BUNGAH | NUGres – Usai sukses menggelar Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) ke-II, Pimpinan Ranting (PR) IPNU IPPNU Mojopurowetan, kembali melanjutkan langkah strategis yang sarat makna.
Kegiatan kaderisasi tahun 2025 ini tidak berhenti pada forum pelatihan semata, melainkan juga diikuti pula dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL) bertajuk Dziba’an Part 1, yang digelar di Mushala Roudhotul Jannah Mojopurowetan, Ahad malam, 19 Oktober 2025, mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.
Kegiatan tersebut diikuti oleh pengurus PR IPNU IPPNU Mojopurowetan masa khidmat 2025–2027, peserta dan panitia Makesta II, serta pelajar NU setempat.
Suasana religius dan penuh khidmat terasa sejak lantunan shalawat Dziba’ mengalun, membawa jamaah larut dalam kehangatan cinta kepada Rasulullah Saw
Dziba’an bukan sekadar ritual pembacaan maulid, tetapi juga menjadi jembatan spiritual agar ruh perjuangan tidak padam setelah selesainya Makesta. Ia hadir sebagai ruang pengikat hati, penguat ukhuwah, sekaligus penjaga semangat kaderisasi agar tetap menyala.
Melalui Dziba’an, para kader IPNU IPPNU tidak hanya ditempa dalam forum intelektual dan organisatoris, tetapi juga diperkuat dalam spiritualitas serta keteguhan menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.
Rekan Mohammad Adrian Rizqi Tsani, Ketua PR IPNU Mojopurowetan, menegaskan bahwa Dziba’an menjadi bukti nyata bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada pelatihan semata.
“Alhamdulillah, Makesta II telah terlaksana dengan baik. Namun kaderisasi bukanlah titik akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang perjuangan kita,” ungkapnya.
Ditambahkannya, dziba’an dapat menjadi momentum memperkuat kecintaan kepada Rasulullah Saw, mempererat ukhuwah, dan menjaga ruh perjuangan yang telah ditanamkan dalam Makesta.
“Dengan Dziba’an, kader IPNU IPPNU semakin solid, militan, dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang berilmu, berakhlak, dan penuh barokah,” tukasnya.

Senada dengan itu, Rekanita Amanda Putri Faradisa, Ketua Pelaksana Makesta II, menyampaikan bahwa Dziba’an merupakan langkah istimewa yang meneguhkan proses kaderisasi.
“Makesta II bukanlah garis akhir, melainkan titik awal. Dziba’an adalah ruang pengikat hati, penguat semangat, dan penjaga ruh perjuangan setelah kaderisasi. Dengan Dziba’an, kita buktikan bahwa kader IPNU IPPNU tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, solid dalam persaudaraan, dan istiqamah dalam perjuangan,” jelasnya.
Lebih lanjut, RTL ini menurut rekanita Amanda, menjadi tanda bahwa kaderisasi IPNU IPPNU di Mojopurowetan tidak pernah berhenti, tetapi terus berdenyut dan memberi arti.
Acara Dziba’an Part 1 ini sekaligus menjadi RTL dari Makesta II, menunjukkan bahwa IPNU IPPNU Mojopurowetan tidak hanya bergerak di bidang intelektual dan organisatoris, tetapi juga menempatkan spiritualitas sebagai pondasi perjuangan.
Dari Makesta menuju Dziba’an, dari pembekalan menuju pengamalan kader IPNU-IPPNU siap melangkah lebih kokoh, berdaya, dan penuh barokah.
Penulis: Ahmad Mubarok
Editor: Chidir Amirullah

