Ribuan Warga Nahdliyin Hadiri Haul Raden Santri ke 584. Siapa Raden Santri Gresik?

oleh -198 Dilihat

GRESIK | NUGres – Haul Raden Santri atau Sayyid Ali Murtadlo juga dikenal sebagai Raja Pandhita Wunut telah berlangsung pada Jumat hingga Sabtu malam yakni 12-13 Agustus 2022. Haul ke 584 Kakak dari Kanjeg Sunan Ampel ini, diikuti oleh ribuan warga dari Kelurahan Bedilan Gresik dan sekitarnya.

Sejak Jumat pagi, kegiatan haul Raden Santri diawali dengan pembacaan khatmil qur’an putri. Lalu dilanjut sore harinya dengan tahlil putri dan anak-anak yang diantaranya ialah para santri tahfidz dari Pondok Pesantren Al Kailani yg di pimpin oleh Ustadah Hj Eli dan santrinya.

Sedangkan pada sabtu pagi, kegiatan dilanjutkan dengan khotmil qur’an putra dipimpin ustadz Nawir, kemudian tahlil putra dan anak-anak dipimpin oleh KH Umar Thoha, ustadz Amin, ustadz Reza serta KH Zubairi Rahman selaku Ketua Yayasan Raden Santri.

“Dihari yang sama bakda salat isya’ acara hadrah banjari yang diisi oleh delapan perwakilan dari musala kelurahan Bedilan. Tiap perwakilan itu ada sekitar 20 penampil,” kata Iwan Wahyudi, panitia Haul Raden Santri ke 584 saat dikonfirmasi, Sabtu (13/8/2022) melalui whatsapp.

Simak Juga:  Ribuan Jamaah Peringati Maulid Nabi Muhammad Sekaligus Haul KH Moh Sabiq Abdullah PP Alkarimi Tebuwung Gresik

Lebih lanjut pihaknya mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak hingga gelaran acara tersebut dapat berjalan secara khidmat dan lancar.

“Warga juga sangat antusias sekali mengikuti rangkaian Haul Raden Santri yang ke 584 ini. Kami perkirakan warga yang hadir sekitar 3000 hingga 5000, dari awal hingga akhir acara,” pungkasnya.

Adapun Majelis Dzikir Maulidur Rasul SAW, juga akan digelar di sepanjang maqbaroh Raden Santri Gresik yang berjarak ratusan meter dari Alun-alun Kota Gresik. Gelaran itu pada hari ketiga, yakni pada Ahad (14/8/2022) bakda Maghrib.

Sejarah Raden Santri juga dapat ditemui di Buku Atlas Wali Songo karya emas Sejarawan NU, Almaghfurlah KH Agus Sunyoto. Kiai Agus dalam bukunya telah menukil naskah Nagarakretabhumi sarga IV, Syaikh Ibrahim Asmarakandi disebut dengan nama Molana Ibrahim Akbar yang bergelar Syaikh Jatiswara.

Selanjutnya, seperti dalam sumber historiografi lain, dalam naskah Nagarakretabhumi, tokoh Molana Ibrahim Akbar disebut sebagai ayah dari Ali Musada (Ali Murtadho) dan Ali Rahmatullah, dua bersaudara yang kelak dikenal dengan sebutan Raja Pandhita dan Sunan Ampel.

Simak Juga:  Dihadiri Bu Min, MWCNU Cerme Gelar Halal Bihalal Sekaligus Gulirkan Gerakan Koin Sehat NU di Wilayah Cerme

Meringkas uraian Kiai Agus Sunyoto, Syekh Ibrahim as-Samarkandi diperkirakan datang ke Jawa pada sekitar tahun 1362 J/1440 M, bersama dua orang putra dan seorang kemenakannya serta sejumlah kerabat, dengan tujuan menghadap Raja Majapahit yang menikahi adik istrinya, yaitu Dewi Darawati. Sebelum ke Jawa, rombongan Ibrahim as-Samarkandi singgah dulu di Palembang untuk memperkenalkan agama Islam kepada Adipati Palembang, Arya Damar.

Setelah berhasil mengIslam-kan Adipati Palembang, Arya Damar (yang namanya diganti menjadi Ario Abdillah) dan keluarganya, Syaikh Ibrahim as-Samarkandi beserta putera dan kemenakannya melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa. Rombongan mendarat di sebelah timur bandar Tuban, yang disebut Gisik (sekarang Desa Gisikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban).

Raden Santri Gresik diperkirakan wafat pada 1449 Masehi. Bertepatan 15 Muharrom sekitar abad ke 8 Hijriyah. Gelar Raja Pandhita Wunut melekat pada putera Syekh Maulana Ibrahim as-Samarqandi yang nasabnya tersambung hingga ke Rasulullah Muhammad SAW ini. Raja Pandhita Wunut berjasa besar dalam pengenalan islam di wilayah Madura, Nusa Tenggara hingga Bima. (Chidir)

Advertisment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *