Menghadapi banjir opini buzzer, kader IPNU IPPNU harus hadir dengan etika, bukan retorika
Oleh: Mohammad Nasih Al Hashas, M.Ag*
KOLOM KALEM | NUGres – Pembicaraan tentang jati diri kader IPNU IPPNU selalu bergandengan dengan wajah Nahdlatul Ulama yang majemuk. Dalam artikel saya di NUGres tanggal 20 Agustus 2025, saya mengurai ketegangan abadi antara dua hal: sami’nawa ata’na—kepatuhan penuh kepada ulama—dengan demokrasi rasional yang menuntut kebebasan berpikir dan menyampaikan pendapat. Kedua kutub ini kerap diposisikan berlawanan. Padahal, keduanya justru bisa saling melengkapi. Sami’na wa ata’na mengajarkan disiplin dan penghormatan pada otoritas keilmuan; sementara demokrasi rasional melatih kader untuk tidak pasif, tetapi aktif menguji gagasan. Tanpa kepatuhan, organisasi rawan tercerai-berai. Tanpa kritisisme, organisasi kehilangan vitalitasnya.
Sejarah Islam sendiri telah menunjukkan bahwa perbedaan ide tidak melemahkan, melainkan menghidupkan. Kita mengenal perdebatan panjang antara al-Ghazali dengan Ibnu Rusyd. Al-Ghazali, lewat Tahafut al-Falasifah, mengkritik keras filsafat yang dianggap mengancam kemurnian akidah. Ibnu Rusyd membalasnya dalam Tahafut al-Tahafut dengan argumen-argumen yang brilian. Meski saling berseberangan, keduanya tetap dikenang sebagai ulama besar yang memperkaya khazanah Islam.
Belajar dari sini, kader IPNU IPPNU mesti menyadari: organisasi hanya akan tumbuh subur bila di dalamnya hidup dialektika. Perbedaan tidak harus menghapus kepatuhan, sebagaimana kepatuhan tidak harus membungkam demokrasi. Jati diri kader adalah sintesis: patuh sekaligus kritis, taat sekaligus kreatif.
Tradisi Perbedaan dan Lahirnya Mazhab
Sejauh kita bersedia merawat ingatan, lahirnya mazhab-mazhab besar dalam Islam merupakan hasil keberanian untuk berbeda. Washil bin Atha’, murid Hasan al-Bashri, memilih pandangan yang bertolak belakang dengan gurunya terkait status pelaku dosa besar. Dari keberanian itu, lahirlah paham Mu’tazilah yang berpengaruh luas dalam sejarah pemikiran Islam. Hal yang sama dapat kita temukan dalam perdebatan kontemporer antara “Fikih Peradaban” yang digagas PBNU dan “Fikih Beradab” yang diperkenalkan KH. M. Najih Maimoen Zubair. Sekilas tampak sebagai pertentangan, namun hakikatnya adalah kelanjutan tradisi dialektika ulama. Keduanya sama-sama hendak menjawab tantangan zaman, hanya dengan pendekatan yang berbeda.
Maka, bagi kader IPNU IPPNU, perbedaan adalah sesuatu yang niscaya. Ia bukan sekadar kerikil penghalang, tetapi anak tangga untuk naik lebih tinggi. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Tidak boleh mengkhianati, mendustai, dan merendahkannya.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini menegaskan bahwa ukhuwah harus tetap menjadi prioritas. Perbedaan hanyalah jalan untuk menemukan kebenaran, bukan alasan untuk saling merendahkan.
Etika Beradu Gagasan: Dari Instropeksi hingga Kematangan Diri
Namun, perbedaan yang tidak diikat oleh etika akan menjelma perpecahan. Karena itu, setiap kader perlu memegang adab dalam beradu gagasan. Pertama, instropeksi diri. Pastikan niat dalam menyampaikan gagasan bukan demi popularitas atau ambisi pribadi, melainkan demi kemaslahatan bersama. Kedua, kedewasaan: berani mengakui kesalahan dan menerima kekalahan. Ketiga, bijak memilih ruang, waktu, dan media dalam menyampaikan kritik atau ide.
Kaidah ushul fiqh dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih menjadi rambu penting. Dalam hal memilih sikap, menolak kerusakan lebih utama daripada meraih kebaikan. Inilah mengapa Al-Qur’an melarang kita mencaci agama lain, agar tidak berujung pada cacian balik yang lebih merusak (QS. al-An’am: 108). Orang Jawa punya pepatah: Mikul Nduwur Mendhem Njero—angkatlah kebaikan, pendam aib sedalam mungkin. Pepatah ini tidak berarti menutup ruang kritik, tetapi mengajarkan cara menjaga marwah guru, organisasi, dan saudara seiman. Dengan adab ini, kader tidak hanya lahir sebagai intelektual, tetapi juga manusia yang beradab.
Kaderisasi di Era Digital: Menyapa Dunia Maya dengan Adab
Pedoman Kaderisasi IPNU (hal. 34) menegaskan empat agenda utama: penguatan ideologi, spirit sosial-kebangsaan, penguatan skill organisasi, dan literasi digital. Di antara keempatnya, literasi digital menjadi wajah baru yang harus benar-benar ditekuni. Dunia maya kini bukan sekadar ruang hiburan, tetapi medan utama di mana opini dibentuk, nilai dipertarungkan, dan bahkan karakter bangsa diuji. Pedoman Kaderisasi (hal. 43) malah lebih tegas lagi: paradigma kaderisasi berbasis digital adalah kebutuhan mutlak. Itu artinya, kader IPNU IPPNU dituntut hadir secara aktif di ruang-ruang digital, menghadirkan narasi positif tentang keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Kader bukan hanya konsumen pasif, melainkan produsen narasi yang mencerdaskan.
Namun di titik inilah masalah besar mengintai. Dunia maya kini dijejali oleh orang-orang yang menjual diri menjadi buzzer. Mereka berteriak lantang tanpa idealisme, menulis apa saja sesuai pesanan, bahkan kalau perlu memelintir fakta. Mereka tidak peduli benar atau salah, yang penting pesan sponsor sampai dan amplop digital masuk ke rekening. Ironisnya, banyak di antara mereka dulunya dikenal sebagai orang berpendidikan, bahkan dianggap aktivis. Tetapi ketika idealisme tergadaikan, yang tersisa hanyalah keberanian semu di balik layar. Orang Jawa sejak dulu sudah mengingatkan: ojo dadi wong seng wani silit wedi rai—jangan jadi orang yang hanya berani di belakang, tetapi ciut ketika berhadapan muka. Dunia buzzer penuh dengan manusia semacam ini: garang di balik akun anonim, namun kehilangan nyali di ruang nyata.
Fenomena ini bukan hal asing di Indonesia. Kita masih ingat istilah “BuzzerRp” yang sempat ramai menjadi sorotan publik, menggambarkan kelompok buzzer bayaran yang bekerja untuk menggiring opini politik. Ada yang membela habis-habisan tokoh atau partai tertentu, ada pula yang sengaja menyerang pihak lawan dengan fitnah dan ujaran kebencian. Hasilnya bukan pencerahan, tetapi polarisasi. Dunia digital yang seharusnya menjadi ruang dialog berubah menjadi arena adu hujat. Lebih jauh, kita juga melihat bagaimana isu agama kadang dipelintir demi kepentingan sesaat. Narasi keislaman digunakan bukan untuk menyatukan, melainkan memecah-belah. Padahal, agama seharusnya menjadi perekat, bukan alat transaksi politik.
Di titik inilah suara para kiai NU penting untuk digelorakan. KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) pernah berpesan, “Gunakan media sosial untuk menebar kasih sayang, bukan kebencian. Jangan merasa paling benar lalu menghujat yang lain.” Pesan ini seharusnya menjadi rambu bagi kita semua. Sementara itu, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengingatkan, “Medsos bisa jadi sarana dakwah yang luar biasa, tetapi juga bisa menjadi racun jika dipakai untuk fitnah dan adu domba.” Bahkan KH. Said Aqil Siradj menekankan pentingnya literasi digital sebagai jihad baru di era modern: “Kalau dulu kita berjihad dengan senjata, sekarang kita berjihad dengan pena, dengan ilmu, dan dengan narasi yang benar di dunia maya.”.
Maka, kader IPNU IPPNU harus mengambil posisi tegas: tidak boleh ikut-ikutan menjadi buzzer bayaran. Menjadi kader berarti menjaga martabat dan idealisme. Boleh berbeda pandangan, boleh mengkritik keras, tetapi jangan sampai menggadaikan akhlak. Media sosial harus menjadi ladang dakwah intelektual, bukan pasar gelap yang memperdagangkan kebohongan.
Lebih dari sekadar mahir teknologi, literasi digital adalah kesadaran moral. Ia menuntut kemampuan memilah informasi, menimbang dampak, serta menjaga akhlak. Jika kader sampai ikut terseret menjadi buzzer bayaran, maka ia bukan saja kehilangan identitas sebagai pelajar NU, tetapi juga mengkhianati mandat organisasi yang diwariskan oleh para kiai. Era digital adalah peluang emas. Tetapi ia juga bisa menjadi jalan kehinaan. Pilihan ada di tangan kita: memanfaatkannya untuk kebaikan, atau dimanfaatkan olehnya untuk kehancuran.
Menjaga Tradisi, Melahirkan Inovasi
Semua uraian di atas bermuara pada satu prinsip agung yang menjadi pedoman NU: al-muhafazhah ‘alal qadimish shalih wal akhdu bil jadidil ashlah. Prinsip ini mengajarkan kita untuk menjaga tradisi lama yang baik, sekaligus merangkul hal baru yang lebih baik. Dengan prinsip ini, kader tidak jatuh pada konservatisme beku, dan tidak pula terjebak dalam modernisme buta. NU, sejak berdirinya, selalu bermuhasabah: memperbaiki kesalahan, menyempurnakan kekurangan, dan mengembangkan capaian. Begitu pula kader IPNU IPPNU. Ia tidak cukup hanya menjadi pewaris tradisi, tetapi juga harus menjadi pembaharu yang melahirkan inovasi.
Menjadi kader berarti siap berjalan di dua dunia: dunia tradisi yang berakar, dan dunia digital yang bergerak cepat. Ia harus mampu menengok ke belakang untuk mengambil hikmah, sekaligus menatap ke depan untuk merumuskan masa depan. Ia harus menyadari bahwa perbedaan adalah bahan bakar, adab adalah remnya, dan inovasi adalah arah jalannya. Dengan jati diri seperti ini, IPNU IPPNU akan tetap relevan dalam setiap zaman. Ia menjaga tradisi, sekaligus melahirkan inovasi. Ia berakar pada tanah, tetapi juga berbuah untuk masa depan.
Refleksi
Kaderisasi IPNU IPPNU bukan sekadar daftar kegiatan dalam pedoman, melainkan jalan panjang pembentukan manusia. Dari forum kecil hingga dunia digital yang luas, kader dituntut menjaga akhlak, menumbuhkan intelektualitas, dan memperkuat komitmen kebangsaan.
Dunia buzzer telah memberi pelajaran pahit: ketika akhlak ditanggalkan, ilmu pun menjadi alat manipulasi; ketika idealisme digadaikan, organisasi hanya menjadi kendaraan ambisi. Karena itu, kader IPNU IPPNU harus berani berbeda—berani menjaga adab, berani menolak pragmatisme, dan berani hadir dengan wajah yang jernih di tengah hiruk-pikuk opini palsu.
Era digital bukan kutukan, ia adalah anugerah. Tetapi anugerah hanya berarti jika dipakai untuk menebar manfaat. Inilah jihad kader hari ini: menulis dengan tanggung jawab, berbicara dengan kebijaksanaan, dan bersikap dengan kesetiaan pada nilai.
Jika kader mampu menjadikan pedoman kaderisasi sebagai arah gerakan nyata, maka IPNU IPPNU tidak hanya mencetak pelajar cerdas, tetapi juga generasi yang tangguh menghadapi zaman. Generasi yang tidak tunduk pada godaan sesaat, tetapi setia pada perjuangan panjang untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan.
*Mohammad Nasih Al Hashas, M.Ag, Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Gresik 2023 – 2025

