisa dibenahi sambil berjalan,” ujarnya penuh keyakinan.

Diskusi pun semakin mencair ketika Sahabat Rozi dari Ranting Turirejo turut menyuarakan kegelisahan generasi muda di era kini.

“Tantangan sekarang unik, mulai dari pekerjaan hingga urusan percintaan. Kita tidak bisa menjanjikan manfaat materi, tapi semangat ikhlas dan proses itulah yang bernilai,” ungkapnya.

Menutup sarasehan, Ustadz Abdul Wakid kembali menegaskan pentingnya menjaga kejernihan hati dan membangun ikatan antaranggota dalam organisasi.

“Untuk kuat dalam perkumpulan, kita harus buang sifat buruk dan saling mendoakan. Seperti doa Rasulullah Allahummahdii qoumi, berilah mereka hidayah karena mereka belum tahu,” tandasnya.

Penulis: Arsy Azzahra Auliya
Editor: Febrian Kisworo

Leave a comment