Kebudayaan, Watak Santri Gresik, dan Strategi Bercerita

Redaksi NUGres Redaksi NUGres
Ilustrasi: Ai Generated

Oleh: AHJ Khuzaini*

KOLOM KALEM | NUGres – Dalam kerangka pemahaman Nahdlatul Ulama, kebudayaan memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Telah kita pahami bersama, sejak awal perkembangan Islam di Nusantara, para ulama tidak hanya menyampaikan ajaran agama melalui ceramah an sich, tetapi juga melalui saluran kesenian dan cara hidup masyarakat.

Jamak kita ketahui, pola dakwah NU di Gresik tidak bisa lepas dari metode dakwah tokoh awal penyebaran Islam di Jawa, di era Kasunanan sejak Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri hingga era kasepuhan, terutama masa Kanjeng Sepuh atau Raden Adipati Soeryadiningrat (memerintah sekitar 1816–1855).

Hal ini menegaskan bahwa gerak dakwah NU, bukan hanya dekat dengan rakyat serta memperhatikan laku kehidupan masyarakat kecil (human interest), juga menggunakan berbagai sarana kebudayaan. Tradisi masyarakat tidak serta-merta ditolak atau dilawan, tetapi dipahami, diresapi kemudian diarahkan sehingga dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai ajaran Islam. Melalui dialog panjang itu, pada gilirannya mampu menciptakan kearifan lokal baru (Hibridisasi Islam).

Singkatnya, dalam kerangka tersebut, kebudayaan lokal tidak dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari hadirnya agama, malah justru menjadi ruang di mana nilai-nilai keagamaan dapat dipahami secara lebih dekat dengan kehidupan.

Keunikan Santri NU dan Warga Nahdliyin Gresik

Sepanjang amatan saya, santri di Gresik memiliki pengertian dan peran yang cukup menarik, serta sebaiknya tidak hanya berhenti sebagai label kota.

Dalam kajian sosial masyarakat Jawa, istilah santri pernah dijelaskan oleh antropolog Clifford Geertz sebagai salah satu tipologi sosial dalam masyarakat Muslim Jawa. Dalam penelitiannya, Geertz membagi masyarakat Jawa ke dalam tiga kecenderungan kultural, yaitu kelompok santri, abangan, dan priyayi.

Ringkasnya, dalam kerangka tersebut, santri dipahami sebagai kelompok masyarakat yang memiliki kedekatan kuat dengan praktik keagamaan Islam serta kehidupan pesantren. Santri digambarkan sebagai mereka yang menjalankan ajaran agama secara lebih ketat dan memiliki hubungan dengan jaringan ulama, pesantren, serta tradisi pendidikan Islam.

Namun, perkembangan masyarakat di berbagai wilayah Jawa menunjukkan bahwa realitas sosial tidak selalu sepenuhnya mengikuti tipologi tersebut secara kaku. Dalam banyak wilayah yang memiliki sejarah kuat dengan tradisi pesantren, makna santri berkembang menjadi lebih luas dan dinamis. Kawasan Gresik merupakan salah satu contoh penting dari perkembangan tersebut.

Sejak masa awal penyebaran Islam di Jawa. Tradisi pesantren berkembang tidak hanya dalam bentuk lembaga pendidikan formal, tetapi juga melalui jaringan pembelajaran agama yang hidup di beberapa lapisan. Paling besar tentu saja lapisan masyarakat pedesaan dengan segala kearifannya.

Di banyak desa, proses pendalaman sekaligus penghayatan nilai ajaran agama berlangsung melalui langgar atau musala yang dipimpin oleh kiai kampung atau guru ngaji. Di situlah bocah-bocah kampung belajar membaca Al-Qur’an, mempelajari dasar-dasar agama, serta mengikuti berbagai kegiatan keagamaan, sebab itu, dalam konteks sosial Gresik yang begitu luas dimensinya, penyebutan santri tidak selalu harus terlembaga, tetapi juga bersifat kultural dan sangat cair.

Hal menarik menarik lain, santri juga warga Nahdliyin di Gresik banyak yang berlatar belakang keluarga petani, nelayan, pedagang kecil, atau buruh industri. Hubungan ini membuat mereka memiliki kedekatan langsung dengan kehidupan dan pengalaman sehari-hari masyarakat yang relatif lebih unik dan kaya ketimbang santri dari daerah lain.

Di era perubahan besar-besaran di berbagai aspek kehidupan, yang dipicu oleh kemajuan inovasi teknologi digital, nampaknya santri berhaluan Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja) nampaknya perlu mengambil peran lebih aktif dan kreatif, dalam perannya sebagai penghubung antara tradisi keilmuan pesantren dengan kehidupan di masyarakat. Sehingga frasa “Santri Online” memiliki makna yang lebih punya bobot positif, dan tidak sekedar jatuh sebagai kelakaran belaka.

Senyampang itu, saya juga berharap warga Nahdliyin Gresik senantiasa memberi dukungan dan apresiasi yang seluas-luasnya bagi siapapun anak muda nahdliyin, yang memanfaatkan kemajuan teknologi dan saluran komunikasi digital. Khususnya dalam ini adalah proses produksi Film.

Film dan Strategi Kebudayaan

Mengapa pengkaryaan Film sangat penting, Jika pada masa sebelumnya, dakwah kultural dan pembelaan terhadap kaum lemah-pinggiran sering hadir melalui tradisi lisan, pagelaran kesenian, atau sastra yang umumnya ditembangkan, pada masa kini media visual seperti film dapat menjadi kekuatan baru.

Di atas telah sekilas kita paparkan bahwa Santri NU Gresik memiliki posisi yang unik, dalam konteks ini. Banyak santri Gresik hidup di tengah masyarakat yang mengalami berbagai perubahan yang sangat dinamis: perkembangan industri, urbanisasi, serta pengaruh media digital.

Kedekatan ini membuat mereka memiliki kesempatan untuk melihat berbagai pengalaman berikut persoalan sehari-hari masyarakat seakan tanpa jarak.

Melalui praktik membuat film, mereka dapat menghadirkan keunikan cerita-cerita atau konflik tokoh-tokohnya dalam bentuk visual yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat luas. Misalnya cerita tentang warga desa yang harus mendengar deru mesin dan suara pengumuman berita kematian sekaligus, seorang buruh yang terus bekerja di hari selamatan orangtuanya, memudarnya kemampuan masyarakat pesisir menghadapi laut, buruh tani perempuan dan sulitnya dia menyuruh anak perempuannya belajar, serta berbagai pengalaman masyarakat kecil dapat menjadi bagian dari narasi visual yang khas.

Workshop Film: Ruang Belajar Pemuda NU

Workshop film tidak sekadar dimaksudkan sebagai pelatihan teknis tentang kamera, editing, acting atau unsur produksi film. Workshop ini dapat diletakkan sebagai langkah awal untuk membangun kesadaran, bahwa kehidupan masyarakat sendiri adalah cerita yang penting untuk direkam.

Dari workshop film, dapat menjadi ruang bagi generasi muda NU untuk menyadari, bahwa mereka hidup dalam sebuah tradisi kebudayaan yang panjang, dan melakukan banyak dialog dengan zaman. Dengan cara ini, film yang akan dikaryakan, tidak hanya menjadi karya kreatif, tetapi juga menjadi arsip kebudayaan masyarakat.

Singkatnya, selain pelatihan teknis yang dilakukan secara simultan sedapatnya menjadi ruang bagi generasi muda untuk:

  • Menyadari pentingnya cerita kehidupan masyarakat,
  • Memahami nilai-nilai yang hidup dalam tradisi sosial,
  • Memanfaatkan teknologi digital sebagai medium kebudayaan, dan
  • Menghadirkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dalam bahasa visual.

Sekali lagi, melalui proses ini, generasi muda NU tidak hanya hanyut dalam buaian media digital, tetapi juga menjadi “Pencipta” kebudayaan yang mampu mengisahkan kehidupan masyarakatnya sendiri.

Dalam tradisi masyarakat yang tumbuh bersama nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, kebudayaan selalu menjadi bagian penting dari cara manusia memahami kehidupan.

Melalui praktik kebudayaan seperti film, generasi muda NU memiliki kesempatan untuk melanjutkan tradisi tersebut dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Film tidak hanya menjadi media visual, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat kembali kehidupannya sendiri dan menghadirkan pengalaman tersebut dalam percakapan yang lebih luas.

Dengan demikian, film yang kelak akan diproses dapat dipahami bukan hanya sebagai praktik kreatif, tetapi juga sebagai bagian dari strategi kebudayaan yang membantu masyarakat melihat, memahami, dan merawat kehidupan sosialnya sendiri.

*AHJ Khuzaini, Nahdliyin Gresik, Peminat Kajian Seni Budaya dan Karya Film

Leave a comment