Oleh: Ahmad A. Qosim*
KOLOM KALEM | NUGres – Pada setiap zaman, selalu ada yang menolak perpaduan apa pun, dengan alasan hilangnya “kemurnian”
Analoginya, saat ini, mendekati Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, beberapa kubu mulai menajamkan simpul-simpul kekuatan.
Muncul beberapa survei random yang entah valid tidak kurasi datanya, menyebut setidaknya ada 6 calon yang mencuat, antara lain; Gus Yahya (Incumbent), Gus Yusuf (Representasi PKB), Gus Salam (Representasi PKB), Gus Ipul (Sekjend), Gus Rozin, KH Marzuki Mustamar, KH Zulfa Mustofa, dan lain sebagainya.
Namun, dari sekian nama tersebut, baru Gus Salam yang secara gamblang mencalonkan diri.
NU dikenal sebagai ormas Islam terbesar, meski sejarah mencatat, ia pernah menjadi partai politik di tahun 1952, melebur, melakukan fusi dengan PPP hingga kembali menegakkan Khittah 1926 pada tahun 1984 di Muktamar NU Situbondo.
Meskipun demikian, persinggungan dengan partai politik lantas tak terhindarkan. Hingga satu kejanggalan yang mungkin awam dan menjadi pertanyaan bersama, “sejak kapan restu istana menjadi penentu Muktamar NU?”
NU dekat dan tidak dekat dengan Pemerintah, hemat kami, sah-sah saja. Asal DNA pemberdayaan umat tidaklah luntur.
Begitu halnya dengan mereka yang meyakini bahwa PKB misalnya sebagai representasi NU dan NU representasi PKB, sah-sah saja, asal tidak berpolemik dan mencampur-adukkan hal-ihwal satu sama lain, yang mungkin, secara teknis bisa semakin runyam. Hingga semua partai berhak untuk terlibat dalam arena Muktamar NU–secara tidak langsung.
Akan tetapi, bagi mereka yang meyakini bahwa “Khittah 1926” sebagai asas dasar dalam menjalankan NU, maka kemurnian terhadapnya adalah harga mati. Maka mencangkokkan kepentingan lewat perantara apa pun, lebih-lebih NU, barangkali suatu hal yang tak elok.
Toh pada teorinya, menurut Gus Dur, sebuah pertarungan biasanya dimenangkan oleh pihak yang menghendaki perluasan pemikiran dan perbuatan.
So, apa siapa yang memenangi Muktamar mendatang? Wallahu a’lām.
Jangan-jangan, musuh terbesar NU bukanlah politik, melainkan ketakutannya untuk menjadi independen.
*Ahmad A. Qosim, Nahdliyin Gresik



