Jejak Cinta Gus Dillah, Pengasuh Ponpes Watu Bodo Gresik, kepada Gus Dur

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Flyer ucapan duka dari PCNU Gresik atas wafatnya KH Abdillah Anas Anwar pada Jumat 11 Juli 2025. Foto: NUGres

GRESIK | NUGres – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Pendopo Watu Bodo, Ujungpangkah, Gresik. Pengasuh pondok, KH Abdillah Anas Anwar atau yang akrab disapa Gus Dillah, wafat pada Jumat, 11 Juli 2025.

Semasa hidupnya, Gus Dillah dikenal sebagai sosok kiai nyentrik dan kedekatan spiritual yang kuat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Jejak cinta dan penghormatan Gus Dillah kepada Gus Dur terekam dalam berbagai arsip digital, termasuk di kanal YouTube HanVi.

Dalam beberapa unggahan di kanal tersebut, terlihat momen-momen ketika Gus Dur hadir langsung di acara yang diselenggarakan di Ponpes Watu Bodo, Ujungpangkah. Bahkan, dalam arsip kanal tersebut tercatat setidaknya tiga video dokumentasi Gus Dur saat memberikan mau’idhah hasanah di pondok pesantren yang didirikan oleh Gus Dillah.

Tiga video yang menjadi konten populer di antaranya:

  • Ketawa Bareng Gus Dur di Ponpes Pendopo Watu Bodo,
  • Gus Dur: “Tugas Negara adalah Menjaga Keragaman dan Kebhinekaan” – Watu Bodo Ujungpangkah,
  • Istighotsah Kubro KH Abdurrahman Wahid 2004 di Ponpes Watu Bodo, Ujungpangkah, Gresik.

Cinta Gus Dillah kepada Gus Dur tak lekang oleh waktu. Pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Lahir ke-20 Ponpes Watu Bodo, yang digelar pada 24 Februari 2010 dan dihadiri oleh KH Husen Ilyas, Gus Dillah tampak masih diliputi duka mendalam atas wafatnya Gus Dur.

Dalam tausiyahnya saat itu, Gus Dillah mengajak ribuan jamaah yang hadir untuk mengirimkan surah Al-Fatihah (tawasulan) kepada Gus Dur.

“Panjenengan tasih emut kaliyan Gus Dur? (Apakah Anda semua masih ingat dengan Gus Dur?)” tanya Gus Dillah. Jamaah pun serentak menjawab, “Tasih!” (Masih!).

“Saestu?!” (Benarkah?!) timpal Gus Dillah, bersyukur atas memori kolektif masyarakat terhadap sosok Gus Dur.

Tak hanya itu, Gus Dillah juga mengenang kenangan indah saat bersama Gus Dur, termasuk lantunan shalawat yang biasa didendangkan oleh cucu Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari tersebut.

“Monggo sareng-sareng kalihan kulo nggih… Allahumma sholli wa sallim ‘ala Sayyidina wa Maulana Muhammadin adada ma fi ‘ilmillahisholatandaimatanbidawamimulkillahi…” demikian dalam tayangan saluran YouTube HanVi.

Dengan wafatnya Gus Dillah, Gresik kehilangan satu lagi tokoh yang menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme, toleransi, dan warisan keilmuan ala Gus Dur.

Editor: Chidir Amirullah

Leave a comment