GRESIK | NUGres – Siapa sangka, dari gagasan sederhana anak-anak muda pesisir, lahirlah sebuah peristiwa budaya yang menyatukan semangat warga, Pasar Segoro.
Bukan sekadar pasar ala kadarnya, melainkan panggung ekspresi, pertemuan lintas generasi, dan pengingat bahwa desa punya cara istimewa merayakan hidup ini dipersiapkan tak kurang dari 6 bulan lamanya.
Sementara, berlatar suasana Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Gresik, komunitas muda yang menamai diri mereka Ngayom Jagat menyulap sebuah area sederhana menjadi ruang budaya yang hidup.
Dibalut semangat kolektif, Pasar Segoro ini digagas menjadi lebih dari tempat jual beli—ia menjelma sebagai festival yang sarat makna, memadukan kuliner, seni, budaya dan kebersamaan dalam satu tarikan napas.
Di malam pembuka, Senin, 30 Juni 2025, ratusan pasang mata menyaksikan alunan musik keroncong, dentuman Reog Ponorogo, dan pertunjukan lokal lainnya menggema di jantung desa.

Cahaya remang dari bingkai Damarkurung berpadu dengan tawa anak-anak, aroma jajanan pasar, dan langkah kaki warga yang datang tak hanya dari Campurejo, tapi juga desa-desa sekitarnya.
Di tengah keramaian, Fatikin, salah satu inisiator, menatap haru. Ia tak menyangka dari komunitas Teater Tawon di Madrasah Aliyah Tarbiyatul Wathon—tempat ia dan kawan-kawan awalnya bergiat, berkesenian, muncullah ide untuk menciptakan ruang temu yang lebih luas.
“Pasar Segoro ini kami rancang bersama-sama. Kami ingin ada titik terang dari desa, yang lahir dari warga dan untuk warga,” ujarnya penuh semangat.

Sebanyak 27 stand kuliner dan kerajinan lokal meramaikan Pasar Segoro. Mayoritas pelaku usaha adalah ibu-ibu desa yang sehari-hari jarang tersorot. Kini, mereka tampil percaya diri, berdiri sebagai pilar ekonomi keluarga sekaligus penjaga rasa lokal.
“Anak saya sampai bantu jualan, ikut senang. Ini acara yang bikin semangat,” tutur salah satu pedagang, sambil melayani pembeli dengan senyum.
Kehadiran tokoh-tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga budayawan turut memberi warna. Namun, lebih dari itu, momen ini menjadi bukti: jika diberi ruang, warga bisa tumbuh dengan caranya sendiri—kreatif, guyub, dan membumi.
Fatikin menambahkan harapannya agar Pasar Segoro bukan sekadar event musiman, tapi menjadi agenda rutin yang menyalakan semangat kolektif masyarakat pesisir.
“Kami ingin Pasar Segoro jadi cahaya dari tepi laut. Tempat berkumpul ide-ide baik, tempat orang merasa punya rumah di tanah sendiri,” katanya lirih, penuh harap.
Dari Campurejo, sebuah cerita kecil telah ditulis. Cerita tentang anak-anak muda yang tak menunggu perubahan dari luar, tapi memilih bergerak—membuat panggung sendiri, dengan lampu dan cerita yang mereka nyalakan bersama.
Editor: Chidir Amirullah

